Tuesday, May 30, 2006

Dari Diary Kang Agus - A Story Of My Life - Emergency Edition

Dari Diary Kang Agus - A Story Of My Life
Emergency Travel Edition

Agus Suyono
===== ===== ===== =====

Ada sedikit rasa malas, dan takut juga sih, waktu komandan Irman
memerintahkan aku "jalan" ke jogja. Jogja yang baru saya diguncang gempa
5.9 sr. Pak Irman mengerti ketakutanku. Pak iramn paling tahu aku kurang
bisa membendung air mata kalau melihat situasi yang seperti itu. Sudah
berapa kali dia memergoki aku menangis di pangkuan kang Wira sewaktu
kami bertugas ke aceh. Dia hanya tersenyum ke kang Wira, dan berlalu.

Aceh, satu setengah tahun yang lalu. Kami bertugas disana membersihkan
puing puing sisa tsunami. Sesekali kami masih menemukan jenazah korban.
Sayang, masyarakat setempat agak alergi membantu kami pekerja sosial.
Mereka lebih senng duduk manis menunggu bantuan datang. Aku tak mau
kembali kesana lagi, kecuali atas perintah dinas.

Di aceh, aku menutup hatiku saat bertugas. Aku menutup peraaanku, tak
ada air mata yang bercucuran saat siang hari, namun malamnya, ketika aku
masih harus bekerja, diam diam aku mengucurkan air mata. Wira hanya
melihatku, memberikan sentuhan terbaik yang dapat diberikannya, dan aku
kembali bekerja, salam kesedihan.

Ke jogja aku tidak ditemani kang Wira, aku bertugas mengantarkan
beberapa perangkat komunikasi ke beberapa perwira teman komandan Irman.
Alkom mereka rusak tertimpa bangunan. Aku pergi bersama Yogi. Seorang
tamtama supir.

Aku kenal Yogi sejak beberapa tahun yang lalu, bahkan aku dan kang Wira
pernah mencicip tubuhnya. Seorang teman chatting berkata, "kalau nanti
kamu main main di jalan. Bantuan terlambat juga nggak apa apa". Aku
hanya bisa tertawa.

Kami berangkat sekitar jam 3 sore. Kang Wira memastikan aku berangkat
dalam kondisi sadar dan sehat. Bahkan dia sendiri yang mengecek mataku.
Perjalanan ke jogja kami lewati dengan santai, namun begitu memasuki
wilayah purworejo, intensitas ketegangan kami meningkat. Mulai ada rumah
rumah yang retak, bangunan setengah roboh. Maupun kondisi jalan yang
sedikit pecah.

Memasuki Wates. Aku tak dapat menahannya lagi. "Yog, boleh kupegang
tangamu?"

"silahkan bang."

Yogi memberikan tangannya untuk kugenggam. Erat sekali. Samping kiri
kana, kulihat banyak sekali rumah rumah yang hancur. Aku hanya bisa
menghela nafas, berusaha memejamkan mata. Sambil bersaha menutup perasaan.

"abang nggak apa apa kan?"

"nggak apa apa yog, nggak apa apa."

Yogi tampak khawatir, mungkin karena aku menggenggam tangannya dengan
sangat kuat.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di tempat tujuan pertama. Seorang
kolonel. Antena komunikasinya jatuh pada saat terjadi gempa. Aku
mengambil antena baru dari dalam truk dan memasangnya. Setelah selesai,
kolonel menawarkan aku untuk istirahat sejenak, sebelum melanjutkan
perjalanan.

Halus aku menolak, dengan alasan pekerjaanku masih banyak. Sebenarnya,
aku ingin pekerjaan ini cepat selesai agar aku bisa keluar dari kota ini.

Empat perwira lain aku sambangi, radio komunikasi, instalasi antena,
bahkan sebuah dish wavelan receiver aku pasang dalam waktu kurang lebih
12 jam.

Mendekati jam 11 siang, aku bersiap menuju tujuan terakhir. Yogi menolak
memberikan alamat tujuannya.

"kang Wira memerintahkan saya untuk memakaikan ini ke abang."

Wira tahu aku semakin tegang. Aku tahu daerah berikutnya mungkin daerah
yang kerusakannya paling parah. Wira memerintahkan aku menggunakan
penutup mata.

"kita jalan bang."

Sekitar satu jam, kami tiba di tujuan terakhir. Aku dituntun turun dari
mobil, dan menuju tempat yang sedikit gelap. Yogi membuka penutup mataku.

Seorang mayor ada di depanku, dia mengeluh tidak berfungsinya baterai
alkom, dan koneksi jaringannya. Aku dibawa ke ruangan komunikasinya.
Rumahnya gelap sekali, hanya remang remang cahaya saja. Jendelanya
banyak yang ditutup. Yogi minta izin untuk istirahat. Mayor pergi untuk
mengecek anggotanya.

Di ruangan itu aku bekerja kurang lebih setengah jam, sebelum akhirnya
memutuskan untuk mengganti antena penerimaan luar. Aku berjalan ke luar
rumah dan...

Aku pingsan.

===== ===== ===== =====

"bang, bang... Bangun bang..."

Yogi mengguncang guncang tubuhku. Aku sakit kepala, karena sewaktu
jatuh, aku membentur tanah.

"gi, keluarkan antena, pasang, dan ayo keluar dari sini."

Aku menunduk, tak berani melihat pemandangan di sekitarku. Bayangan saat
bertugas di aceh kembali datang, flashback, dengan sangat cepat. Aku
masuk ke mobil, dan mulai menangis.

Beberapa menit kemudian, Yogi kembali dan melaporkan dia sudah memasang
antenanya, tapi tak tahu cara menghidupkannya.

"beritahu aku saja bang, biar aku yang menyelesaikannya."

Ada konfigurasi antena itu yang merupakan rahasia jabatan. Aku tak boleh
memberitahu Yogi. Aku mengusap air mataku, dan kemudian keluar untuk
menyambungkan antena dengan jarkom. Mengeset frekuensi. Saat itu...

"butuh bantuan mas?"

Seorang pria, tampaknya warga setempat, menawarkan aku bantuan. Berkat
bantuan dia, pekerjaanku selesai dengan waktu yang lebih singkat.

"kami memang habis dilanda bencana mas, tapi kami mau jalan terus.
Bantuan yang kami butuhkan hanya untuk sesaat saja. Kalau kami sudah
kuat, kota sudah mulai hidup, kami akan kembali kerja. Membangun rumah
dan hidup kami yang hancur.

Mas nggak usah terlalu mengkhawatirkan kami. Tolong rawat kami untuk
sementara saja."

===== ===== ===== =====

Delapan jam kemudian, aku sudah sampai kembali di gerbang markas.
Sepanjang perjalanan aku selalu menggenggam tangan Yogi. Bahkan aku
tidak peduli ketika aku menangis lagi di pangkuan kang Wira ketika di
kantor...

Pak Irman datang, "maafkan saya ya gus, tapi hanya kamu yang bisa saya
andalkan."

"nggak apa apa pak", aku menjawab lemah...

Kang Wira terus memelukku. Di bawah pandangan mata teman temanku, usapan
komandanku, dan pelukan kang Wira, aku menangis mengingat kondisi kota
bantul, tempat terakhir yang aku kunjungi.

Tapi kali ini, aku ingin kembali kesana, untuk membantu meringankan
beban mereka. Sampai saatnya tiba.

--
Adi D. Jayanto
"Small chance could move the world"

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...