Monday, November 30, 2009

Bunuh Diri Lagi Ngetren Loh!

Entri ini mungkin mengandung satir. Walaupun demikian, saya ikut berduka atas kematian Robert Enke, Ice Juniar dan Reno.

Sekitar 2 minggu yang lalu Robert Enke, kiper tim Nasional Jerman bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta. Menurut press release yang dikeluarkan oleh keluarga Enke depresi. Hari ini, di Indonesia, tepatnya di Grand Indonesia dan Senayan City, Jakarta. Dua orang terjun dari lantai 5 masing masing mall. Tidak seperti Enke yang “meninggalkan jejak”, Ice Juniar dan Reno tidak bilang apa apa.

c830127680bf

Kenapa orang bunuh diri? Alasan klasik yang masih sering dipakai, yang kebetulan juga menjadi alasan yang paling masuk akal adalah depresi. Depresi karena berbagai hal. Kasus kiper Enke misalnya, dia depresi dua tahun yang lalu ditinggal mati oleh anak perempuannya yang masih balita.

Kalau merujuk tayangan kriminal kayak Patroli, Sergap atau Buser, motif bunuh diri di Indonesia walaupunpun intinya depresi, tapi nyaris semuanya dibalut motif ekonomi. Paling sering adalah anak sekolah, yang diledek gurunya gara gara nggak bayar SPP, trus bilang ke ortu, ortu nggak punya duit, lalu bunuh diri diam diam di kusen rumah.

Bunuh Diri itu Pengecut(?)

Apakah bunuh diri itu pengecut? Aduh, bingung ya. Bunuh diri ada berbagai macam bentuk. Yang paling sering adalah bunuh diri karena depresi, tapi kalau di Jepang ada yang namanya kelompok bunuh diri yang juga karena depresi. Jaman dulu juga orang mengorbankan diri bagi para dewa dewi “penguasa setempat” kebanyakan karena depresi.

Lha, kok depresi semua? Apakah yang namanya depresi emang biangnya bunuh diri? Kayaknya iya. Balik lagi, apakah yang namanya bunuh diri pengecut? Sayangnya kebanyakan iya. Bunuh diri untuk menghindari masalah adalah pengecut nomer 1. Beda dengan Euthanasia.

Apakah ketiga orang ini menjadi orang orang pengecut akibat bunuh diri? Maaf, sekali lagi maaf, ya, mereka pengecut.

Robert Enke egois, dua hari sebelum kick off pertandingan persahabatan dia bunuh diri. Dia lebih memilih mengutamakan perasaan pribadinya dibanding perasaan semua rakyat Jerman. Tidak ada alasan kuat kenapa Enke harus bunuh diri. Bahkan orang orang terdekat Enke bilang, “kecolongan”. Enke selalu berhasil menampilkan muka “ceria” di hadapan psikolog dan teman temannya.

Ice dan Reno pun sama pengecutnya, bahkan bisa dibilang lebih pengecut daripada Enke. Setidaknya Enke meninggalkan wasiat buat istrinya, memberi penjelasan mengapa dia bunuh diri. Nah dua orang ini? Lagi jalan jalan di mall kok tiba tiba bunuh diri. Nggak asik banget.

Narsis + Plagiat

Kasus Ice dan Reno ini akan gw agak belokin sedikit ke arah narsisme. Kenapa? Karena ada berita kalo Ice terjun ketika habis foto foto. Ciri ciri narsis gitu kan? Apakah Ice bunuh diri karena ingin kenarsisannya diakui?

Mungkin saja. Reno pun tak kalah narsis. Agak tak mungkin kalau Reno tidak mendengar ada yang bunuh diri di Grand Indonesia beberapa jam sebelumnya. Harus menunggu hasil CCTV dulu biar tahu, jam berapa Reno masuk ke Senayan City. Tapi jika benar Reno hanya “meniru” aksi Ice? Widih, sungguh tidak kreatif. Sama sama pengen diekspos, sama sama narsis.

Jangan dulu ngitung konspirasi di balik misteri “Lantai 5”, lantai yang digunakan para suicider, jangan juga ngebahas dulu tentang perbedaan jenis kelamin dari Ice dan Reno, kasian. Doakan aja biar mereka berdua diterima di sisiNya.

Friday, November 27, 2009

Idul Adha: Kambing vs Domba.

Sumpeh, waktu gw tau apa yang tidak ga tau, gw merasa sangat bodoh. Kok bisa bisanya sampe gw nyaris 25 tahun, belum tau antara kambing sama domba?

Hari ini kan Idul Adha tuh, pasti donk banyak daging berkeliaran. Bagi yang ngekos kayak gw, ini saatnya sedikit perbaikan gizi, karena jarang jarang gw makan pure beef. Seringan makan nasi padang dsb, pokoknya bentuk daging yang udah dikutak katik terlalu banyak. Nah, hari ini kebetulan ada ~menu standar ~ sate dan gule.

Lha, kan gw spontan bilang, ini nggak bau? diapain? Kakak gw bilang, ini kambing, bukan domba. Kalo domba biasanya jadi bau, kalo kambing nggak bau. Set!!! Gw langsung bingung, lho, apa bedanya domba sama kambing? Perasaan dagingnya kayak gitu gitu juga, lebih alot, dan bisa bikin darah tinggi. Lha terus apa bedanya? Sumpeh gw ga gitu mudeng. Sampe pulang ditunjukin itu kambing itu domba belum mudeng juga.

Akhirnya gw nyentuh internet dan sesegera mungkin nyari yang mana kambing yang mana domba.

Kambing

Jujur ini seperti yang gw bayangin, bertanduk, berbulu lurus, dan berbunyi mbeeek…

800px-Domestic_goat_feeding_on_capeweed

Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "Bulan sabit yang subur" dan Turki) dan Eropa. Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar.

Kambing di Wikipedia

Domba

Nah ini. Sebenernya juga aku kenal. Ini juga seperti yang gw sering lihat di tayangan tayangan TV australia soal pemotongan bulu domba yang dijadiin bulu wol.

394px-Flock_of_sheep

Domba atau Biri-biri adalah ruminansia berkaki empat dengan rambut wol. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop. Domba berbeda dengan kambing.

Domba di Wikipedia

Jelas kan? Wikipedia aja bilang, “domba berbeda dengan kambing”. Kalo wikipedia sampe kudu nyebutin seperti itu. Berarti selain gw juga ada banyak orang yang menganggap kambing = domba.

Lha terus apa yang bikin gw bingung? Ternyata ada satu spesies domba, yang bikin gw bingung. Ini dia:

garut

Ternyata gw nyamain kambing dengan domba garut! Ya jelaslah gw jadi bingung, padahal harusnya ga usah bingung gitu! Hehehe… Jadi malu sendiri gw.

Domba Garut yang sekarang ini berasal dari domba Merino yang masuk ke kota Garut pada tahun 1869, dan terjadi persilangan dengan domba lokal dan domba Kaapstad, kemudian secara bertahap menyebar ke beberapa wilayah seperti ke Limbangan, Kabupaten Sumedang dan Bandung (Merkens dan Soemirat, 1926 Dalam Heriyadi. , 2008).

Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian (PDF)

Ooo… jadi emang ada domba yang bertanduk kayak kambing ya?

Lha terus giman cara bedain antara domba dan kambing? Cara gampangnya sebenernya lihat bulunya, bulu domba lebih halus daripada bulu kambing. Soal bau yang dihasilkan? Aduh, entah ya….

Thursday, November 26, 2009

Upload Foto ke Facebook Lewat Hape

Judulnya komersil banged yak? Ah bae… Sapa tau traffic meningkat. Hehehe. Gw baru sadar ternyata masih buanyak yang kesusahan buat ngupload foto ke Facebook. Gw sendiri bisa sih, tapi kalo suruh ngejelasin suka ribed. Belum pula koneksi mobile yang kadang kadang lelet.

So, here we go. How to upload Photo to Facebook, via Email (sekalian SEO buat yang pake bahasa inggris, hehehe). Tutorial ini dibuat untuk level beginner.

