Wednesday, November 25, 2009

Yang Salah Bisa Kok Jadi Betul!

Scrap off soal komputer dan kawan kawannya. Sekarang kita ngomongin kasus yang udah kematengan (tapi belum basi koq). Tau Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah kan? Ah masa ga tau, situ kok kuper banget sih kalo ga tau. Kalo nggak tau bener bener kayak Chincha Lawra, silahkan baca-baca dulu disini.

Udah sekitar lebih dari ~ ya ~ sekitar 3 bulan kasus ini bikin heboh. Yang jelas hebohnya itu setelah pemilihan presiden. Kan waktu itu SBY menggunakan KPK buat kampanyenya dia. Walaupun dia nggak ngaku sih. Eh, jangan lupa, bagi pemilih SBY, inget janjimu dulu.

Seperti yang gw bilang di post sebelumnya, kalau fans itu selalu lebih “rame” daripada selebritisnya sendiri. Dan kini yang gw sedang sindir adalah para pengacara. Di depan mereka hukum harus ditegakkan. Apapun caranya apapun hasilnya. Yang gw tanya, benarkah mereka mau (ikutan) menegakkan hukum? Atau cuma membela yang bayar? Orang apalagi para pengacara boleh berpendapat lain, tapi gw pikir, pengacara selama ini lebih banyak membela yang bayar daripada memperjelas posisi hukum. Nah kalo sudah begini, banyak yang salah bisa jadi betul.

libra Hukum itu adalah sebuah norma. Norma hukum. Seperti norma norma lainnya, norma hukum adalah buatan manusia. Oh iya, bullshit juga kalo norma agama buatan tuhan. Tuhan kayaknya nggak se-narsis itu deh. Mari kita ngintip apa definisi norma.

Social norms are the behavioral expectations and cues within a society or group. This sociological term has been defined as "the rules that a group uses for appropriate and inappropriate values, beliefs, attitudes and behaviors." These rules may be explicit or implicit. Failure to follow the rules can result in severe punishments, including exclusion from the group." hey have also been described as the "customary rules of behavior that coordinate our interactions with others."

Wikipedia

Sudah jelas norma adalah aturan, satu set, dibuat manusia, untuk manusia. Norma dibentuk tidak sebentar, ada keputusan jangka panjang yang biasanya disebut evolusi, dan jangka pendek yang disebut revolusi (bahasa tagalog-nya “People Power”). Norma dibentuk pelan pelan, mulai dari hanya sekedar aturan tak tertulis, seperti “pakailah baju kecuali lagi mandi”, kemudian menjadi norma adat yang hanya berlaku di daerah tertentu.

Jika suatu norma sudah sangat universal, umum dan menguntungkan bagi manusia, norma bisa disepakati dalam sebuah konvensi, jadilah norma tertulis yang disebut Norma Hukum. Dari penjelasan singkat diatas tau donk apa artinya? Kita bisa kok mengubah hukum. Kan hukum itu buatan manusia, hukum juga berdasarkan yang namanya persetujuan bersama. Iya kan?

PEMBERHENTIAN BIBIT-CHANDRA DITUNDA

Sudah seringkali yang namanya pengacara mempermainkan hukum. Rasa adil masyarakat sangat terusik. Bagaimana enggak, keadilan yang harusnya dari dan untuk masyarakat dipermainkan sedemikian rupa oleh para pengacara. Hukum tidak lagi berpihak ke publik. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar. Sekuat tenaga para pengacara membela kliennya, memberi persepsi hukum yang hanya menguntungkan kliennya semata (dan tentu saja ada lawyer fee, jangan lupa).

Indonesia harus mempertahankan hukumnya biar tidak semena mena diambil alih oleh para pengacara yang hanya mau membela klien. Kasus Bibit dan Chandra menjadi contoh, bagaimana hukum sedemikian rupa dipermainkan. Ketika masyarakat membela apa yang seharusnya terjadi, pengacara tetap menuntut semuanya harus berada dalam koridor hukum. Kalau begitu, hukumnyalah yang harus diubah, supaya para pengacara diam!

Indonesia kini sedang mencoba mempertahankan hukum agar tetap berpihak kepada rakyat. Bukan kepada segelintir penekuk hukum yang dilindungi oleh pengacara-pengacaranya. Karena yang namanya hukum, adalah dari masyarakat, untuk masyarakat, bukan dari pengacara, untuk masyarakat.

 

Tulisan ini dibuat berdasarkan asas free speech dan kebebasan mengeluarkan pendapat seperti yang tercantum dalam UUD ‘45. Sanggahan (atau dukungan) atas tulisan ini dipersilahkan dalam bentuk komentar dibawah post ini.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...