Thursday, November 12, 2009

Cukup Pintar Buat Pake Ponsel Pintar

Tak terasa, ini sudah sebulan sepuluh hari gw memakai ponsel yang katanya pintar. Tentu saja definisi “pintar” disini nggak seperti definisi pintar manusia. Mungkin kalau menurut gw, ponsel pintar itu ponsel yang bisa melakukan semua hal yang menjadi standar minimum sebuah ponsel saat itu, dengan atau tanpa Add-On software

Kalau mau dilist, standar minimum sebuah ponsel pintar adalah:

  • Bisa ngirim sms, mms, dan email, langsung tanpa harus ada software add-on.
  • Ada kamera, berapapun resolusinya, dan bisa ngerekam video, berapapun resolusinya.
  • Kompatibel dengan banyak standar koneksi, seperti bluetooth, IRDA, WLAN, USB port.
  • Memiliki operating system yang pasti dan bisa dicustomize, bukan yang embedded dan ga bisa diutak atik.
  • Memiliki keyboard QWERTY, baik teremulasi di layar (biasanya layar sentuh), maupun ada secara fisik.
  • Mempunyai kapabilitas multimedia.
  • Memori bisa “dibesarkan”.

Ga jauh beda yang gw sebut sama yang disebut sama wikipedia:

Most devices considered smartphones today use an identifiable operating system. In terms of features, most smartphones support full featured email capabilities with the functionality of a complete personal organizer. Other functionality might include an additional interface such as a miniature QWERTY keyboard, a touch screen or a D-pad, a built-in camera, contact management, an accelerometer, built-in navigation hardware and software, the ability to read business documents, media software for playing music, browsing photos and viewing video clips, internet browsers ... One common feature to the majority of the smartphones is a contact list able to store as many contacts as the available memory permits, in contrast to regular phones that has a limit to the maximum number of contacts that can be stored. Most smartphones have a max contact list of about 5,000 contacts.

Wikipedia

Motorola Q yang gw beli sudah masuk kualifikasi smartphone. GPS? ada koq, cuma GPS yang ditanamkan adalah GPS pasif. Jadi ada sih GPS, tapi cuma bisa dilihat dan diakses oleh orang-orang yang berkepentingan. Misalnya sistem darurat seperti 911.

658px-Assorted_smartphones[1]

Nah masuk ke bahasan utama. Cukup pintarkah kita untuk memanfaatkan ponsel pintar? Iya, artikel ini emang buat nyindir orang orang yang beli hp berkapabilitas sangat baik cuma buat begaya semata. Najis.

Ketika kamu menggunakan ponsel pintar, diharapkan kamu me-max out potensinya. Keluarkan apapun yang dapat dilakukan oleh ponsel itu. Artinya, kalau kamu beli ponsel pintar cuma buat ngakses buku muka alias Facebook, itu artinya kamu buang buang duit. Kalau kamu pake kamera kamu cuma untuk motoin diri sendiri narsis di segala tempat, itu namanya buang buang duit.

alay[1]

Kapabilitas email dan browser harus dimanfaatkan ke tingkat yang lebih baik daripada sekedar ngakses buku muka dan chatting ga tau arah. Ada pemanfaatan yang lebih baik, seperti yang sering gw lakukan, baca berita saat nunggu angkot ngetem. Yang namanya kamera juga bisa digunakan buat hal hal yang “out of the box”, misalnya, nyatet harga di supermarket atau motoin kejadian kejadian aneh di jalan. Yang beginian lebih seru daripada narsis narsisan dengan gaya alay.

 alay[1]

Ketika kamu adalah seorang blogger kambuhan kayak gw atu penulis wannabe, kamu bisa menulis atau merekam ide yang akan kamu tuangkan di blog kapanpun kamu mau. Nggak perlu lagi ngeluarin pulpen and pensil. Ketika kamu tersesat dan tampaknya nggak ada yang bisa ditanyain, yang namanya GPS atau  Google Maps bisa ngebantu abis.

Tentu saja, semua kapabilitas itu ada harganya. Kalau semua layanan itu gratis, maka “biaya angkut” alias biaya aksesnya-lah yang berat. Karena itu sudah selayaknya yang namanya ponsel pintar juga didukung oleh layanan data yang unlimited. Gw yakin, kalo datanya nggak unlimited, gw tidak bisa me-max out apa yang gw punya sekarang, begitu juga punya elo…

 

Artikel ini terinspirasi oleh pemberitaan PR hari ini soal Blackberry.
 
Foto berbagai Smartphone dan mantan Smartphone diambil dari Wikipedia.
 
Image “Anak Gaul” diambil dari buku 100 Orang Yang Menghiasi Jakarta.
© B. Rachmadi & M. Misrad.
 
Image “Cewek Alay” diambil dari Sakitjiwa.Net

1 comment:

  1. membaca seluruh blog, cukup bagus

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...