Ng-upload foto ke Facebook lewat HP.

  • Buka browsermu, dan masuk ke m.facebook.com

Step 1.

Turunin sampe nemu News Feed, lalu klik Photos di bawah News Feed.

Step 2

Setelah masuk ke Photos, klik Upload Photos.

Step 3

Catat alamat email yang kamu dapet.

Step 4

Buka email client kamu, dan masukkan email yang tadi kamu catet. Subject-nya bakalan jadi judul foto yang kamu upload.

Step 5 

Attach foto yang kamu inginkan, bisa lebih dari 1 koq. Kalo nggak ada attach, mungkin ada insert atau apalah.

Step 6

Setelah foto ke-attach, lalu kirim aja.

Step 7

Dan foto kamu muncul di album Mobile Upload. Lihat juga, judulnya, sama dengan subjek kan?

Step 8

Sekarang selamat nyoba sendiri yah. Inget, bandwidth yang tersedia terbatas, kecilin dulu foto kamu biar cepet uploadnya. Jangan lupa merotasi foto kamu dulu sebelum diupload, jangan sampe gw jungkir balik cuma mau lihat bagaimana elo menarsis-narsiskan diri.

Okelah kalo begitu…

Wednesday, November 25, 2009

Yang Salah Bisa Kok Jadi Betul!

Scrap off soal komputer dan kawan kawannya. Sekarang kita ngomongin kasus yang udah kematengan (tapi belum basi koq). Tau Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah kan? Ah masa ga tau, situ kok kuper banget sih kalo ga tau. Kalo nggak tau bener bener kayak Chincha Lawra, silahkan baca-baca dulu disini.

Udah sekitar lebih dari ~ ya ~ sekitar 3 bulan kasus ini bikin heboh. Yang jelas hebohnya itu setelah pemilihan presiden. Kan waktu itu SBY menggunakan KPK buat kampanyenya dia. Walaupun dia nggak ngaku sih. Eh, jangan lupa, bagi pemilih SBY, inget janjimu dulu.

Seperti yang gw bilang di post sebelumnya, kalau fans itu selalu lebih “rame” daripada selebritisnya sendiri. Dan kini yang gw sedang sindir adalah para pengacara. Di depan mereka hukum harus ditegakkan. Apapun caranya apapun hasilnya. Yang gw tanya, benarkah mereka mau (ikutan) menegakkan hukum? Atau cuma membela yang bayar? Orang apalagi para pengacara boleh berpendapat lain, tapi gw pikir, pengacara selama ini lebih banyak membela yang bayar daripada memperjelas posisi hukum. Nah kalo sudah begini, banyak yang salah bisa jadi betul.

libra Hukum itu adalah sebuah norma. Norma hukum. Seperti norma norma lainnya, norma hukum adalah buatan manusia. Oh iya, bullshit juga kalo norma agama buatan tuhan. Tuhan kayaknya nggak se-narsis itu deh. Mari kita ngintip apa definisi norma.

Social norms are the behavioral expectations and cues within a society or group. This sociological term has been defined as "the rules that a group uses for appropriate and inappropriate values, beliefs, attitudes and behaviors." These rules may be explicit or implicit. Failure to follow the rules can result in severe punishments, including exclusion from the group." hey have also been described as the "customary rules of behavior that coordinate our interactions with others."

Wikipedia

Sudah jelas norma adalah aturan, satu set, dibuat manusia, untuk manusia. Norma dibentuk tidak sebentar, ada keputusan jangka panjang yang biasanya disebut evolusi, dan jangka pendek yang disebut revolusi (bahasa tagalog-nya “People Power”). Norma dibentuk pelan pelan, mulai dari hanya sekedar aturan tak tertulis, seperti “pakailah baju kecuali lagi mandi”, kemudian menjadi norma adat yang hanya berlaku di daerah tertentu.

Jika suatu norma sudah sangat universal, umum dan menguntungkan bagi manusia, norma bisa disepakati dalam sebuah konvensi, jadilah norma tertulis yang disebut Norma Hukum. Dari penjelasan singkat diatas tau donk apa artinya? Kita bisa kok mengubah hukum. Kan hukum itu buatan manusia, hukum juga berdasarkan yang namanya persetujuan bersama. Iya kan?

PEMBERHENTIAN BIBIT-CHANDRA DITUNDA

Sudah seringkali yang namanya pengacara mempermainkan hukum. Rasa adil masyarakat sangat terusik. Bagaimana enggak, keadilan yang harusnya dari dan untuk masyarakat dipermainkan sedemikian rupa oleh para pengacara. Hukum tidak lagi berpihak ke publik. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar. Sekuat tenaga para pengacara membela kliennya, memberi persepsi hukum yang hanya menguntungkan kliennya semata (dan tentu saja ada lawyer fee, jangan lupa).

Indonesia harus mempertahankan hukumnya biar tidak semena mena diambil alih oleh para pengacara yang hanya mau membela klien. Kasus Bibit dan Chandra menjadi contoh, bagaimana hukum sedemikian rupa dipermainkan. Ketika masyarakat membela apa yang seharusnya terjadi, pengacara tetap menuntut semuanya harus berada dalam koridor hukum. Kalau begitu, hukumnyalah yang harus diubah, supaya para pengacara diam!

Indonesia kini sedang mencoba mempertahankan hukum agar tetap berpihak kepada rakyat. Bukan kepada segelintir penekuk hukum yang dilindungi oleh pengacara-pengacaranya. Karena yang namanya hukum, adalah dari masyarakat, untuk masyarakat, bukan dari pengacara, untuk masyarakat.

 

Tulisan ini dibuat berdasarkan asas free speech dan kebebasan mengeluarkan pendapat seperti yang tercantum dalam UUD ‘45. Sanggahan (atau dukungan) atas tulisan ini dipersilahkan dalam bentuk komentar dibawah post ini.

Monday, November 23, 2009

Fans Selebritis Selalu Lebih Nyolot

Sudah jadi kordat manusia kali yak? Kalo denger hal yang enggak ngenakin, maunya langsung hantem aja tanpa pandang bulu tanpa pandang masalah. Yang jadi bikin heboh, sebenernya bukan si manusia itu sendiri yang bikin heboh tapi pendukung alias “fans” manusia itu. Ketika denger pujaan hatinya dihina dicaci, spontan para fans membentuk kalo perlu pager betis - pager ayu - pager bambu buat ngelindungi si pujaan hati.

Lho kan kata agama nggak boleh “mengkultuskan” orang lain? Nah lo…

Ada satu milis, gw belum mau nyebut namanya, entah kenapa terjadi ~ apa ya ~ kalau bukan pengkultusan ~ auk ah istilahnya apa. Pokoknya intinya si member ini memposting beberapa hal yang memang bagus, dalam artian dari segi isinya semua berkualitas. Nyaris tanpa cela, bahkan gw pun agak males ngintelin orang orang seperti ini. Toh nyaris tak bercela, cela cela dikit ga papa lah. Koreksi pun biasanya dilakukan sendiri.

I Love Celebrity Gossip

Setiap member ini ngepos, semua orang bilang, bagus bagus, i like it. Wajar donk, emang gw sendiri juga bilang bagus. Yang jadi masalah kemudian ketika muncullah fans fans yang enggak penting. Apakah dunia selebiritis di milis sudah dimulai? Ya jelas sudah donk. Tanpa sadar si “star member” ini menjadikan dirinya secara perlahan lahan sebagai selebritis milis. Semua postingannya diikutin, kemudian diberi rating A+. Tak ada yang “berani” membantahnya. Yang jadi masalah, si star member ini kemudian terbentur masalah.

Ketika masalah terjadi, yang lazimnya selebritis, pasti selalu diikuti yang namanya gosip. Baik miring maupun nyengsol. Wajar donk kalau kemudian member ini dicap yang enggak-enggak? Tentu saja karena si star member hanyalah “selebriti lokal” yang enggak menganggap dirinya selebriti, pasti sibuk sendiri dengan masalahnya.

