Monday, September 28, 2009

De Grote Postweg, Penting Ga Sih?

Hari ini melihat sebuha liputan stasiun televisi yang sedang ngeliput soal “De Grote Postweg” alias “Jalan Besar Pos” atau “Jalan Raya Pos”. Dibuat di sekitar abad 19-an oleh William Daendles.

Jalan Raya Pos adalah jalan yang, kalau dalam ukuran sekarang sih bisa disebut “gang”. Bayangin lebarnya cuma 4 meter, untuk dua lajur. Yang mungkin kalau jaman dulu bisa sih buat dua buah kereta kuda berpapasan. Jalan Raya Pos, panjangnya sekitar 1000km lebih banyak dari Anyer menuju Pamanukan. Jauh donk.

Apa sih signifikannya tentang Jalan Raya Pos yang dibuat oleh orang Belanda untuk mentransportasikan benda-benda pos ini? Oh banyak banget. Setidaknya, Daendles berhasil membuat blueprint besar bagaimana jalan-jalan di wilayah Jawa harus dibuat. Bagaimana tidak, Jalan Pos yang panjang ini menembus banyak sekali kota besar di Jawa, dari Anyer, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, terus ke timur hingga Semarang, Blora, Surabaya, dan berakhir di Pamanukan.

Gw pribadi agak lupa apakah pembangunan Postweg ini dimulai dari Bandung atau dari kota lain. Yang jelas, katanya perjalanan besar kota Bandung dimulai dari pembangunan Postweg ini. Dulu meneer tidak tahu Bandung, tapi sekarang meneer jajan di jalan Braga, cuma 400m dari Postweg.

Caption di stasiun televisi itu menyebutkan, “Impian Daendles memakan 12.000 korban jiwa”. Gw termasuk yang setuju, bahwa untuk sebuah kemajuan, harus ada sesuatu yang dikorbankan. Memang ga logis kalau korbannya sampe 12.000 nyawa. Tapi kalau melihat infrastruktur, teknologi dan tingkat ke-lebay-an statistik waktu itu, (sayangnya) itu menjadi terbayar lunas.

Ruas Cadaspangeran yang terkenal misalnya. Katanya disana memakan banyak sekali korban. Sampe sang pangeran yang katanya ikut jadi korban (cmiiw) berkata, “setelah jalan ini selesai, tidak akan ada korban lagi ketika melintas di jalan ini”. Ajaibnya, tidak satupun kecelakaan lalu lintas di daerah itu, memakan korban jiwa, setidaknya sampai hari ini.

Postweg terbukti penting untuk jaman sekarang. Atas dasar itulah jalan-jalan modern di Indonesia dibuat. Seharusnya, kita menghargai jasa Daendles, arsitek-nya dan 12.000 pekerja lebih yang membuat jalan itu. Berkat mereka, mudik tahun ini anda sudah punya jalan yang lumayan. Bayangkan kalau harus ke Cikampek dulu untuk menuju Sumedang. Nggak praktis kan?

Saturday, September 26, 2009

Miyabi Ke Indonesia, Ancaman Diskriminasi Oleh Jepang (atau bahkan Dunia)

Jika Miyabi sampai dilarang ke Indonesia. Gw pribadi melihat ada beberapa dampak yang sangat signifikan, bagi Warga Negara Indonesia.

Semua setuju (at least 99% lah…) kalau agama merupakan preferensi pribadi yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Jadi, negara TIDAK BERHAK MENGATUR seseorang untuk menjalankan, atau tidak menjalankan, patuh atau tidak patuh, terhadap aturan agamanya. Lain di Indonesia. Sekelompok pria tua berjanggut, yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia, tampaknya ingin terlihat lebih merasa berkuasa dibanding Pemerintah.

Mereka (MUI) menolak kedatangan Miyabi, dengan alasan, Miyabi adalah bintang film porno di negara asalnya. Oh yeah. Diskriminasi. Sebuah alasan yang sangat pinter banget untuk menunjukkan bahwa ISLAM TIDAK MENGENAL TOLERANSI.

