Saturday, October 17, 2009

Enable Abortion?

Mungkin ga banyak yang tahu, karena fokus main headline sedang ada di Padang dan di rumahnya Ye-Be-Es, kalau kita selangkah lagi mengaktifkan opsi Aborsi dalam UU Kesehatan.

UU Kesehatan yang baru hampir selesai. Disana tentu saja, hal yang baik dan buruk diaduk jadi satu.  Tapi ada yang rada mencolok mata dari UU yang satu ini. Terutama soal aborsi, alias pembatalan kehamilan, alias pengguguran kandungan.

Pasal 75:

2.  Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

Ayat 1. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan;

Undang Undang Kesehatan

Yang jadi masalah adalah, soal batas waktu kehamilan yang boleh dibatalkan. Undang Undang bilang 6 minggu. Sedangkan para pemuka agama bervariasi dari mulai ml hingga 40 hari.

Darurat medis adalah darurat medis. Bagaimana jika kedaruratan itu muncul setelah 6 minggu? Misalnya ibu mengalami kecelakaan. Secara teoritis bayinya bisa bertahan hingga 9 bulan, tapi bakal mengalami kecacatan. Apakah ibu dan bayi harus menderita karena hal seperti ini? Atau sebaiknya kehamilan dibatalkan?

Semua pemuka agama memang menolak aborsi, karena biasanya aborsi dijadikan alasan bagi pasangan selingkuh untuk lepas dari tanggung jawab. Dan payahnya, ada dokter-dokter yang memang bisa dihubungi untuk bikin alasan. Aborsi dari dulu selalu bikin kontroversi, seperti halnya euthanasia. Dalam hal ini gw juga terbelah antara sisi medis yang harus menyelamatkan sang ibu. Tapi di sisi lain gw juga harus mengakomodasi hak hidup dari bayi tersebut.

Abort Pregnancy

Mungkin kekhawatiran para pemuka agama didasari oleh kemungkinan dari ketidak-jujuran manusia. Para pemuka agama takut dokter berbohong dengan menyebut janin sakit harus digugurkan, padahal alasan yang sebenarnya ibu tak mau bayi itu.

Setidaknya, harus ada workaround bagaimana menggugurkan kandungan secara legal bagi ibu yang memang terancam jiwanya kalau kehamilan diteruskan, baik sebelum enam minggu atau setelah enam minggu. Peraturan yang lebih ketat harus diterapkan dan dilaksanakan untuk mencegah adanya bayi yang merasa dirugikan, dan ibu selingkuh yang ingin menghindari tanggung jawab.

Jangan sampai suatu hari nanti ada yang bilang, “Kenapa aku mesti dibuat kalau orang tuaku tidak mampu merawatku”.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...