Monday, March 29, 2010

1 Adalah “Satu”, Bukan “Setelah Nol”

Kalo lihat Kaskus, thread no 3699921, sekitar halaman 25- 30-an. Ada kekonyolan yang dibuat oleh “pendukung” dari Direktorat Jenderal Pajak. Terutama soal penggunaan kata “oknum” dan “institusi”.

Pembela Dirjen Pajak berusaha bilang kalau yang bersalah adalah oknum, sedangkan “rakyat” bilang, Dirjen Pajak bersalah secara institusi. Lalu? Oh, maaf, ada yang lebih penting dari semua itu. Semuanya diluar hubungan dari oknum dan institusi, rakyat dan pemerintah. Jauh lebih penting...

Angka

Gw masuk udah telat, baru sekitar halaman 28an gw nimbrung di thread yang cukup aktif, dan nggak hanya “nice inpoh gan!” itu. Setelah membaca beberapa halaman, gw menyimpulkan hal ini:

image

Pegawai Pajak, lupa bahwa mereka berurusan dengan angka.

Ya angka. Angka adalah sesuatu yang eksak tidak bisa berubah dalam kondisi segimanapun, kapanpun. Artinya, tak mungkin ada benda tapi dibilang nol, pasti ada yang menambahkannya. Tak mungkin pula yang aslinya tak ada benda dibilang satu, pasti ada yang mengambilnya  atau mengurangkannya.

Pajak, hanyalah sekedar permainan angka angka yang sangat eksak. Apa yang dipajak alias objek pajak telah tertulis dengan jelas dan rapi dalam perundangan dan peraturan yang berlaku. Artinya objek pajak telah menjadi sesuatu yang eksak.

Dalam peraturan tersebut, dikemukakan objek pajak biasanya memiliki nilai tertentu yang tentu saja, biasanya dinyatakan dalam angka. Kembali ke aturan awal, angka adalah eksak.

Peraturan Pajak itu Eksak

Saya kesal dengan seseorang yang bilang seperti ini:

Sangsi = bobrok ??? Anda melihat dari sudut pandang negatif sih...

Gini ya mas, klo Anda melihat dari sudut pandang positif, berarti bagus donk berarti bnyk yg ketangkep tangan.Tidak ada sangsi yg dikenakan ke pegawai blm tentu institusi itu bersih. Siapa tahu aparat Pengawas internnya ga efektif, makanya ga kedeteksi.

Masalah jamin menjamin, bagaimana seseorang dapat menjamin puluhan ribu orang ??? Klo jamin diri sendiri maka saya pasti bisa menjamin. Coba saya tanya balik ke Anda, apakah anda bisa jamin perusahaan Anda bersih dari korupsi dan tindakan kotor lainnya ???

brondong.culun

orang ini seakan akan ingin membuat sebuah kewajaran dimana adalah hal yang wajar kalau sebuah benda tidak selamanya sempurna. ketika pernyataan tidak semua benda adalah sempurna, ini menyalahi sendiri hakikat kerja dari pegawai pegawai pajak tersebut, dimana angka adalah suatu bentuk yang eksak, sehingga pekerjaanya harus dilakukan secara sempurna.

image

kalau anda gagal “menyempurnakan” angka angka itu, artinya gagal pula anda membangun image pajak yang bersih dan transparan. mengapa bisa begitu? analoginya gw tulis seperti ini

pajak, artinya bermain dengan angka

angka adalah sesuatu yang eksak

sesuatu yang eksak, hanya memiliki dua sisi, benar dan salah

artinya tak ada sisi benar negatif, atau salah positif.

1 Harus Dibaca SATU

pegawai pajak seharusnya tidak mungkin membuat kesalahan kesalahan apapun yang berkaitan dengan laporan laporan pekerjaan mereka, dengan alasan apapun. harusnya, yang benar adalah seperti ini:

  • 1 = SATU
  • 0 = NOL

bukan seperti ini:

  • 1 = SETELAH NOL
  • 0 = SEBELUM SATU.

Jika anda menyebut satu adalah setelah nol, maka hal itu adalah salah. karena setelah nol bisa saja jadi setengah, seperempatm tapi bisa juga jadi dua.

kesalahan yang berikutnya adalah kesalahan penentuan variabel pajak. apapun alasannya, pajak benda A jika telah ditetapkan 20% dari harganya maka rumusnya tetap

20 / 100 x harga A

tak peduli kalau benda A sudah lusuh, peyot, penyon, kegiles truk, atau mencrang, bersinar dan baru.tak pernah ada satupun rumusan pajak yang bilang

  • barang jelek, pajaknya 10%
  • barang bagus, pajaknya 100%

image

karena gw pribadi nggak bisa nentuin limit dari mana yang bagus, dan mana yang jelek secara universal. jelek bagus adalah kata sifat. non eksak.

Objektif – Subjektif

kemudian gw makin kaget dengan pernyataan berikutnya:

Yup, mencuri tetap salah. Tapi positif dan negatif sudut pandang tetap harus dibawa biar imbang dan objektif.

brondong.culun

gw nggak gitu yakin apakah anak ini sempat mengenyam pendidikan atau tidak. tapi kalau melihat bahwa pajak adalah sesuatu yang eksak, artinya dia tidak mempunyai subjektifitas akan perhitungannya. lalu gw terilhami dengan kata kata seperti ini:

  • angka adalah benda yang sangat objektif di seluruh dunia
  • jadilah angka patut dinilai secara objektif
  • jika angka telah dibuat secara subjektif
  • maka jangan salahkan publik apabila menilainya secara subjektif pula

pas kan dengan hukum aksi reaksi? hehehe

1 comment:

  1. analisisnya ok.
    lam kenal, blogwaling pagi2 nih

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...