Di Indonesia, Miyabi akan main film standar, yang ga ada hubungannya dengan kegiatan esek-esek, yang tentu saja sangat tidak melanggar UU manapun di Indonesia. Intinya, MUI menolak kedatangan Miyabi karena preferensi pribadi, bukan karena DPO Interpol, bukan karena ada masalah hukum.

Jika suatu negara berani menolak kedatangan “turis” karena preferensi pribadi, maka ini sudah bisa dinamakan diskriminasi. And I know, Islam juga sering bermasalah dengan diskriminasi. Lalu, bagaimana kalau WNI ingin mengunjungi Jepang?

Jika Miyabi sampai dilarang ke Indonesia atas dasar “tidak sepaham”, maka Jepang bisa saja memberlakukan aturan yang sama. Dalam bidang kesenian misalnya, yang katanya agak nyerempet porno. Trio Macan dilarang manggung di Jepang. Atau bagaimana jika nanti nyerempet ke masalah yang remeh temeh cuma berdasar suka-tidak suka? Begini contohnya:

Pria Indonesia dikenal ramah, sopan terhadap wanita, mau bekerja sama. Pria Jepang dikenal ramah dan sopan, hanya ketika sebelum menikah dan bekerja. Ketika sudah menikah dan bekerja, pria Jepang menjadi judes. Dengan alasan ‘sudah capek di kantor’ pria Jepang bisa membiarkan bayi menangis karena tugas mengasuh bayi adalah tugas istri. Bandingkan dengan pria Indonesia, yang sesegera mungkin mengambil anak itu, dan kemudian mengasuhnya, mencari tau kenapa ank itu menangis.

Pria Jepang tidak mau mengganti popok, pria Indonesia mau. Pria Jepang tidak mau membawakan belanjaan istrinya, pria Indonesia mau. Pria Jepang, merasa dirinya lebih tinggi dibanding istrinya, karena budaya Jepang yang workaholic, orang yang tidak bekerja, lebih rendah kelasnya daripada orang yang tidak bekerja.

Bagaimana kalau bentuk larangannya seperti ini: PRIA INDONESIA DILARANG MASUK JEPANG KARENA MUNGKIN MENYEBARKAN PEMAHAMAN BAHWA PRIA “SETARA” DENGAN WANITA, BEKERJA MAUPUN TIDAK BEKERJA.

Pikirkanlah, karena itu mungkin akan mulai terjadi ketika negara mulai memblokir seseorang masuk, karena preferensi pribadi.

Friday, September 25, 2009

Miyabi Ke Indonesia, Ditolak Ulama Bodoh

Maria Ozawa (a.k.a Miyabi), welcome to Indonesia. Jangan dengarkan ulama-ulama bodoh yang terus menerus memberikan stigmatisasi, sementara mereka sendiri tidak menolak disebut teroris sembari tidak melarang jihad yang terhadap orang yang tidak bersalah.

Maria Ozawa sedang makan Mi.

Negara Indonesia, adalah negara yang MAYORITAS MUSLIM. Meskipun demikian, Indonesia bukan negara agama seperti apa yang ada di pikiran (dan sedang diusahakan) oleh para ulama itu.

“Bekerja sebagai bintang porno tidak ada masalah, jangan sampai pemahaman begitu ditularkan.”

Ketua MUI.

Sinting! Siapa yang mau menularkan ‘menjadi bintang porno itu baik’? Bukankah film yang akan dimainkan Miyabi itu film baik-baik?

“Ini akan mencemarkan nama baik Indonesia”

Ketua MUI

Sinting kuadrat! Yang tercemar ya Jepang! Kalau misalnya Jepang itu banyak pemain film porno, yang (harusnya) malu itu ya Jepang, bukan Indonesia. Toh Jepangnya sendiri sudah mempunyai hukum yang jelas apa yang disebut dengan pornografi.

Lagian, apa hubungannya, Miyabi datang ke Indonesia, lalu nama Indonesia jadi tercemar? Logika macam apa yang dipakai para ulama itu. Kalau Asia Carerra datang ke Bali, lalu masuk hotel, lalu berjemur, lalu pulang lagi trus kenapa? Kalau Peter North datang ke Jogja, lalu makan Gudeg, lalu pulang lagi memang kenapa?