Kemudian para fans mulai merangsek mengambil alih masalah. Mereka bertanya-tanya, kemana sang selebriti pergi? Kenapa tidak meninggalkan pesan? Ketika “perwakilan” dari selebriti menjawab. “Maaf lagi ada masalah”. Dhuengg….

Ohoho… selebriti lagi ada masalah? Jelas aja makanan empuk bagi yang nggak suka. Inget, setiap koin punya dua sisi. Setiap positif ada yang negatif. Kalau ada yang memuji pasti ada yang menjelekkan.

Yang jadi problem sekarang, sang star member tak tahu dirinya selebriti. Para fans “bekerja keras” menenangkan masa (sembari menenangkan diri sendiri). Sayangnya para fans tidak dipersenjatai dengan informasi yang cukup. Yang ada hanya kabar burung. Melintas terus berkembang. Star Member yang tidak tau kalo dirinya sudah berubah menjadi selebriti ini tidak tahu, kalau diluar rumah, banyak gosip beredar tentang dia.

Apa si star member ini harus ngomong? Ada dua pilihan:

  1. Star Member bilang, saya bukan selebriti. Lu aja yang nganggap gw seleb. Jadi kalo ada gosip miring tentang gw, maaf aja, gw cuma manusia biasa. Jangan bikin gw seperti selebriti, karena gw sekali lagi, bukan selebriti.
  2. Star Member bilang, iya, saya menjadikan diri saya seorang selebriti. Jadi saya bertanggung jawab atas status ke-selebriti-an saya. Huru hara yang terjadi akan saya jelaskan.

Nah sekarang tinggal balik lagi ke para fans. Apa kamu mau bertanggung jawab ketika seseorang yang bukan selebriti, mendapatkan status selebriti kemudian mendapat masalah?

Kalo nggak mau tanggung jawab, jangan jadikan seseorang sebagai selebriti!

Saturday, November 21, 2009

Chromium Series: Di Balik Terpal

Tulisan ini adalah bagian dari Chromium Series, dibuat untuk sistem operasi baru dengan kernel lama. Chromium OS dari Google. Untuk daftar lengkap tulisan tentang Chromium OS, klik disini.

Di balik terpal, alias under the hood adalah istilah yang dari dulu dipakai Chrome (browser) untuk menyebutkan “peraturan lain lain yang sebaiknya hanya diubah oleh orang yang ngerti cara penggunaannya, jadi kalau kamu masih newbie sebaiknya jangan sentuh!”

Ketika Chromium OS keluar kemarin, gw penasaran, bagaimana nasib pengaturan pengaturan di balik terpal itu? Apakah sama bagusnya dengan Chrome?

Under The Hood

Sori, gw hanya ada skrinsut untuk Windows. Tapi gw bisa pastikan (karena tadi malem gw udah download VMWare image untuk Chromium dan udah dicoba di VMWare 7) kalau isi “under the hood” di Chromium nyaris sama saja.

Ya, ini memang early developer build. Tapi dari yang gw lihat, interfacenya kok sama yah dengan yang namany KDE/Gnome like? Artinya? Apakah ada pengembangan berarti dari Chrome? Gw rasa sama saja.

Tapi ada setting “under the hood” lain yang penting, seperti device and peripherals, network settings, dsb. Nggak bisa semuanya bergantung ke LAN atau zero configuration seperti Wi-Fi kan? Pengaturan device pun belum ada. Kalau hal ini nggak ada, repot donk, karena seperti Motorola Q yang kupunya, defaultnya hanya berjalan di kecepatan 200kbps-an saja. Jauh dari potensinya yang 2.4 mbps. Lagi lagi, ini adalah early developer build. Jadi wajar kalau setting belum lengkap.

Oh iya, Chromium akan dilepas ke versi mature sekitar… satu tahun lagi. Mari kita pantau saja perkembangannya seperti apa.

Friday, November 20, 2009

Chromium Series: Melihat UI Desain Chromium Untuk Pertama Kali

Tulisan ini adalah bagian dari Chromium Series, dibuat untuk sistem operasi baru dengan kernel lama. Chromium OS dari Google. Untuk daftar lengkap tulisan tentang Chromium OS, klik disini.

Setelah sibuk menerka nerka sejak bulan lalu, Chromium OS, baru dari Google, berdasarkan Linux, akhirnya mencapai tahap Open Development. Belum Alpha, apalagi Beta, apalagi Final. Dari screenshot yang gw dapet. Gw pikir Linux yang satu ini bakalan agak lain dibanding Linux yang lain.

Yap. Gw pikir, dalam hal desain, Linux selalu payah. Mau digimanain aja transparansi, memanfaatkan efek penyet dengan OpenGL. It still a “programmer OS”. Tidak sedap dipandang. Okelah kalau misalnya yang namanya Ubuntu itu sedap dipandang. Tapi ya cuma 1 themes itu aja yang sepertinya dibuat oleh designer. Sisanya kok masih banyak “programmer taste”-nya yah?

Chrome OS ini sepertinya beda. Take a look at screenshot below…

Chromium-Login

What do you think? Daripada login KDE atau Gnome yang membosankan itu, jelas Chromium lebih menarik. Login dengan “foto” ukuran gede jelas kemajuan besar daripada login dengan Icon di Windows dan OSX. Kayak sebuah KTP yang bilang, “hey, ini account punya gw, punya lu ada di sebelah!”

After Login

Biasanya di Linux, yang namanya after login alias desktop, itu sebuah pengalaman yang bagus selama 30 menit, kemudian kamu bosen. Sedangkan… well sebenarnya gw belum tau, apakah di Chrome ini ada desktop atau enggak. Sebab di video sampe yang gw capture, kok begitu login mereka bilang “session yang ‘kemaren’ bakalan di resume, dan kamu bisa langsung kerja secara instant.”

No desktop? Mungkin… karena begitu login yang gw langsung lihat adalah UI khas Chrome, yang browser, Google Chrome.

Chromium-Apps

As you can see, semua aplikasi di dalamnya adalah web apps. Haduh? apa ini artinya Chromium OS itu 100% cloud? Alias cloud based computing? Dimana nyaris semua proses dilakukan dari web, aplikasi di web, nyimpen data di web, bahkan lama-lama processing juga di web. Apakah sudah saatnya cloud based computing? Lihat nanti lah, namanya juga masih tahap Open Development.

Tapi setidaknya, Chromium OS menjanjikan sesuatu yang lebih mudah untuk dioperasikan, atau… setidaknya tampak lebih mudah. Seperti yang bisa dilihat dibawah, proses yang namanya drag and drop di-enhance sedemikian rupa di semua web apps. Kalau kata tutorialnya, cukup tancep kamera, dan langsung muncul tab yang isinya folder di dalam kamera, yang foto di dalamnya bisa langsung di-send ke tab chatting yang ada di sebelahnya.

Chromium-Device

Chromium OS memang menjanjikan sesuatu yang besar, setidaknya dari sisi GUInya bisa dibilang bagus. Meskipun gw lihat akhirnya Chrome OS ini akan menjadi next Aqua (OS X), OSnya sih bagus, tapi kamu nggak bisa customize lebih dari wallpaper dan screensaver.

Belum lagi masalah Google Chrome yang kayaknya menjadi tampilan default. Apa nggak bosen dengan posisi yang gitu gitu aja? Mungkin kalau buat nenek kakek, OS seperti Square One sangat membantu. Tapi seperti kita kita yang dinamis? Kayaknya enggak deh.

Ok developer… selamat mengutak atik chromium. Kita bakalan ngomong tentang ini lagi setelah ada perkembangan lebih lanjut.

 

Update: Wrong screenshot! Walah… padahal sangat berharap kalau Login Screen dengan KTP diatas adalah yang beneran. Ternyata, yang bener adalah:

Chromium-Correct Login

Thursday, November 19, 2009

Baru Dibuka! New Half Café

Café (dibunyikan /ˈkæfeɪor /kæˈfeɪ/), juga dieja cafe, adalah rumah makan informal yang menyajikan makanan panas, dan roti tumpuk yang siap dipesan.
New Half Café yang baru ini merupakan gabungan dari dua rumah makan lama yaitu Panaseuy dan Gasibu.

