Monday, March 20, 2006

Ketika kamera merekam terlalu banyak...

Beberapa hari yang lalu, mudah mudahan dikau tidak sempat menyaksikan
"Tayangan Tersadis di Televisi". Karena, apa yang dikau saksikan waktu
itu, sangatlah... maaf saya gak tahu apa kata yang harus dituliskan
disini...

Saya (dan beberapa orang lain) menyebut tayangan tersadis di televisi,
karena saya belum pernah melihat tayangan tersebut, di televisi manapun
di dunia ini. Baru kali ini di Stasiun Televisi Siaran di Indonesia,
saya menyaksikan tayangan tersadis tersebut.

"Dalam mengulas atau merekonstruksi peristiwa traumatik (misalnya
pembantaian, kerusuhan sosial, bencana alam) lembaga penyiaran harus
mempertimbangkan perasaan korban, keluarga korban, maupun pihak terkait
dengan peristiwa traumatik tersebut."
<Pasal 25 - P3SPS>

"Tayangan tersadis di Televisi" (TTdT) menayangkan dua dari empat korban
kerusuhan Abepura, dihajar dengan...

"Adegan kekerasan tidak boleh disajikan secara eksplisit."
<Pasal 33 butir a - P3SPS>

Stop kalau begitu, karena sequence tersebut seharusnya tidak boleh
disajikan secara eksplisit. Namun saya tetap saja telah menontonnya.
Hanya rasa miris yang saya dapat. Saya tetap diam di depan televisi
sepuluh menit setelah tayangan tersebut.

Yang ada dalam otak saya... "how could they... how could they...", ya,
bagaimana manusia tega membunuh sesama manusia, sesama bangsanya
sendiri? bagaimana pula ada tayangan seperti itu? bagaimana jurnalis
yang ada di lapangan, mampu merekam semua gambar, (mungkin) tanpa
berniat sedikitpun menolong dua korban yang sedang mereka ambil
gambarnya tersebut?

"Durasi dan frekuensi penyorotan korban yang eksplisit harus dibatasi"
<Pasal 33 butir e - P3SPS>

Malam harinya saya tidak bisa tidur, bukan karena terbayang oleh
sequence tersebut. Ternyata, sequence tersebut diulang kembali. Oleh
stasiun televisi yang sama. Kali ini tanpa embel embel "Tayangan yang
anda saksikan, mungkin mengganggu anda."

Ketika kamera merekam terlalu banyak... yang ada hanyalah masalah.
Ketika kamera merekam terlalu banyak detik detik korban di<censored> di
Abepura, yang ada di benak saya, dimana naluri kemanusiaan seorang
wartawan harus diletakkan.

Eko Sudiyanto pernah melontarkan masalah ini di kelas Jurnalistik Radio.
Dia sendiri, tidak berani membuat kesimpulan, mana yang lebih baik,
merekam atau menolong.

"Saat saat kematian tidak boleh disiarkan"
<Pasal 33 butir g - P3SPS>

Kita tidak pernah tahu, kedua korban yang terekam, masih hidup, atau
sudah meninggal. Adakah kesempatan untuk mereka selamat, apabila
jurnalis mau meninggalkan kameranya untuk menolong mereka?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Esoknya, tiga jurnalis, diambil kartu pers-nya, dirusak kameranya dan
dipukuli oknum anggota brimob. Apakah ini balasan bagi jurnalis yang
tidak memiliki nilai kemanusiaan? Saat kita punya kesempatan untuk
menolong seseorang, kita tidak melakukannya.

Serentak, tiga stasiun televisi, yang merasa dirugikan, membuat berita
tersebut. Bahkan, salah satunya, mengangkat berita tersebut, seakan
jurnalis mereka tidak bersalah apa apa. "Demo menentang kekerasan
terhadap pers merebak dimana mana", kata mereka, menutupi berita 4
korban, menutupi esensi masalah kerusuhan yang sesungguhnya.

Sekarang, jurnalis harus bersyukur, anggota brimob yang bertugas disana
sudah dirotasi.

Ketika kamera merekam terlalu banyak, kamera bersalah karena kamera
memberangus nilai nilai kemanusiaan, sehingga manusia lupa menolong
sesama manusia.

--
Adi D. Jayanto
"Save Life First"

Saturday, March 18, 2006

After Goo:) news, come Very Bad News

17:04

34 menit yang lalu trans tv menyiarkan berita terkininya. tentang kerusuhan di universitas cendrawasih. anchor sudah mengingatkan kalau sequence akan berisi kekerasan, usirlah anak anak dari ruang tv untuk sementara. alhamdulillah, saya bukan anak-anak lagi, jadi walau ibu saya menonton juga di samping saya, dia tidak mengusir saya dari ruang tv.

hanya 5 menit sebelum itu, saya masih tertawa tawa bisa menikmati good news, yang hanya berisi berita berita baik saja. suatu ironi 5 menit kemudian menjadi saat buruk bagi saya.

sequence dan narasi memperlihatkan kerusuhan yang seingat saya terakhir saya lihat tahun 1998 yang lalu. kerusuhan yang benar benar kerusuhan. sudah lama saya tidak melihat kerusuhan seperti itu, dan saya tidak berencana sama sekali untuk pernah melihat kerusuhan seperti itu.

mahasiswa universitas cendrawasih, menurut trans tv, telah merencanakan kerusuhan yang mengakibatkan 3 polisi meninggal dunia. kerusuhan sudah berlangsung selama 2 hari. saya... tidak mengerti, kenapa mahasiswa, manusia yang seharusnya lebih mengutamakan cara cara damai untuk melakukan suatu unjuk rasa, bisa berbuat hal demikian. kabar 3 polisi yang disiksa lalu dibunuh sungguh membuat hati saya miris. mahasiswa... bisa bisanya mereka menyebut diri mereka mahasiswa.

banyak yang berkata, papua sudah jenuh oleh tekanan dari freeport mc moran. papua hanya kebagian sepersekian dari keuntungan yang dihasilkan freeport mc moran (dan pemerintah pusat). tapi... apakah hal seperti itu bisa membuat anda gelap mata? kalau aksi kerusuhan dilakukan oleh masyarakat, mungkin saya bisa memaklumi, rakyat yang lapar bisa melakukan apa saja.

apakah seperti ini wajah mahasiswa dari papua? apa yang anda lakukan, sangat tidak manusiawi. di jakarta, anda melempari plaza 89, mencederai 1 orang. di papua, anda membunuh 3 polisi. apakah kami masyarakat indonesia harus mendukung aksi aksi seperti ini? aksi yang seharusnya bertujuan baik untuk menyelamatkan papua, malah anda cederai dengan melakukan hal hal yang... suku terdalam dan terasing disana pun mungkin masih berpikir 1000 kali untuk melakukannya.

mahasiswa papua, mungkin karena saya bukan orang papua, maka saya tidak mengerti dan tidak pernah mengalami yang katanya ada tekanan, ancaman, penculikan oleh polisi dan militer disana. tapi sungguh, apa yang anda lakukan, akan merusak perjuangan anda sendiri.

di milis ini, kami sedang berusaha agar anda tetap bisa memakai koteka, tetap bisa memakai pakaian adat istiadat anda. tolong bantu kami, agar kami tetap bisa mempercayai anda, karena kami masih percaya, anda masih mau menjadi bagian dari indonesia.

--
Adi D. Jayanto
"Safe Life First"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...