Bandingan lain, Ashraff Sinclair, (sok) artis asal Malaysia, main sinetron yang tidak mendidik di Indonesia. Bukankah itu yang lebih baik dilarang? Belum lagi kalau inget jaman dulu, Cynthia Rothrock, main film action, yang kalau ditaring nggak bagus buat anak kecil, kok nggak dilarang? Heran, kemana otak para ulama ini.

MUI ini memang sinting. Kalau negara sampai mencekal Miyabi karena latar belakangnya sebagai seorang bintang porno, maka kita sebagai Warga Negara Indonesia, bakal menghadapi hal yang sama akan mengunjungi Jepang. Ditolak karena latar belakang yang merupakan preferensi pribadi.

Tuesday, September 22, 2009

Dora Jadi Pemadam Kebakaran (LIVE).

Sambil nonton Dora the Explorer, sambil juga menganalisa keanehannya. Apalagi kali ini Dora sedang menjadi pemadam kebakaran.

Scene 1

Dora memperkenalkan mobil pemadam kebakaran yang berwarna merah. Di tengah perkenalan, ada alarm berbunyi dan bilang ada kucing nyangkut di atas pohon.

Cape-nya, si mobil pemadam kebakaran menghabiskan waktu sekitar 1 menit untuk ‘exciting’ kalau ini adalah pengalaman pertama dia menyelamatkan, dan perlu 30 detik lain untuk Dora dan Boots masuk ke mobil dan pakai sabuk pengaman, supaya mereka aman.

Scene 2

Ternyata mobil pemadam kebakaran merah belum tahu arah mana yang dituju. Cape-nya, Dora menghentikan mobil pemadam kebakaran untuk melihat peta. Setelah menghabiskan hampir 2 menit untuk ber-kota-stasiun bensin-pohon-besar ria, baru mobil berjalan lagi.

Sebelum masuk kota, jalan bercabang menjadi dua (yang tentu saja yang satunya tidak ada di peta). Menghabiskan waktu 30 detik untuk memilih jalan.

Scene 3

Mobil pemadam Dora kehabisan bensin! Mana ada sih mobil pemadam kebakaran kehabisan bensin? Udah gitu, ngisinya agak lama karena harus menghitung satu sampai sepuluh.

Scene 4

Lepas dari Pom Bensin, mobil berulah lagi, ban-nya kempes. Dora harus mengeluarkan sesuatu yang bisa menambal ban dari ranselnya. Dipastikan habis sekitar 1 menit lebih untuk ber-ransel-yang-terisi-penuh sampai akhirnya memilih pompa.

Masih dalam scene yang sama, tentu saja ada Swiper si rubah Pencuri. Butuh 30 detik untuk mengusir Swiper. Dan 30 detik yang lain untuk memompa ban.

Scene 5

Berikutnya, ada lagi masalah tentang air hujan dan alarm yang harus dipilih. Kalau mobilnya kena air hujan, maka harus tekan tombol kuning, sedangkan kalau ada mobil lain di depan harus tekan tombol biru. Permainan kayak gini berakhir setelah 4 kali repetisi.

Total waktu yang dihabiskan oleh mobil pemadam kebakaran untuk melakukan permainan ini sekitar 2 menit.

Scene 6

Di scene terakhir, masih butuh sekitar setengah menit lebih untuk memutuskan apakah Dora harus menggunakan tangga, selang atau alarm untuk memanjat. So stupid question juga sih. Dan masih di scene yang sama, Dora masih sempat meminta kita untuk memutar tangga yang kurang panjang.

Ohmygod… susah banget ya jadi Dora. Banyak wasting time nya. Bayangkan jika terjadi kebakaran beneran, mungkin rumahnya sudah kebakar abis waktu Dora sibuk ber-peta ria atau pas ngisi bensin. Mudah mudahan dalam kehidupan asli ga ada pemadam kebakaran yang lambat seperti Dora.

Bowo dan Bolot.

Hari ini (kemarin sih…) ada pembagian sembako di Balai Kota Jakarta. Dan ~seperti biasa~ pembagian sembako itu berakhir ricuh. Pembagian sembako itu diprakarsai alias dilaksanakan oleh Pemerintah Jakarta, katanya untuk membantu keluarga miskin. Dan kericuhan mulai terjadi, ketika sang gubernur, Fauzi Bowo, meninggalkan tempat acara.