Selain menyajikan menu-menu lama dari rumah makan sebelumnya juga menyajikan menu baru yang lebih spesial daripada sebelumnya. New Half Café lebih nikmat jika disajikan di malam hari, sepertiGasibu, dan tanpa busana, seperti di Panaseuy.

Meskipun dibangun dari reruntuhan Panaseuy dan Gasibu, gw janjikan New Half Café menghadirkan hal hal yang baru dari dunia per-binan-an, berdasarkan sisi ilmiah para binan, didukung data data yang agak otentik.

Enjoy your New Half Café

 

Update: Reruntuhan gasibu kini sudah dibangun diatas New Half Café yang baru, sedangkan reruntuhan Panaseuy akan segera dikerjakan… :D

Wednesday, November 18, 2009

Mata Uang Baru! Namanya Noodle Unit

Sering denger perkataan seperti ini? “Eh, kalo kerja di negara A gajinya gede loh” atau, “hidup di negara X enak, orangnya makmur, pasti banyak duitnya”. Yakin seperti itu? Sebenarnya tidak selalu negara lain lebih subur dari negara kita. Ada hitung hitungannya bagaimana “menyamakan” tingkat kehidupan masing masing negara, baik secara finansial, intelektual, maupun kenyamanan.

Percaya atau tidak, hitungannya cukup rumit. menggunakan konversi berbagai mata uang baik yang ada maupun tidak ada, baik uang secara fisik, maupun secara virtual. Tapi semuanya menurut gw tetap tidak memuaskan. Untuk itulah gw berpikir, harus ada kesamaan bagaimana cara menilai nilai suatu mata uang, dan hubungannya dengan kehidupan sehari hari. Gw pikir, namanya bagusnya adalah noodle unit.

300px-OzawaMakanMi

Kenapa Noodle Unit? Noodle alias mie, adalah makanan yang paling dapat diterima oleh seluruh dunia. Bahkan beberapa negara ribut sebagai pencipta “mie” pertama, seperti Cina, Italia, bahkan Mesir (ditemukan beberapa lembar bentuk seperti mi dalam mangkok di sebuah fosil). Oke, mungkin bukan eksak mie yang gw maksud, tapi sebuah komposisi makanan yang 4 sehat. Alias cukup karbohidrat, cukup protein, cukup vitamin, dan cukup mineral, dan tentu saja air. Uang yang biasanya dibelikan untuk membeli 4 komponen itu harus sudah jadi dan tersedia alias siap makan, itulah “Satu Unit Mie”, alias “One Noodle Unit”.

Tentu saja Noodle Unit ini bervariasi dari negara ke negara bahkan kota ke kota. Justru itulah tujuannya, memberikan gambaran kasar ke orang awam bagaimana cara membandingkan kehidupan di satu daerah dengan daerah lainnya.

Menggunakan Noodle Unit

Cara menggunakan Noodle Unit mudah saja. Pertama, hitung dulu Noodle Unit itu sendiri.

Jika kamu sekali makan dengan nasi, tempe, kangkung, dan pisang seharga Rp. 5000,00 maka itulah 1 Noodle Unit buat kamu. Bagaimana dengan negara lain? Sama saja. Di Amerika misalnya, yang menjadi standar adalah burger, french fries dan coca cola, semuanya misalnya US$ 3. Artinya 1 Noodle Unit di Amerika adalah US$ 3.

Penghasilanmu di Indonesia adalah 4 juta rupiah, di Amerika 4 ribu dolar. Sekilas jauh banged bedanya, sekitar 36 juta. Tapi kalau di Noodle Unit, bedanya ga gitu jauh. Ketika diubah menjadi Noodle Unit, 4 juta rupiah tadi berarti sekitar 800 Noodle Unit. Sedangkan 4 ribu dolar menjadi 1300-an Noodle Unit.

Nah kalau sudah begini, benarkah hidup di Amerika lebih indah daripada di Indonesia? Belum tentu! Sekarang konversikan segala bentuk pengeluaran kamu dapat ke dalam Noodle Unit.

Misalnya, setelah ditotal total, sebulan, kamu menghabiskan 600 Noodle Unit (Rp. 3jt). Di Amerika ternyata habisnya misalnya 1200 Noodle Unit ($ 3.600) termasuk listrik, air, telepon, pajak, utang rumah, rekreasi dll.

Kalau dikurangi dengan biaya yang harus dibayar setiap bulan, maka bisa disimpulkan: Kalau hidup di Indonesia, kamu bakal mampu saving 200 Unit setiap bulan. sedangkan di Amerika, kamu hanya mampu saving 130 Unit.

Sekarang yang jadi pertanyaan, bahagiakah kita dengan sisa 200 Noodle Unit per bulan di negara yang tampak “lebih rendah” daripada yang hanya menyisakan 130 Noodle Unit per bulan? That decision, would be yours…

Saturday, November 14, 2009

Motorola. Past, Present and Future…

Ternyata, gw adalah motorollers sejati. Dari dua hp yang gw beli, semuanya adalah motorola. Dan satu yang jadi future target, juga Motorola.

Past - Motorola C115

Motorola C115 adalah HP pertama gw. Cuma komunikasi dasar, nelepon dan SMS. memorinya cuma ada memori SIM, gamenya cuma cukup buat membunuh waktu sekitar 10 menit. C115 ini baru rusak setelah 3 tahun, dan gw ganti dengan HP yang gw dapet pinjem dari almarhumah mami.

C115 Ketika gw make HP ini, sangat banyak nilai positif yang bisa gw rasakan, terutama yang namanya ketahanan. Gw masih sangat reckless menggunakan HP, yang namanya HP sering banget dan bisa jatoh. Gw juga sering menghempaskannya ke kasur. Tapi boro boro LCD pecah, batre lepas aja kayaknya bisa gw itung dengan jari tangan. Beda sama penggantinya yang dari LG, dijatuhin dari ketinggian 1 meter aja LCDnya udah pecah dan harus diganti dengan nominal 135ribu saja. Kesimpulannya, HP ini excellent.

Walaupun gw masih menggunakan si LG yang udah diganti LCD-nya ini. Gw tetep merasa ga nyaman. Gw masih mencari HP yang bisa menggantikan si LG dalam komunikasi GSM

Present - Motorola Q CDMA

Ini adalah Motorola kedua yang gw beli dan masih eksis. Motorola Q CDMA. Gw emang desperate pengen nyari modem CDMA dan HP yang bisa browsing waktu itu. Desperate banget gw hampir beli yang namanya modem USB biasa yang gw takut bakalan overheat. Di saat yang tepat banget, gw menemukan Motorola Q CDMA.

Q Sampai saat ini gw merasa sangat puas dengan Motorola Q CDMA ini, walaupun ga punya java, tapi dengan koneksi unlimited dari operator Smart, gw bisa menyingkirkan kebutuhan akan java. Toh gw bisa ngebaca yang namanya berita secara unlimited, gw punya banyak waktu buat ngebaca dan ngebales email dari milis yang bertumpuk. Sampe akhirnya gw bisa mendeklarasikan, (sampe saat ini) gw ga butuh Java Runtime Environment for Windows Mobile.

Future – Motorola MC55

Dalam hati, gw selalu pengen HP yang gede, cowok banget, dan bisa dibilang ganas. Gw dulu sempet tertarik dengan Ericcson T sekian yang bentuknya emang bisa buat ngelempar anjing. Tapi setelah melihat Motorola MC55, semuanya hilang dalam sekejap. This is what I want for my future GSM cellular.

MC55

Motorola MC55 ini juga kelasnya beda dengan yang dua sebelumnya. Motorola MC55 ini tergolong Enterprise Digital Assistant, bukan Consumer Product. Makanya itu MC55 diperlengkapi oleh tools yang industrial banget. Bayangin: 1D code reader (barcode), 2D code reader (contohnya QR code), “ruang gesek” kartu magnetik seperti mesin EDC di kasir, dan tahan jatuh sampe 1 meter ke beton! Haduh!

