Monday, August 24, 2009

Kata Siapa Kita Serumpun?

PERINGATAN:
Sebelum membaca tulisan ini, anda perlu tahu bahwa saya adalah Warga Negara Indonesia, yang sedang mengekspresikan diri sesuai deklarasi Hak Asasi Manusia, dan dijamin oleh Undang Undang Dasar Negara Indonesia 1945 Amandemen ke-4.

Kata siapa kita serumpun? Enggak deh... situ aja kale, gw kagak.

Setelah sekian lama kita (Indonesia) merasa dirampok oleh Malingsia (sebelumnya bernama Malaysia) atas beberapa puluh hasil kebudayaan kita rasanya sudah cukup. Apalagi kalau mereka selalu membawa kata-kata "serumpun" untuk menyebut kesamaan budaya Indonesia dan Malaysia.

Untung bagi kita, kita mempunyai satu budaya, spesial, khusus, tidak ada duanya, hanya dimiliki dan ditekankan dari SD hingga SMA, bahkan diajarkan dalam kurikulum, yaitu "Tenggang Rasa" yang kalau diterjemahkan menjadi "Kemampuan Untuk Merasa Malu".

Sudah berkali kali terjadi, klaim klaim atas budaya kita seperti batik, reog, rendang (berita spesial dari kaskus) dan kali ini Pendet. Apa mereka tidak merasa malu? Oh tentu tidak. Karena mereka sekali lagi tidak memiliki dan tidak bisa merasakan malu.

Apa sih yang gw sebut malu? Gini contohnya: Ketika kita mau melakukan sesuatu, kita akan mempertimbangkan baik burukya tindakan yang akan kita ambil itu, dan ucapan yang paling terkenal dari orang sunda misalnya, "Ulah, bisi jadi pikaeraeun..." atau "Jangan, nanti malah jadi malu maluin". Walaupun orang sunda dikritik karena menjadikan mereka selalu "terbelakang", tapi kini terbukti kemampuan untuk merasa malu dapat menghindarkan kita dari rasa malu yang lebih besar.

Sekarang, mereka mengklaim Pendet setelah puluhan kali mengklaim budaya kita yang lain, dan kali ini pula seperti yang sudah sudah, mereka dihujat 160 juta rakyat Indonesia (80 juta yang lain belum punya TV, tidak baca koran, atau sibuk di sawah), dan kali ini kita lebih pintar. Senjata kita yang paling ampuh yaitu Twitter dan Facebook berhasil memberi teguran (bahasa halus dari pukulan bertubi tubi) selama beberapa jam "Tari Pendet" menjadi Trending Topics.

Kalau mereka punya, atau bisa merasa malu, dengan segera mereka harusnya meminta maaf, mencabut iklan. Tapi apa yang terjadi? Mereka hanya bilang "itu buatan swasta, kami menolak bertanggung jawab". Oh yeah, selamat datang di kerajaan tanpa rasa malu.

Banggalah kalau sebenarnya kita tak pernah serumpun. Karena kita mempunyai budaya dan kemampuan untuk merasa malu, dan mereka TIDAK.

Jika anda punya Twitter, mohon re-tweet (RT) ini: "MALAYSIA TAK PUNYA RASA MALU" atau dalam bahasa inggris "MALAYSIA HAVE NO SHAME".
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...