Here are the problem. Kebetulan baru sekitar H-3 atau H-4 lebaran gw sama pacar ngomongin betapa ngamuknya Fauzi Bowo ditiru atau sebenernya sih diparodikan oleh komedian Bolot dan diubah namanya menjadi Fauzi Bowo. Pertamanya, katanya Fauzi Bowo ga marah diparodiin, tapi setelah beberapa bulan menjadi gubernur, kemudian “mendekat” ke masyarakat, Fauzi Bowo ngambek abis ketika ada anak kecil yang memanggilnya dengan nama Fauzi Bolot.

Salah nggak sih, anak kecil itu?

Sebenernya, bagaimanapun anak kecil enggak salah. Dia hanya dapet influence dari orang orang di sekitarnya, benda benda di sekitarnya, including the television. Lalu bagaimana anak kecil itu bisa ngomong kalau yang dateng itu Fauzi Bolot, bukan Fauzi Bowo? Kesampingkan masalah televisinya. Fokus ke Bowo dan Bolot.

Bolot, komedian pendek, yang tingginya juga kalo nggak salah hampir setara dengan Bowo, memiliki branding untuk sedikit tuli, sedikit buta, dan sedikit (kalo ga disebut hanya mengulang) bicara, seperti Three Wise Monkey. Sedangkan Bowo, politikus, gubernur DKI Jakarta.

Bowo tentu saja berbeda secara fisik dengan Bolot. Tapi, apakah mungkin Bowo berbeda secara sifat dengan Bolot? Kalau saya berani bilang, Bowo tak jauh beda dengan Bolot. Bolot, komedian, dibayar untuk melawak, dengan brand-nya tadi yang sedikit budek, sedikit bisu, dan sedikit buta. Sedangkan Bowo, dibayar untuk tidak budek, tidak buta, dan tidak bisu, apalagi kalau soal masalah kemasyarakatan.

Sayangnya (setidaknya dalam pembagian “zakat” ini), Bowo identik dengan Bolot. Sudah puluhan kali pembagian zakat berakhir ricuh. Di Pasuruan (cmiiw) bahkan sampai 21 orang tewas. Apakah Fauzi Bowo tidak pernah mendengar kasus ini? Apakah Fauzi Bowo tidak pernah melihat ke televisi tentang kasus ini? Apakah Fauzi Bowo nggak pernah ngomongin kasus ini dengan bawahannya? Heran banget jika Fauzi Bowo sampai tidak pernah mendengar, melihat, atau bicara tentang kasus ini. Pemerintahannya, yang harusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, menjadi tercoreng karena kasus ini.

Anak kecil itu mungkin ga salah menyebut Fauzi Bolot. Karena si Fauzi, seorang politikus, gubernur Jakarta, dibayar oleh hasil pajak, pura-pura tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak pernah berbicara tentang masalah rakyatnya.

Semua itu berawal dari persepsi. Persepsi yang diulang terus menerus bisa menjadi kenyataan. Jika Bowo tidak mulai melihat, mendengar dan berbicara, tak lama lagi julukan Bolot, akan menjadi (nampak) permanen. Bukan hanya anak kecil yang bicara, tapi orang dewasa yang biasanya backtalking akan bicara terang terangan.

Mau pak Fauzi Bolot… eh Bowo?

Sunday, September 20, 2009

Kisah Encik Nurdin: Mati Sendirian.

Besok lebaran, kata Departemen Agama. Aku sendirian, pacar lagi ngambek dan ga mau ketemuan. Heheh…

Encik Nurdin yang mati kemaren pasti lebih merasa sendiri lagi, sekarang dia sedang di peti sejuk (a.k.a. kulkas). Dari berbagai story yang muncul di media massa, kematian cik Nurdin ini ga jauh seperti matinya seorang kucing. Dan ada yang lebih nge-bete-in lagi tentang cara matinya Cik Nurdin. Mari kita bongkar satu satu.