Cape kalo ngeliat HP ini. Gw ga peduli dengan koneksinya yang cuma sampe EDGE. MC55 terlalu ganas untuk dilewatkan. Gila, benar benar gila. Saking gilanya gw sampe ngeblog khusus buat HP ini. Ibarat semua perangkat yang gw suka jadi satu. Cuma harganya, ga tahan, bisa sampe US$ 1.000, belum termasuk charger, dan kabel data USB (yang juga cuma USB 1.1).

Ga penting! Pokoknya aku kesengsrem!

 

Update: Ada produk yang lebih baru, Motorola MC75 Worldwide EDA, walaupun lebih ganas lagi bentuknya, tapi bentuk selulernya agak hilang dengan bentuk yang terlalu “mirip” dengan HT. gw lebih milih MC55 daripada MC75.

 

 

Gambar diambil dari Phonearena, GSMArena
Sumber: Motorola Q, Motorola MC55 EDA, Motorola MC75 EDA

Friday, November 13, 2009

Tiket Edmonson.

Sayang, tiket Edmonson sudah tidak dipakai lagi di kota Banjar. Tiket KRD Cicalengka-Padalarang pun sekarang sudah nggak pakai tiket Edmonson, diganti tiket tipe “karcis-parkir”.

Tiket Edmonson mungkin diganti karena sekarang menjadi tidak ekonomis lagi. Kertasnya memakai kertas karton yang tebal jaman sekarang sudah tidak ekonomis. Apalagi yang kecil ini lebih sulit “dijaga” keberadaannya daripada tiket tipe “karcis-parkir” atau tipe “kwitansi”.

Mudah mudahan, di suatu stasiun, masih ada tiket edmonson yang bisa dikoleksi…

Tiket Edmondson, Apa Itu?

PERNAH dengar tiket Edmondson?  Ini adalah tiket kereta api yang terbuat dari karton dengan ukuran sekitar 6 cm x 3 cm.

1400088p[1]

Tiket tipe ini sudah jarang ditemukan karena PT Kereta Api-KA (Persero) sudah mengganti sistem tiket yang pertama kali diperkenalkan tahun 1840-an di Inggris ini dengan tiket sistem komputerisasi. Penggantian sistem tiket dari tiket Edmondson ke sistem komputerisasi itu khususnya dilakukan di stasiun-stasiun besar. Di stasiun-stasiun kecil di berbagai daerah di Pulau Jawa, tiket Edmondson masih dipakai.

Adalah Thomas Edmondson, yang semula hanya perajin furnitur, station master atau semacam kepala stasiun di Newcastle dan Carlisle , Inggris, yang memperkenalkan sistem temuannya pada jalur kereta api Manchester dan Leeds pada tahun 1840-an. Sistem itu adalah sistem validasi pembayaran karcis kereta api serta sistem akunting untuk meningkatkan pendapatan yang kemudian diberi nama sesuai si penemu, Edmondson.

Seiring dengan pembukaan Railway Clearing House  – sebuah organisasi yang dibikin untuk mengatur alokasi pendapatan kolektif dari berbagai perusahaan kereta api – pada 1842, sistem Edmondson pun digunakan sebagai sistem ticketing secara luas. Berbagai item standar pun ditetapkan pada tiket karton itu. Misalnya, besarnya tiket (aslinya 2,5 cm x 5 cm) dan diberi nomor.
Saat stasiun mengeluarkan tiket itu, ada mesin yang akan mencetak tanggal sesuai dengan saat tiket dikeluarkan (mesin stempel tiket). Tiket itu juga dibedakan berdasarkan tujuan dan kelas (bisnis, ekonomi, eksekutif). Pola dan warna tiket dibedakan untuk memudahkan petugas dan calon penumpang membedakan tipe tiket. Intinya, tiket tipe Edmondson merupakan satu sistem ticketing kereta api mulai dari bentuk dan bahan tiket yang mungil, mesin cetak tanggal, hingga ke alat yang biasa digunakan oleh kondektur kereta api untuk memeriksa tiket para penumpang.

Sistem tiket ini kemudian diadopsi oleh beberapa negara di Eropa seperti Czechoslovakia, Perancis, Jerman, Polandia, Swiss, Belanda, bahkan hingga ke luar Eropa seperti Australia, Argentina, dan Hindia Belanda saat Staats Spoorwegen (SS) memperkenalkan sistem tiket itu. Di Inggris, tiket Edmondson digunakan hingga 1990. Di beberapa kota di Inggris, tiket itu bahkan sudah berhenti digunakan pada 1980-an. Belanda, dalam hal ini Nederlandsche Spoorwegen (NS) – perusahaan kereta api –  menghentikan tiket tipe Edmondson pada 1982.

1400463p[1] 

Negara-negara yang dulu mengadopsi tiket Edmondson, kini sudah secara total meninggalkan sistem tersebut. Swiss masih menggunakan tiket Edmondson di beberapa stasiun hingga Desember 2007. Kini, tiket legendaris itu lebih banyak digunakan sebagai tiket untuk masuk ke wisata kereta api tempo dulu, wisata pusaka (heritage tourism).

Di Indonesia, Museum Kereta Api Ambarawa masih menyimpan mesin stempel tiket atau karcis bermerek Edmondson dari tahun 1923. Di beberapa stasiun kecil yang masih menggunakan tiket tersebut, tentu kita masih bisa melihat seluruh sistem tersebut, mulai dari karcis, mesin stempel, dan alat pengecek tiket milik kondektur.

Semoga, seluruh perlengkapan perkeretaapian tempo dulu tak lantas lenyap tanpa bekas sebelum sempat diselamatkan. Sebelum akhirnya seluruh sistem tiket Edmondson berhenti beroperasi secara total, hendaknya PT KA segera hunting melacak keberadaan peninggalan sistem perkeretaapian masa lalu itu, termasuk peluit, topi dan pakaian masinis serta kondektur untuk disimpan pada museum kereta api. Pabrik pembuat tiket Edmondson pun harus tetap hidup, setidaknya untuk mencetak tiket guna keperluan wisata pusaka (heritage) dan melestarikan pabrik tersebut agar khalayak bisa menengok ke perut pabrik itu sehingga bangunan itu tak dibongkar demi kepentingan bisnis semata.

 

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto
Artikel diambil dari Kompas - Wisata Kota Tua

Sawah di Tengah Kota

Hari ini mati lampu. Setelah setengah hari luntang lantung di kamar, akhirnya gw memutuskan pergi ke sebuah mall, buat ngecas HP. Seperti biasa, kalau ada waktu luang, gw selalu berusaha untuk lewat jalan lain daripada biasanya. Dan akhirnya gw memutuskan buat lewat jalan kecil yang membelah sawah.

Minimap

Mungkin karena gw merasa udah terlalu butek dengan keadaan kota kali yah. Makanya gw ingin share pemandangan sawah ini dengan kamu.

Tapi maaf, gw bukan fotografer, gw adalah blogger. Gw motret ini dengan HP gw, jadi maaf, ada beberapa yang kabur dan agak goyang goyang. But please, Enjoy.

040

041

042

043

047

045

Thursday, November 12, 2009

Cukup Pintar Buat Pake Ponsel Pintar

Tak terasa, ini sudah sebulan sepuluh hari gw memakai ponsel yang katanya pintar. Tentu saja definisi “pintar” disini nggak seperti definisi pintar manusia. Mungkin kalau menurut gw, ponsel pintar itu ponsel yang bisa melakukan semua hal yang menjadi standar minimum sebuah ponsel saat itu, dengan atau tanpa Add-On software

Kalau mau dilist, standar minimum sebuah ponsel pintar adalah:

  • Bisa ngirim sms, mms, dan email, langsung tanpa harus ada software add-on.
  • Ada kamera, berapapun resolusinya, dan bisa ngerekam video, berapapun resolusinya.
  • Kompatibel dengan banyak standar koneksi, seperti bluetooth, IRDA, WLAN, USB port.
  • Memiliki operating system yang pasti dan bisa dicustomize, bukan yang embedded dan ga bisa diutak atik.
  • Memiliki keyboard QWERTY, baik teremulasi di layar (biasanya layar sentuh), maupun ada secara fisik.
  • Mempunyai kapabilitas multimedia.
  • Memori bisa “dibesarkan”.

