Monday, May 8, 2006

KA Kertajaya Menjadi KA Marinir

KA KERTAJAYA MENJADI KA MARINIR
Bertempat di stasiun Pasarsenen (24/3) telah ditandatangani perjanjian
kerja sama antara PT KA dan TNI – AL dalam hal pengangkutan prajurit
Marinir dengan KA Kertajaya secara terkoordinir. Dengan kerjasama ini,
pengawasan perilaku prajurit Marinir di atas KA yang selama ini
”meresahkan” kita sudah dapat diatasi. Kalaupun masih ada yang melakukan
hal yang tidak kita inginkan dan bertentangan dengan ketentuan yang
dipersyaratkan bagi penumpang, kita bisa melaporkan kepada Panglima
Armabar yang sudah sepakat untuk membantu penertibannya. Langkah ini
merupakan bentuk pedulinya manajemen terhadap keluhan berbagai kalangan
pegawai yang selama ini ”krepotan” dan nyaris tak berdaya bila
berhadapan dengan mereka. Secara manusiawi rekan kita yang bertugas di
lapangan mungkin bisa mentolerir, tetapi secara aturan hal ini bisa
mengendurkan penegakan aturan atau Law Enforcement.
Dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama antara PT KA dan Panglima
Armabar, maka KA Kertajaya Pasarsenen – Surabayapasarturi layak disebut
sebagai KA Marinir. Sebab, selain satu kereta di bagian belakang
diperuntukkan bagi prajurit Marinir, keamanan KA selama dalam perjalanan
juga digaransi oleh prajurit Marinir yang di dalam klausal perjanjian
juga menyebutkan kewajibannya untuk ikut mengamankan KA dari hal-hal
yang tidak diinginkan. Petugas kita, baik Kondektur maupun petugas PS
pun lebih mudah dalam menjalankan tugasnya di atas KA. Gerbong terakhir
yang diisi pasukan Marinir tidak perlu diperiksa lagi, karena sudah
dipastikan para prajurit Marinir kita itu sudah membeli tiket secara
terkoordinir oleh Panglimanya secara langsung. Alangkah mulianya Pak
Panglima, yang tidak rela prajuritnya disebut-sebut telah ”meresahkan”
petugas KA karena naik KA tanpa membeli tiket.
Sikap disiplin yang digerakkan dari kemuliaan Panglima Armabar ini
diharapkan dapat kita sambut dengan sikap konsisten dalam menegakkan
peraturan. Artinya, jangan sampai ada lagi petugas kita yang menerima
pembayaran dari penumpang secara tidak sah. Kalau ada penumpang KA
Kertajaya yang tidak memiliki tiket, petugas harus mengambil tindakan
tegas sesuai ketentuan yang berlaku. Bayar dua kali harga tiket, atau
diturunkan di stasiun pertama tempat KA berhenti. Sebab, akan sangat
memalukan bila ada petugas yang menerima pembayaran dari penumpang di
atas KA secara tidak sah dan ini diketahui oleh para prajurit Marinis
yang sudah didisiplinkan oleh Pak Panglima Armabar. Kalau itu terjadi,
maka giliran Pak Dirop melalui para Kasiop untuk mengambil tindakan
tegas tanpa kompromi. Tetapi, mampukah ??
Sebab, budaya permisif dan toleran sudah mengakar di kalangan kita.
Kalangan bawah, kaum minoritas seolah ditolerir menyimpang, dengan dalih
di tingkat atas hal yang sama juga terjadi hanya saja tidak kasat mata.
Kata-kata, ”Ah berapalah yang didapatkan mereka, toh lebih besar
dibandingkan dengan yang didapat oleh kalangan pejabat,” sering kali
kita dengar sebagai fenomena pembenaran atas tindak penyimpangan.
Karenanya, agar semuanya bisa bergerak pada orbitnya, tingkat
kesejahteraan pekerja merupakan kata kunci yang paling menentukan. Kita
tidak bisa berharap agar setiap kita menggunakan ”inner” jernihnya tanpa
ada stimulus yang sepadan. Sebab kita ini hanya manusia biasa, yang
selain diberi akal dan pikiran juga nafsu. Kita bukan malaikat. Hal ini
juga harus menjadi bahan renungan kita bersama. Semoga

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...