Kata ketua RT tempat Susilo nyewa rumah, dan gw yakin dia hanya membaca press release dari POLRI yang memang disiapkan untuk dia supaya enggak melebar kemana mana, dan berdasarkan story dari tetangga kanan kiri, Cik Nurdin ini mati mengenaskan sendirian. Begini ceritanya…

Ketika cik Nurdin mengebom kawasan Kuningan, Jakarta untuk yang kedua kalinya, tampaknya hukuman sosial dari masyarakat kali ini sangat luar biasa. Dibanding dua kali pengeboman yang sebelumnya, yang hanya menghasilkan efek “lokal” semata, efek pengeboman kali ini berpengaruh sangat besar bagi psikologis orang-orang desa.

Orang-orang desa yang dulu tidak tahu menahu, dan mungkin juga tidak mau tahu, sekarang menjadi antipati kepada apapun yang berbeda. Kebiasaan berbeda, wajah yang berbeda, apalagi, cara agama yang berbeda. Mata semua orang menjadi lebih awas terhadap Encik Nurdin. Selain karena hadiah 1M yang menanti siapapun yang bisa memberi informasi tentang Nurdin, tapi juga karena mereka sudah bosan. Plus ditambah lagi kelakuan negara Malaysianya sendiri terhadap Indonesia.

Encik Nurdin Tidak Punya Teman

Ketika semua menjauh, Nurdin kemudian menjadi sangat sendirian. Orang orang yang (nyaris) percaya padanya menjauh. Merekrut orang baru pun menjadi sangat sulit dibanding sebelumnya.

Mungkin hal ini yang mengakibatkan Encik Nurdin ditemukan mati bersama 3 temannya. Yakin itu temannya? Kalo aku ga begitu yakin. Ada beberapa kemungkinan encik Nurdin mengambil tiga teman lama tersebut. Encik Nurdin kehabisan teman, atau Encik Nurdin memaksa 3 orang itu menjadi temannya.

Kalaupun ketiga orang itu merupakan teman encik Nurdin, ada satu hal yang sangat mengganggu. Dikatakan Encik Nurdin adalah orang yang pertama mati dalam rumah persembunyian itu. Mayat encik Nurdin tergeletak di ruang tamu yang lokasinya tentu saja relatif berada di depan rumah. Namun ketika penyerbuan selesai, Nurdin ditemukan betumpuk di bagian belakang rumah.

Dan yang lebih parah, “teman-teman” Nurdin, seperti yang juga sering dilakukan ~ so called ~ pejuang Palestina, menjadikan Nurdin sebagai tameng manusia. Yakin itu temennya?

Yang pasti, Encik Nurdin terdesak. Ga punya temen lagi. Matipun masih dijadiin tameng buat melindungi “temen-nya”. Tapi merupakan sebuah hal yang pantas untuk seorang yang bagian otak untuk berpikir manusiawinya telah rusak.

Selamat buat Detasemen Khusus 88.

Saturday, September 19, 2009

Blacklist.sis

Blacklist, alias daftar hitam, adalah sebuah daftar yang mengerikan. Yang dapat disusun secara subyektif oleh diri sendiri. Dan digabung dengan kekuasaan, dapat “membunuh’ seseorang. Bagaimana tidak, seseorang atau sesuatu yang sudah dimasukkan dalam blacklist sepertinya tidak lagi punya hak untuk eksis di dalam otak yang membuatnya.

Android Blacklist Application Logo

Ada satu aplikasi di sistem operasi (handphone) symbian ~ dan yang lain juga sih, yang sifatnya seperti pedang tajam bermata dua. Sebut saja Blacklist.SIS. Blacklist yang ini dapat memblokir panggilan masuk, atau bahkan ada yang bisa memblokir SMS masuk. Yang menyebalkan, beda dengan answering machine, blacklist tidak memberikan sama sekali kesempatan untuk terkoneksi, hanya milidetik (mungkin), ketika panggilan tersambung, program blacklist akan otomatis mereject panggilan itu dengan nada sibuk.

Dari dulu tentu saja ada kontroversi apa saja atau siapa saja yang dapat dimasukkan ke dalam blacklist. Seorang PNS yang komplain tentang SUTET ke ibu negara tentu saja tidak dapat dimasukkan ke dalam Blacklist, keluhannya tentu saja harus didengar, SMSnya harus dibaca. Jangan salahkan sang PNS karena dia hanya meminta haknya yang tidak diberikan oleh negara.