Ga jauh beda yang gw sebut sama yang disebut sama wikipedia:

Most devices considered smartphones today use an identifiable operating system. In terms of features, most smartphones support full featured email capabilities with the functionality of a complete personal organizer. Other functionality might include an additional interface such as a miniature QWERTY keyboard, a touch screen or a D-pad, a built-in camera, contact management, an accelerometer, built-in navigation hardware and software, the ability to read business documents, media software for playing music, browsing photos and viewing video clips, internet browsers ... One common feature to the majority of the smartphones is a contact list able to store as many contacts as the available memory permits, in contrast to regular phones that has a limit to the maximum number of contacts that can be stored. Most smartphones have a max contact list of about 5,000 contacts.

Wikipedia

Motorola Q yang gw beli sudah masuk kualifikasi smartphone. GPS? ada koq, cuma GPS yang ditanamkan adalah GPS pasif. Jadi ada sih GPS, tapi cuma bisa dilihat dan diakses oleh orang-orang yang berkepentingan. Misalnya sistem darurat seperti 911.

658px-Assorted_smartphones[1]

Nah masuk ke bahasan utama. Cukup pintarkah kita untuk memanfaatkan ponsel pintar? Iya, artikel ini emang buat nyindir orang orang yang beli hp berkapabilitas sangat baik cuma buat begaya semata. Najis.

Ketika kamu menggunakan ponsel pintar, diharapkan kamu me-max out potensinya. Keluarkan apapun yang dapat dilakukan oleh ponsel itu. Artinya, kalau kamu beli ponsel pintar cuma buat ngakses buku muka alias Facebook, itu artinya kamu buang buang duit. Kalau kamu pake kamera kamu cuma untuk motoin diri sendiri narsis di segala tempat, itu namanya buang buang duit.

alay[1]

Kapabilitas email dan browser harus dimanfaatkan ke tingkat yang lebih baik daripada sekedar ngakses buku muka dan chatting ga tau arah. Ada pemanfaatan yang lebih baik, seperti yang sering gw lakukan, baca berita saat nunggu angkot ngetem. Yang namanya kamera juga bisa digunakan buat hal hal yang “out of the box”, misalnya, nyatet harga di supermarket atau motoin kejadian kejadian aneh di jalan. Yang beginian lebih seru daripada narsis narsisan dengan gaya alay.

 alay[1]

Ketika kamu adalah seorang blogger kambuhan kayak gw atu penulis wannabe, kamu bisa menulis atau merekam ide yang akan kamu tuangkan di blog kapanpun kamu mau. Nggak perlu lagi ngeluarin pulpen and pensil. Ketika kamu tersesat dan tampaknya nggak ada yang bisa ditanyain, yang namanya GPS atau  Google Maps bisa ngebantu abis.

Tentu saja, semua kapabilitas itu ada harganya. Kalau semua layanan itu gratis, maka “biaya angkut” alias biaya aksesnya-lah yang berat. Karena itu sudah selayaknya yang namanya ponsel pintar juga didukung oleh layanan data yang unlimited. Gw yakin, kalo datanya nggak unlimited, gw tidak bisa me-max out apa yang gw punya sekarang, begitu juga punya elo…

 

Artikel ini terinspirasi oleh pemberitaan PR hari ini soal Blackberry.
 
Foto berbagai Smartphone dan mantan Smartphone diambil dari Wikipedia.
 
Image “Anak Gaul” diambil dari buku 100 Orang Yang Menghiasi Jakarta.
© B. Rachmadi & M. Misrad.
 
Image “Cewek Alay” diambil dari Sakitjiwa.Net

Wednesday, November 11, 2009

5 Years of Firefox

Ketika yang sempurna cuma tuhan. Manusia pasti nyari sesuatu yang mendekati sifat sifat kesempurnaan (Haiyah! Apa lagi ini). Dan ketika gw nemu sesuatu yang (nyaris) sempurna atau setidaknya bagus di mana gw, maka gw akan kabarkan ke kalian semua.

Gw pribadi ga inget kapan gw mulai menggunakan Firefox. Yang jelas, dalam disk-disk yang gw simpan, jejak jejak flash disk, gw menemukan “Firefox Setup 1.0.3.exe” sebagai Firefox pertama yang gw pake. Oh that was several years ago. Dimana masa kelam internet dial up masih menggelayut.

firefox-title

Gw masih inget pada saat itu gw menggunakan Flash Disk ukuran 128 MB yang sangat terasa lega. Ditancepin di warnet lalu gw install sendiri. Pada jaman kegelapan itu, masih banyak warnet yang belum menyediakan Firefox di station-nya.

Semakin rame orang membicarakan Firefox, apalagi ditambah semakin menyebalkannya Internet Explorer (6), makin banyak warnet yang mulai memasang Firefox, bahkan di milis Asosiasi Warnet, banyak yang mulai menganjurkan agar Firefox dijadikan default browser. Lebih ekstrim di satu warnet yang pernah gw sambangi, Firefox disamarkan dengan ikon IE, lalu diganti namanya menjadi Web Browser. IE sendiri dihapus dari start menu, dan desktop.

Mozilla_Firefox_1.0_front_page_screenshot

Sekitar versi 1.5, hampir semua warnet sudah menginstall Firefox, baik sebagai default, maupun auxilliary browser. Disaat itulah gw mulai mengenal Add Ons. Gw masih inget bagaimana gw mendownload Fasterfox dan Forecastfox di setiap warnet yang gw temui, sebelum punya ide untuk bawa addon itu sendiri di flash disk. Lama lama add on gw terus berkembang, kebutuhan semakin banyak. Dan repotnya, add on seperti Performancing, nggak bisa disetup secara ringan.

Tiba tiba Firefox 2 datang. Semuanya jadi lebih ringan. Addon pun gegap gempita menyambut update ini. banyak addon yang spesial khusus digunakan untuk Firefox 2 dan tidak bisa digunakan di Firefox 1. Dan betenya, warnet-warnet sepertinya ogah beranjak dari Firefox 1. Lagi, gw terpaksa membawa installer Firefox plus Addonnya. Disinilah gw mulai mengenal PortableApps.

Gw udah mulai ga peduli ada atau enggak Firefox di warnet, selama warnet itu make Windows, gw cukup ngejalanin paker PortableApps gw yang waktu itu terdiri dari Firefox, Thunderbird, IDM dan Gaim (sekarang Pidgin). Kadang gw miris ngelihat warnet warnet itu jauh dibelakang gw, gw masih inget, gw udah pake firefox 2.0.0.5 sedangkan Firefox di warnet itu masih pake 1.x. Jauh banget performance-nya…

Menginjak ke Firefox 3, gw merasa firefox semakin solid. Perkembangan besar gw dapatkan dengan yang namanya Awesome bar, alias bar penyimpan segala bentuk history dan favorites. Dulu gw ga gitu peduli yang namanya Favorites, kesulitan buat ngudek, nyari apa yang gw mau adalah hal yang ngebetein. Dengan awesome bar, cukup ketik beberapa huruf, gw udah dapet apa yang gw mau.

Addons

Sekarang di Firefox 3.5, gw merasa Firefox adalah bagian yang harus ada di komputer gw. Sistem addon yang open source, membuat Firefox menjadi punya banyak rasa. Walaupun Chrome dan Safari sempat booming, tapi kembali lagi, Firefox + addon, adalah hal yang tidak bisa ditandingi.

Fuck semua yang namanya browser speed test, walaupun katanya Chrome enginenya lebih cepat, gw ga gitu peduli. Firefox standar mungkin kalah. Ketika ditambah addon, haiyah… Firefox mampu mengalahkan semuanya.

Tuesday, November 10, 2009

Situ Pahlawan Apa Narsis?

