Monday, November 30, 2009

Bunuh Diri Lagi Ngetren Loh!

Entri ini mungkin mengandung satir. Walaupun demikian, saya ikut berduka atas kematian Robert Enke, Ice Juniar dan Reno.

Sekitar 2 minggu yang lalu Robert Enke, kiper tim Nasional Jerman bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta. Menurut press release yang dikeluarkan oleh keluarga Enke depresi. Hari ini, di Indonesia, tepatnya di Grand Indonesia dan Senayan City, Jakarta. Dua orang terjun dari lantai 5 masing masing mall. Tidak seperti Enke yang “meninggalkan jejak”, Ice Juniar dan Reno tidak bilang apa apa.

c830127680bf

Kenapa orang bunuh diri? Alasan klasik yang masih sering dipakai, yang kebetulan juga menjadi alasan yang paling masuk akal adalah depresi. Depresi karena berbagai hal. Kasus kiper Enke misalnya, dia depresi dua tahun yang lalu ditinggal mati oleh anak perempuannya yang masih balita.

Kalau merujuk tayangan kriminal kayak Patroli, Sergap atau Buser, motif bunuh diri di Indonesia walaupunpun intinya depresi, tapi nyaris semuanya dibalut motif ekonomi. Paling sering adalah anak sekolah, yang diledek gurunya gara gara nggak bayar SPP, trus bilang ke ortu, ortu nggak punya duit, lalu bunuh diri diam diam di kusen rumah.

Bunuh Diri itu Pengecut(?)

Apakah bunuh diri itu pengecut? Aduh, bingung ya. Bunuh diri ada berbagai macam bentuk. Yang paling sering adalah bunuh diri karena depresi, tapi kalau di Jepang ada yang namanya kelompok bunuh diri yang juga karena depresi. Jaman dulu juga orang mengorbankan diri bagi para dewa dewi “penguasa setempat” kebanyakan karena depresi.

Lha, kok depresi semua? Apakah yang namanya depresi emang biangnya bunuh diri? Kayaknya iya. Balik lagi, apakah yang namanya bunuh diri pengecut? Sayangnya kebanyakan iya. Bunuh diri untuk menghindari masalah adalah pengecut nomer 1. Beda dengan Euthanasia.

Apakah ketiga orang ini menjadi orang orang pengecut akibat bunuh diri? Maaf, sekali lagi maaf, ya, mereka pengecut.

Robert Enke egois, dua hari sebelum kick off pertandingan persahabatan dia bunuh diri. Dia lebih memilih mengutamakan perasaan pribadinya dibanding perasaan semua rakyat Jerman. Tidak ada alasan kuat kenapa Enke harus bunuh diri. Bahkan orang orang terdekat Enke bilang, “kecolongan”. Enke selalu berhasil menampilkan muka “ceria” di hadapan psikolog dan teman temannya.

Ice dan Reno pun sama pengecutnya, bahkan bisa dibilang lebih pengecut daripada Enke. Setidaknya Enke meninggalkan wasiat buat istrinya, memberi penjelasan mengapa dia bunuh diri. Nah dua orang ini? Lagi jalan jalan di mall kok tiba tiba bunuh diri. Nggak asik banget.

Narsis + Plagiat

Kasus Ice dan Reno ini akan gw agak belokin sedikit ke arah narsisme. Kenapa? Karena ada berita kalo Ice terjun ketika habis foto foto. Ciri ciri narsis gitu kan? Apakah Ice bunuh diri karena ingin kenarsisannya diakui?

Mungkin saja. Reno pun tak kalah narsis. Agak tak mungkin kalau Reno tidak mendengar ada yang bunuh diri di Grand Indonesia beberapa jam sebelumnya. Harus menunggu hasil CCTV dulu biar tahu, jam berapa Reno masuk ke Senayan City. Tapi jika benar Reno hanya “meniru” aksi Ice? Widih, sungguh tidak kreatif. Sama sama pengen diekspos, sama sama narsis.

Jangan dulu ngitung konspirasi di balik misteri “Lantai 5”, lantai yang digunakan para suicider, jangan juga ngebahas dulu tentang perbedaan jenis kelamin dari Ice dan Reno, kasian. Doakan aja biar mereka berdua diterima di sisiNya.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...