Blacklist bagi gw adalah aplikasi pengecut apabila dipakai untuk memblok orang yang tidak kita sukai. Blacklist bisa menjadi tameng ketika ada banyak panggilan iseng ke nomer gw, tapi apakah jika seseorang yang sudah gw kenal lama, kemudian bikin masalah dengan gw, maka akan gw blacklist nomornya? TIDAK. Itu pengecut namanya. Blacklist tidak digunakan untuk menghindari masalah.

Blacklist, alias aplikasi pemblok, harusnya hanya digunakan murni untuk memfilter orang-orang yang tidak kita kenal, yang pure annoying, yang mengganggu kehidupan. Kombinasi kayak gini bisa dipake:

  1. Orangnya nggak dikenal.
  2. Nelepon cuma sey hello.
  3. Cuma mau manfaatin pulsa gratis atau SMS gratis.
  4. Nggak kira-kira nelepon atau SMSnya jam 2 pagi.

Jika gw kenal orangnya, dan gw sedang kesel, atau orang itu emang annoying. Gw cukup pasang ringtone khusus silent untuk orang itu. Masa sih hape yang bisa blacklist ga bisa ngatur personal ringtone di phonebooknya? Dan kalo misalnya kamu keganggu suara dering SMS atau telepon jam 2 pagi dari orang yang kamu kenal, kan bisa aja kamu set profil kamu ke VIBRATE. Tak perlulah pake aplikasi blacklist.

Kalau misalnya lo kenal orangnya, dan kebetulan orang itu sedang bermasalah dengan lo, jangan jadi pengecut, hadepin donk. Jangan malah di-blacklist. Karena siapa tau, orang yang lo ga suka itu sedang butuh pertolongan dari lo. Dan kebetulan, cuma lo yang bisa nolong. Kalo sampe itu adalah life threatening matter, dan orangnya sampe meninggal, bisa jadi lo termasuk orang yang berkontribusi atas meninggalnya orang itu.

Jadi? Siapa yang lo blacklist sekarang?

Thursday, September 17, 2009

Kisah Encik Nurdin: Mati Di Tangan Polis.

Hari ini, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, telah tewas, Noordin Mohammad Top. Buron teroris internasional, asal MALAYSIA.

NoordinTop-FBI

Mengapa gw bersyukur, karena tewasnya orang ini patut untuk disyukuri, bukan untuk ditangisi, apalagi, menurut gw pribadi, orang yang satu ini, ga perlu dianggap sebagai orang islam. Selesai dibersihkan, masukkan saja ke dalam “peti sejuk” dan lemparkan kembali ke keluarganya di Malaysia. Capek banget kalau kita, warga negara Indonesia, harus menyisihkan sedikit dari pajak kita untuk menyewa pesawat dan menerbangkan kembali ke kampung halamannya.

Apa mungkin bagusnya dihanyutkan aja lewat sungai-sungai di Kalimantan seperti cara para cukong pas nyuri kayu-kayu yang berharga, tidak hanya bagi Indonesia, tapi juga dunia.

Omong omong liputan “Breaking News” hari ini, gw agak skeptic ketika sekitar jam 12 siang, TVOne, sekali lagi mengumumkan bahwa yang tewas diduga kuat si Nurdin. Siapa bakal percaya secara instan sih? TVOne adalah TV yang kemarin pertama kali berkoar kalau si Nurdin tewas, padahal yang mati adalah antek Teroris Malaysia itu yang bernama Ibrahim (a.k.a. Ibrohim, Mbah, dan sederet alias lainnya). Gw meyakinkan diri untuk tidak menulis dipatching news di Facebook Update sampe ada kejelasan dari POLRI.

And thanks God, itu enggak lama. Katanya dari 11 kualifikasi untuk bisa dikatakan cocok, si ‘Nurdin’ ternyata berhasil mecocokkan 14 bagian dari sidik jarinya. Wahasil, dipastikan yang tewas adalah Noordin M. Top. Anyway, sampe sekarang gw masih menunggu breaking news apa lagi yang akan dikeluarkan para jurnalis di televisi.

