Sunday, September 20, 2009

Kisah Encik Nurdin: Mati Sendirian.

Besok lebaran, kata Departemen Agama. Aku sendirian, pacar lagi ngambek dan ga mau ketemuan. Heheh…

Encik Nurdin yang mati kemaren pasti lebih merasa sendiri lagi, sekarang dia sedang di peti sejuk (a.k.a. kulkas). Dari berbagai story yang muncul di media massa, kematian cik Nurdin ini ga jauh seperti matinya seorang kucing. Dan ada yang lebih nge-bete-in lagi tentang cara matinya Cik Nurdin. Mari kita bongkar satu satu.

Kata ketua RT tempat Susilo nyewa rumah, dan gw yakin dia hanya membaca press release dari POLRI yang memang disiapkan untuk dia supaya enggak melebar kemana mana, dan berdasarkan story dari tetangga kanan kiri, Cik Nurdin ini mati mengenaskan sendirian. Begini ceritanya…

Ketika cik Nurdin mengebom kawasan Kuningan, Jakarta untuk yang kedua kalinya, tampaknya hukuman sosial dari masyarakat kali ini sangat luar biasa. Dibanding dua kali pengeboman yang sebelumnya, yang hanya menghasilkan efek “lokal” semata, efek pengeboman kali ini berpengaruh sangat besar bagi psikologis orang-orang desa.

Orang-orang desa yang dulu tidak tahu menahu, dan mungkin juga tidak mau tahu, sekarang menjadi antipati kepada apapun yang berbeda. Kebiasaan berbeda, wajah yang berbeda, apalagi, cara agama yang berbeda. Mata semua orang menjadi lebih awas terhadap Encik Nurdin. Selain karena hadiah 1M yang menanti siapapun yang bisa memberi informasi tentang Nurdin, tapi juga karena mereka sudah bosan. Plus ditambah lagi kelakuan negara Malaysianya sendiri terhadap Indonesia.

Encik Nurdin Tidak Punya Teman

Ketika semua menjauh, Nurdin kemudian menjadi sangat sendirian. Orang orang yang (nyaris) percaya padanya menjauh. Merekrut orang baru pun menjadi sangat sulit dibanding sebelumnya.

Mungkin hal ini yang mengakibatkan Encik Nurdin ditemukan mati bersama 3 temannya. Yakin itu temannya? Kalo aku ga begitu yakin. Ada beberapa kemungkinan encik Nurdin mengambil tiga teman lama tersebut. Encik Nurdin kehabisan teman, atau Encik Nurdin memaksa 3 orang itu menjadi temannya.

Kalaupun ketiga orang itu merupakan teman encik Nurdin, ada satu hal yang sangat mengganggu. Dikatakan Encik Nurdin adalah orang yang pertama mati dalam rumah persembunyian itu. Mayat encik Nurdin tergeletak di ruang tamu yang lokasinya tentu saja relatif berada di depan rumah. Namun ketika penyerbuan selesai, Nurdin ditemukan betumpuk di bagian belakang rumah.

Dan yang lebih parah, “teman-teman” Nurdin, seperti yang juga sering dilakukan ~ so called ~ pejuang Palestina, menjadikan Nurdin sebagai tameng manusia. Yakin itu temennya?

Yang pasti, Encik Nurdin terdesak. Ga punya temen lagi. Matipun masih dijadiin tameng buat melindungi “temen-nya”. Tapi merupakan sebuah hal yang pantas untuk seorang yang bagian otak untuk berpikir manusiawinya telah rusak.

Selamat buat Detasemen Khusus 88.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...