Gw ga bakal ngambil definisi pahlawan dari kamus. Karena yang namanya pahlawan itu, sangat sangat abstrak, sangat banyak definisi pasti bagi pahlawan. tapi pada dasarnya, semua pahlawan punya satu kesamaan. Mereka “sangat berjasa” terutama bagi yang merasa ditolongnya.

Di hari pahlawan ini, banyak orang yang ngepost tentang, ya tentu saja, pahlawan, bagaimana pahlawan versi mereka, siapa pahlawan versi mereka, dan bagaimana sejarah hari pahlawan itu sendiri. Gw? bosen… Jadi gw putuskan buat ngambil sudut pandang lain dari pahlawan.

Pahlawan Tanpa Narsis

Somehow, kita kenal berbagai macam pahlawan. Ada pahlawan pejuang kemerdekaan, baik dikenal maupun enggak dikenal. Ada pahlawan tanpa tanda jasa, yang stay cool walaupun tau ada ‘jalur gaza’ di sekolahnya. Ada pahlawan ketika sakit, ketika ban bocor, dan dimana saja ada pahlawan. Tapi ada juga satu pahlawan yang dibenci. Namanya pahlawan narsis.

Siapa sih pahlawan narsis? Pahlawan narsis dapat didefinisikan sebagai orang yang sok pahlawan, sok berjasa, dan yang paling pasti, narsis, alias pengen banget dihormati. Banyak lho pahlawan narsis seperti ini. Nggak sedikit di Indonesia yang disebut pahlawan narsis.

Misalnya… misalnya nih ya. Kamu tadi pagi nolongin kucing yang hampir ketabrak mobil. Eh ya ampun, lu cerita udah nolongin kucing entu sampe ke ujung dunia, dari orang yang kamu kenal sampe orang yang ga kamu kenal tau kalau lo udah nolongin tu kucing. Itulah pahlawan narsis.

Pahlawan narsis juga biasanya minta upah buat hasil kerjanya. Yes, there are certain things yang perlu dikasih upah. Misal, guru walaupun pahlawan tanpa tanda jasa jelas masih butuh makan dari gajinya. Tukang tambal ban walaupun udah berjasa nambal ban motor tetep harus dibayar biar dia bisa makan. Tapi kalau minta, apalagi berlebihan (nambal ban 20 ribu misalnya), ya itu mah bukan pahlawan lagi, tapi maling (apalagi kalo bocornya ban gara gara paku yang dia tebarin).

Mau tetep jadi pahlawan narsis?

Monday, November 9, 2009

Pindahan ke Wordpress?

Dari sejak beberapa hari yang lalu aku ngutak atik bagaimana biar komentar bisa kebuka. Eh ga bisa bisa…

Di saat desperate, kepikir untuk mindahin sistem blog ke Wordpress. Setelah dites selama beberapa hari, sistem wordpress yang walaupun temanya terbatas tampaknya cukup stabil.

Mudah mudahan dalam beberapa hari kedepan, akan diambil keputusan, apakah akan pindah ke Wordpress atau tetap di Blogger.

Anyway, coba tes sistem komentar yang baru di Wordpress donk…

 

Update: Kayaknya nggak jadi pindahan. Sistem komentar blogger sudah bisa jalan dengan baik dan… ya… lumayan lah… walaupun nggak gitu bener…

Update #2: Duh… halaman paling populer di blog ini soal kebohongan AXIS terpaksa didobel n dipindahin. Apalagi setelah didobel malah nambang “_02.html” di nama file-nya… harus nunggu Google buat ngescan ulang nih…

Update #3: kayaknya memang enggak bisa diperbaiki. Ya sudahlah, yang penting kalo diredirect ada. Mudah mudahan bebeapa jam lg muncul url yang baru…

Itu Kan Cuma Nama… Iya Kan?

“Plis deh… jangan dibesar-besarin.” mungkin itu yang jadi pikiran PM Inggris, Gordon Brown waktu ketahuan salah nulis nama. Kalau misalnya itu surat biasa, nggak akan jadi hal yang gede. Tapi ini bukan surat biasa.

PM Inggris – seperti biasa -  nulis surat pribadi – iya pribadi – ditulis tangan – tulisannya jelek deh – kalau ada anggota Tentara Kerajaan Inggris yang tewas di perang. Dalam kasus ini, di Afghanistan. Yang tewas kali ini adalah Jamie Janes.

Seperti biasa PM Inggris menulis surat. Dari apa yang gw baca (damn emang susah bener baca tulisan bule!), kalimat pertama yang ditulis sudah salah:

Dear Mrs. James.

Jah…. cuma salah satu kata. Kenapa sih harus digede-gedein?

Mungkin emang ga harus digede-gedein. Tapi kalau kamu adalah orang yang memerintahkan pasukan tentara yang dimiliki oleh negaramu untuk maju perang. Dengan kemungkinan waktu perang yang lama. Kemudian ada diantaranya yang tewas, apa yang akan kamu perbuat?

Minta maaf ke keluarga? Tidak… Kita semua tahu, kalau yang namanya perang itu pasti ada korbannya. Setidaknya, ada seseorang yang “harus” menjadi korban. Dan yang menyedihkan dalam hukum perang, kalo kamu nggak membunuh, berarti kamu akan dibunuh. Siapa dan bagaimana kamu harus “membunuh”, itu ditentukan bukan oleh kamu, tapi oleh komandanmu.

SNN0904GX3-280_924722j

Bagaimana cara mengekspresikan “maaf, saya terpaksa mengorbankan nyawa anak anda demi jutaan nyawa lainnya.” itulah yang sulit dilakukan oleh seorang komandan seperti Mr. Brown.

Kalau kata psikolog, tulisan yang semakin ke kanan, lalu kesalahan kata-kata itu menandakan Mr. Brown dalam posisi yang sangat tidak nyaman untuk menulis surat itu. Jarak antar kata yang lebar, tulisan yang acakadut dan sangat sulit buat dibaca. Mr. Brown ingin penulisan surat itu segera berakhir. Satu-satunya yang terlihat lancar dalam penulisan surat itu cuma tanda tangannya.

Apakah itu artinya Mr. Brown tidak menghormati pahlawan perangnya sendiri? Kalau gw sih lebih melihatnya Mr. Brown sedang bingung. Dia melihat masa depan Inggris di Afghanistan suram. Bingung antara biaya perang dan bagaimana mengembalikannya. Di saat kayak gini, eh malah ada yang tewas. Apakah Inggris harus memaaafkan Mr. Brown? Ya, tunggu saja sampai pemilu berikutnya…

Wednesday, November 4, 2009

Do You Speak ‘Bahasa’?

Yap! itulah pertanyaan bodoh kita hari ini. Entah siapa yang memulai, tapi, that ridiculous questions wandering around the internet are really pretty stupid. Dimaafkan kalau yang ngomong adalah bule asli yang belum pernah ngomong Bahasa Indonesia. Tapi kalau misalnya yang ngomong orang Indonesia, bodoh sebodoh bodohnya…

ba·ha·sa n 1 Ling sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri

KBBI

Seperti yang bisa kamu lihat sendiri, bahasa adalah kata benda. Tapi Bahasa jarang sekali bisa berdiri sendiri, prinsip MD-DM harus diterapkan. Bahasa apa yang digunakan? Bahasa Indonesia, DM. ‘Bahasa’ diterangkan oleh ‘Indonesia’, dan ‘Indonesia’ menerangkan ‘Bahasa’. Kalo ribet, pake aja istilah “Bahasa yang digunakan (diterangkan) adalah yang dipakai di Indonesia.”

Yang membuat orang menjadi tampak bodoh adalah ketika hal seperti ini terjadi:

Bahasa

‘do you speak bahasa?’. What the hell are you talking about?

Saat itu gw berada di channel yang Indonesian Oriented. jadi 99% penghuninya harusnya bisa bahasa Indonesia. Tapi ketika gw ditanya, ‘bisakah kamu berbahasa?’ gw merasa sedikit tersinggung. Apakah orang yang nulis ngira kalau gw itu monyet? Jadi nggak bisa ‘berbahasa manusia’?