Lupakan Encik Nurdin!

Sudahlah, public, sekarang saatnya melupakan encik Nurdin sang pelaku teror. Sekarang saatnya fokus kepada masa depan keluarga anda. Jangan sampai seperti keluarga Dani Dwi Permana. Kasihan banget itu keluarga, bapaknya sedang dipenjara di LP Tangerang nangis-nangis nggak karuan waktu anaknya dinyatakan meninggal setelah dihasut untuk meledakkan diri di Kuningan, Jakarta.

Mungkin saatnya kini melirik pelaku teror lainnya. Praktis sebenarnya kita hanya tahu sekitar 4 atau 5 pelaku teror yang diumumkan ke publik, karena hanya sebanyak itulah yang diumumkan ke publik. Ingat ingat aja semua wajahnya, jangan lupa.

Yang bikin miris tentu saja pekerjaan yang ditampilkan oleh para teroris itu. Semua berhubungan dengan satu agama: Islam. Jadi tentu saja akan ada kesulitan tersendiri dalam mendeteksi mereka.

Public, please remember: Apa yang ditampilkan oleh para teroris hanya selubung, jangan tertipu oleh keramahan mereka. Jangan sampai keluarga anda menjadi keluarga Permana yang berikutnya.

Wednesday, September 16, 2009

Kesepak Format.

Aku lagi bete sama formatting! Kenapa semuanya harus diformat sih? bisa ga sih kita kembali ke jaman mesin tik dulu dimana kita nggak harus peduli dengan pilihan format yang belibed. Semuanya as simple as bold, underline, left margin, dan spacing.

Sekarang? Serba ada serba lengkap, serba bagus, tapi semuanya bikin ide justru malah enggak keluar, semuanya ketahan ketika gw mulai mikir semacam… ‘ini text bagusnya dicetak tebel atau biasa aja ya?’ atau… ‘bagusnya pake Rotis yang serif atau yang sans, atau malah yang monospace yah? Bahkan hal sesimpel line spacing yang dulu pilihannya cuma single atau double atau paling bisa sepresisinya cuma dibelah dua jadi 1,5 spacing, sekarang bisa sangat memusingkan.

Kotak dialog

Lihat aja kotak dialog Paragraph Style options punya Adobe InDesign atau Adobe InCopy diatas. Hih, mengerikan tapi juga sekaligus sangat fungsional. Pada dasarnya, semua aspek bisa gw atur, dari mulai ‘basic character format’ yang cuma ngatur font apa yang dipake, sampe gimana cara motong paragraf di ‘hyphenation’, drop caps dan nested style yang bisa dipake untuk menspesialisasikan paragraf tertentu.

Pokoknya, kok semuanya jadi ribet yah?

Ribet gitu? Mungkin seharusnya nggak seribet itu, karena tugasmu itu harusnya ~ sekali lagi ~ tugasmu itu seharusnya cuma nulis, bukan ngeformat. Tapi kok apa daya yah. Gw kayak harus mantes mantesin tulisan gw di dalam layout cetaknya. Oh please deh… itu harusnya bukan urusan elo lagi kale! itu urusan bagian layout!

Format

Inilah yang masih belum bisa gw pisahin, editing dan layouting. Gw jadi kehilangan ide gara gara hal ini. Jadi beware aja deh bagi elo yang belum bisa memisahkan hal ini seperti gw. Lo dijamin stuck, ga bisa ngapa ngapain. Sedangkan untuk menulis di notepad atau textedit, agh… ga ada gambarnya dan serasa ga lengkap gitu!

Ada yang punya caraga sih gimana gw bisa misahin antara editing dan formatting? Tapi jangan bilang kalau ‘lu musti fokus’. Bullshit deh… kalo semudah ‘lu musti fokus’. Life is more harder than that…

Friday, September 11, 2009

Star Trek and Physics Curiosity.

Siapa sih yang ga kenal soal Star Trek? Well, gw termasuk salah satu diantaranya. Star Trek yang dulu ditayangin di RCTI jam 2 siang menurut gw adalah sebuat story yang terlalu berat untuk anak SMP atau SMA.

