Saturday, September 26, 2009

Miyabi Ke Indonesia, Ancaman Diskriminasi Oleh Jepang (atau bahkan Dunia)

Jika Miyabi sampai dilarang ke Indonesia. Gw pribadi melihat ada beberapa dampak yang sangat signifikan, bagi Warga Negara Indonesia.

Semua setuju (at least 99% lah…) kalau agama merupakan preferensi pribadi yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Jadi, negara TIDAK BERHAK MENGATUR seseorang untuk menjalankan, atau tidak menjalankan, patuh atau tidak patuh, terhadap aturan agamanya. Lain di Indonesia. Sekelompok pria tua berjanggut, yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia, tampaknya ingin terlihat lebih merasa berkuasa dibanding Pemerintah.

Mereka (MUI) menolak kedatangan Miyabi, dengan alasan, Miyabi adalah bintang film porno di negara asalnya. Oh yeah. Diskriminasi. Sebuah alasan yang sangat pinter banget untuk menunjukkan bahwa ISLAM TIDAK MENGENAL TOLERANSI.

Di Indonesia, Miyabi akan main film standar, yang ga ada hubungannya dengan kegiatan esek-esek, yang tentu saja sangat tidak melanggar UU manapun di Indonesia. Intinya, MUI menolak kedatangan Miyabi karena preferensi pribadi, bukan karena DPO Interpol, bukan karena ada masalah hukum.

Jika suatu negara berani menolak kedatangan “turis” karena preferensi pribadi, maka ini sudah bisa dinamakan diskriminasi. And I know, Islam juga sering bermasalah dengan diskriminasi. Lalu, bagaimana kalau WNI ingin mengunjungi Jepang?

Jika Miyabi sampai dilarang ke Indonesia atas dasar “tidak sepaham”, maka Jepang bisa saja memberlakukan aturan yang sama. Dalam bidang kesenian misalnya, yang katanya agak nyerempet porno. Trio Macan dilarang manggung di Jepang. Atau bagaimana jika nanti nyerempet ke masalah yang remeh temeh cuma berdasar suka-tidak suka? Begini contohnya:

Pria Indonesia dikenal ramah, sopan terhadap wanita, mau bekerja sama. Pria Jepang dikenal ramah dan sopan, hanya ketika sebelum menikah dan bekerja. Ketika sudah menikah dan bekerja, pria Jepang menjadi judes. Dengan alasan ‘sudah capek di kantor’ pria Jepang bisa membiarkan bayi menangis karena tugas mengasuh bayi adalah tugas istri. Bandingkan dengan pria Indonesia, yang sesegera mungkin mengambil anak itu, dan kemudian mengasuhnya, mencari tau kenapa ank itu menangis.

Pria Jepang tidak mau mengganti popok, pria Indonesia mau. Pria Jepang tidak mau membawakan belanjaan istrinya, pria Indonesia mau. Pria Jepang, merasa dirinya lebih tinggi dibanding istrinya, karena budaya Jepang yang workaholic, orang yang tidak bekerja, lebih rendah kelasnya daripada orang yang tidak bekerja.

Bagaimana kalau bentuk larangannya seperti ini: PRIA INDONESIA DILARANG MASUK JEPANG KARENA MUNGKIN MENYEBARKAN PEMAHAMAN BAHWA PRIA “SETARA” DENGAN WANITA, BEKERJA MAUPUN TIDAK BEKERJA.

Pikirkanlah, karena itu mungkin akan mulai terjadi ketika negara mulai memblokir seseorang masuk, karena preferensi pribadi.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...