Please ya, siapapun yang jadi lawan bicara gw pagi ini. Bahasa means Language, Bahasa artinya Bahasa. Sesuatu yang diucapkan. Sesuatu yang keluar dari mulut. Bukan kata benda yang bisa menjelaskan ‘sesuatu yang keluar dari mulut orang Indonesia’!

Gw ada sedikit dugaan kalau semua ini dimulai dari… ehm… seperti biasa… negara tetangga yang namanya Malingsia. Mereka multietnik (tapi ga mau ngaku, jadi yang dua lagi dipressure), dan menggunakan 3 bahasa yang umum. Bahasa Melayu, Bahasa Cina, dan Bahasa Tamil.

Ketika Bahasa Cina bisa disatu-katain jadi Chinese, atau mungkin ada sebagian yang nyebut Cantonese, dan Bahasa Tamil disebut secara simpel Tamil. Maka orang malaysia bodoh menyingkat bahasa melayu menjadi “bahasa”. What a fucking stupid neighbor.

Karena rumpun bahasa yang sama, akhirnya bahasa Indonesia kebawa bawa. orang bule banyak yang menyebut Bahasa Indonesia sebagai “Bahasa”. Padahal Bahasa berarti Language alias Lingua alias Idioma, bukan Indonesian, Indonesio, Indonesisch… Memberi perngertian kepada bule lebih mudah. Tapi kalo orang Indonesia ga ngerti ngerti juga, then mereka hanyalah orang bodoh.

Monday, November 2, 2009

www.honocoro.com, URL untuk semua

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.

Wikipedia

40 tahun setelah koneksi pertama antar komputer, ada breaktrough baru bagi Internet. Kemarin, ya beberapa hari yang lalu sih sebenarnya, ICANN, alias badan yang meregulasi nama domain internet di seluruh dunia, memutuskan untuk memperbolehkan dipergunakannya script selain latin dalam pembuatan domain internet.

800px-Hanacaraka-jawa 

Alamat internet diatas adalah palsu, tapi mulai beberapa minggu lagi, domain seperti honocoro.com sudah mulai bisa didaftarkan. Website dengan domain seperti diatas sudah bisa mulai live sekitar tahun depan. Dan diperkirakan akan mulai booming pertengahan 2010.

Konsekuensi

Konsekuensinya besar, positif dan negatif. Positifnya, negara negara yang menggunakan skrip selain latin seperti Jepang, Cina, Korea, Rusia, Thailand, bisa mulai menggunakan huruf native-nya untuk mengetikkan alamat website. Tak ada lagi acara ke control panel dulu, mengganti keyboard language, mengetik alamat URL, lalu ke control panel lagi, untuk mengganti keyboard untuk menulis email dengan skrip native-nya.

Negatifnya? URL yang sangat lokal tidak bisa diakses semua kalangan. Artinya, kalau mau ngetik URL yang honocoro.com dalam skrip jawa, harus mengerti dulu skrip jawa, dan mengganti keyboard languange dengan skrip jawa. Cape…

Negatif dua, buat para developer dan pemilih domain. Kini pemilik domain harus mendaftarkan dua domain sekaligus atau lebih. Domain honocoro.com harus didaftarkan dalam bentuk latin maupun bentuk skrip jawa. Tambahan biaya yang nantinya akan masuk ke user.

Anyway, pembuatan domain ber-UTF-8 sesungguhnya perlu disambut baik, agar internet semakin global (kayak yang belum global ajah…).

 

Catatan:
Bagaimanapun kamu menulisnya dan menyebutnya, gw akan menggunakan kovensi penulisan sesuai penyebutan. Bukan penulisan sesuai aturan. Jangan ditiru untuk dokumen resmi.
www.honocoro.com adalah domain fiktif yang digunakan sebagai contoh dan tidak mengarah ke situs yang sebenarnya. mengkliknya pada saat tulisan ini dibuat mengakibatkan error 404 (tidak ditemukan).

Kebohongan Dalam Iklan AXIS

Sudah lihat iklan AXIS (GSM) yang mengadakan Internet Unlimited? Kalau nggak diperhatikan dengan baik dan benar, anda bisa saja kemakan iklan bohong yang mematikan ini:

“Internet Unlimited mulai dari Rp. 1500 per hari.”

Iklan AXIS

Mari kita lihat definisi dari Unlimited…

limitless or without bounds; unrestricted

Wiktionary

Jelas bahwa yang namanya unlimited artinya tidak terbatas. Dalam masalah mobile broadband, biasanya ada tiga buah restriksi, yaitu durasi, kecepatan, dan aliran data.

  • Durasi
    Koneksi dibatasi oleh durasi, durasi 5 jam berarti koneksi akan terhenti setelah 5 jam. Jika unlimited, maka koneksi tidak dibatasi berapapun jam-nya (selama berlangganan) dan jam berapa bisa terkoneksi.
  • Kecepatan
    Koneksi dibatasi kecepatan, kecepatan maksimum (biasa disebut up-to) 384 kbps berarti koneksi akan terbatas hingga maksimum 384kbps. Jika unlimited, berarti tidak ada batasan kecepatan, batasan kecepatan adalah batas maksimum yang disalurkan oleh jaringan. Lihat post tips berlangganan internet murah untuk mengetahui batas kecepatan yang disupport tiap jaringan.
  • Aliran Data
    Koneksi dibatasi dengan batasan data. Koneksi berbatas 10GB artinya, setelah 10 gigabyte, ada konsekuensi yang akan terjadi, bisa bandwidth throttling, pemutusan (paket habis), atau bayar tambahan. Jika unlimited, artinya tidak ada batas berapa besar data yang bsia dialirkan.

Biasanya, dalam suatu terms and condition internet unlimited yang umum di Indonesia, ada satu limit absolut yang berlaku, biasanya batasan kecepatan, dan satu limit semu, yaitu batasan aliran data.

Fair Usage Policy

Untuk membatasi user yang ngabisin data banyak banget per bulan, biasanya ada batasan semu aliran data yang disebut “Fair Use Policy”. Dalam banyak kasus, setelah melebihi kuota biasanya bandwidth akan diturunkan ke 64kbps atau 128 kbps. Pokoknya cukup kecil-lah.

Tapi adanya fair use policy ini tidak berarti koneksi putus. biaya tambahan pun tidak dikenakan. Artinya pula koneksi masih tetap dalam kondisi “unlimited” karena kita masih bisa mendownload sebanyak yang kita mau, selama yang kita mau, dengan kecepatan maksimum yang ditentukan. Wajar? Wajar banget…

KAsus Iklan AXIS

Lalu kenapa AXIS saya bilang berbohong? Lihat gambar dibawah…

www.axisworld.co.id_1257165020444 

Gambar diatas saya ambil dari website axis dengan sedikit edit. Full image dapat dilihat disini. Disebutkan disana axis menyelenggarakan paket “unlimited” dengan cara membatasi pelanggan dengan kuota.

Dimana bohongnya? Ini dia.

Tag dalam iklan “internet unlimited mulai Rp. 1.500” tidak benar, sebab dapat dilihat sendiri paket yang berbayar 1.500 memiliki kuota 2MB. Artinya, telah melanggar prinsip unlimited yang ketiga, yaitu bebas restriksi aliran data.

Dalam tabel yang sama, AXIS menyebutkan, kalau mau unlimited bayar Rp. 400.000. Dengan keterangan, Fair usage policy sebesar 5GB. Jika setelah 5GB hanya ada restriksi pembatasan, maka AXIS masih bisa disebut unlimited. Namun, AXIS menyebutkan, setelah 5GB, pengguna harus mulai membayar Rp. 1/kb. Gw jadi bingung, apanya yang unlimited? Axis melanggar prinsip unlimited ketiga, dimana data yang dialirkan dalam satu periode langganan tidak boleh dibatasi, alias tidak ada tambahan tagihan.

Jadi, kesimpulannya, AXIS harus merevisi salah satunya. Entah iklannya, entah programnya. Yang jelas, Semua Koneksi “Unlimited” AXIS, gagal memenuhi standar prinsip unlimited, yaitu membatasi aliran data.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...