200px-Startrekposter

Bayangin aja, siang siang pulang sekolah, lo bakal disuguhin sejam cerita tentang “mahluk lain” di galaksi lain, dengan ~ ini menurut gw loh! ~ storyline yang pastinya biasa biasa aja dan Hollywood bang-get! Misalnya, “Kapal Star Trek” nemu sebuah planet, kemudian berusaha survive, dan kemudian berhasil, dan kembali membawa kabar ke bumi. Males banget ga sih?

Itu juga yang menjadi pikiran gw ketika abang ngajak nonton Star Trek (film) yang kalo di Bandung penayangannya telat sekian bulan gara gara dibajak sama Harry Potter dan Transformer 2. Paling-paling it just another hollywood style movie, action mixed with love. Kids movie, like Transformer 2.

Well, ternyata gw salah…

Star Trek versi reboot ini sudah mengcapture hati gw sejak awal, tepatnya sejak logonya keluar. Simple yet energizing. Menit-menit awal, visual menyebalkan benda-benda tajam di kapal Narada dengan kapten Nero di dalamnya. Gw sebel, kenapa sih harus ada benda tajam? Ga bisa pake visual yang biasa biasa aja ya? Walaupun untuk penjahat. Menyebalkan sekali. Kesananya semua semakin terasa Hollywood standard movie, dimana peran protagonis yang (bakalan) mati, bakal di-enhance sisi psikologisnya, kemudian baru tewas (bunuh diri) secara patriotik.

Sisi fisikanya mulai muncul ketika perjalanan Enterprise dimulai. gw terpaksa kembali mengungkit pelajaran yang tidak pernah diajarkan oleh guru-guru Fisika semasa SMA dulu (dan gw yakin alasannya karena agama), yaitu Time Travelling. Gw kembali mengungkit kisah kisah Doraemon dimana sebuah laci meja bisa langsung terkoneksi dengan “ruang waktu”. Di Star Trek, kisah yang lebih mirip dengan apa yang tertulis di buku terjadi.

Dua hal yang menjadi perhatian bagi gw adalah Warp, dan Time Travel. Bisakah kita nge-warp? Bisakah kita berpindah waktu? Karena di Star Trek ini dikisahkan Romulan, dan Ambassador Spock mengalami perjalanan waktu setelah “tersedot” ke dalam Black Hole. Dan yang lebih aneh lagi, bagaimana kamu bisa keluar dari Black Hole?

Teori menyatakan, untuk keluar dari Black Hole, kamu harus berjalan dengan kecepatan melebihi cahaya (wplink: speed of light). Yang katanya tidak dimungkinkan oleh teori kuantumnya Adolf Hitler, eh Albert Einstein.

Akhirnya semuanya berakhir di pemahaman tentang bagaimana cahaya bekerja? Apakah cahaya adalah sebuah “benda” atau sebuah “gelombang”? Jika cahaya adalah benda, kenapa dia lolos dengan memancarkan sinar “hitam”? Jika cahaya gelombang, mengapa dia tidak lolos? Gw mengerti Warp hanya masalah waktu sebelum bisa dilakukan, tapi bagaimana kita bisa mencapai Warp? Memakai tembakan gelombang? Well, scientist will found it anyway.

Soal Time Travel lebih memusingkan lagi. Banyak literatur televisi dan buku nonfiksi menyebutkan, seseorang yang sudah mengalami perjalanan waktu, maju atau mundur, tidak boleh bertemu dirinya sendiri di masa itu. Kenapa? Gw ga tau. Dan Star Trek menantang pendapat itu dengan mempertemukan Spock tua dan Spock muda di akhir cerita. Pertanyaannya, boleh tidak kita bertemu diri kita sendiri setelah melintas waktu?

Finally, Star Trek membuat gw sedikit menyesal dan marah kepada guru-guru SMA gw, atas ketidak-seimbangan informasi dan ilmu yang mereka berikan. Dan sekarang mereka lebih percaya kepada Harun Yahya!

Space... the Final Frontier. These are the voyages of the starship Enterprise. Its five-year mission: to explore strange new worlds; to seek out new life and new civilizations; to boldly go where no man has gone before.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...