Tuesday, September 22, 2009

Bowo dan Bolot.

Hari ini (kemarin sih…) ada pembagian sembako di Balai Kota Jakarta. Dan ~seperti biasa~ pembagian sembako itu berakhir ricuh. Pembagian sembako itu diprakarsai alias dilaksanakan oleh Pemerintah Jakarta, katanya untuk membantu keluarga miskin. Dan kericuhan mulai terjadi, ketika sang gubernur, Fauzi Bowo, meninggalkan tempat acara.

Here are the problem. Kebetulan baru sekitar H-3 atau H-4 lebaran gw sama pacar ngomongin betapa ngamuknya Fauzi Bowo ditiru atau sebenernya sih diparodikan oleh komedian Bolot dan diubah namanya menjadi Fauzi Bowo. Pertamanya, katanya Fauzi Bowo ga marah diparodiin, tapi setelah beberapa bulan menjadi gubernur, kemudian “mendekat” ke masyarakat, Fauzi Bowo ngambek abis ketika ada anak kecil yang memanggilnya dengan nama Fauzi Bolot.

Salah nggak sih, anak kecil itu?

Sebenernya, bagaimanapun anak kecil enggak salah. Dia hanya dapet influence dari orang orang di sekitarnya, benda benda di sekitarnya, including the television. Lalu bagaimana anak kecil itu bisa ngomong kalau yang dateng itu Fauzi Bolot, bukan Fauzi Bowo? Kesampingkan masalah televisinya. Fokus ke Bowo dan Bolot.

Bolot, komedian pendek, yang tingginya juga kalo nggak salah hampir setara dengan Bowo, memiliki branding untuk sedikit tuli, sedikit buta, dan sedikit (kalo ga disebut hanya mengulang) bicara, seperti Three Wise Monkey. Sedangkan Bowo, politikus, gubernur DKI Jakarta.

Bowo tentu saja berbeda secara fisik dengan Bolot. Tapi, apakah mungkin Bowo berbeda secara sifat dengan Bolot? Kalau saya berani bilang, Bowo tak jauh beda dengan Bolot. Bolot, komedian, dibayar untuk melawak, dengan brand-nya tadi yang sedikit budek, sedikit bisu, dan sedikit buta. Sedangkan Bowo, dibayar untuk tidak budek, tidak buta, dan tidak bisu, apalagi kalau soal masalah kemasyarakatan.

Sayangnya (setidaknya dalam pembagian “zakat” ini), Bowo identik dengan Bolot. Sudah puluhan kali pembagian zakat berakhir ricuh. Di Pasuruan (cmiiw) bahkan sampai 21 orang tewas. Apakah Fauzi Bowo tidak pernah mendengar kasus ini? Apakah Fauzi Bowo tidak pernah melihat ke televisi tentang kasus ini? Apakah Fauzi Bowo nggak pernah ngomongin kasus ini dengan bawahannya? Heran banget jika Fauzi Bowo sampai tidak pernah mendengar, melihat, atau bicara tentang kasus ini. Pemerintahannya, yang harusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, menjadi tercoreng karena kasus ini.

Anak kecil itu mungkin ga salah menyebut Fauzi Bolot. Karena si Fauzi, seorang politikus, gubernur Jakarta, dibayar oleh hasil pajak, pura-pura tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pernah berbicara tentang masalah rakyatnya.

Semua itu berawal dari persepsi. Persepsi yang diulang terus menerus bisa menjadi kenyataan. Jika Bowo tidak mulai melihat, mendengar dan berbicara, tak lama lagi julukan Bolot, akan menjadi (nampak) permanen. Bukan hanya anak kecil yang bicara, tapi orang dewasa yang biasanya backtalking akan bicara terang terangan.

Mau pak Fauzi Bolot… eh Bowo?

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...