Monday, July 19, 2010

Pengusaha Kok Gitu?

“Lo kan gak kasih makan gw, kenapa gw harus perhatiin lo?”
Seseorang di sebuah milis

Setiap orang punya sisi baik dan jelek. Setiap orang pula, berusaha menutupi sisi jeleknya biar sisi baiknya lebih “terasa”. Wajar. Tapi dalam tatanan sosial masyarakat modern, ada seseorang dengan "”jabatan” tertentu yang harus tampil ~ setidaknya sangat baik. Bahkan cenderung sempurna. Presiden misalnya. Segala sisinya harus sempurna.

image

Sempurna sebagai manusia ya jelas aja beda donk dengan sempurna a’la tuhan. Sempurna disini mungkin bisa didefinisikan secara singkat seperti ini. Kamu mungkin nggak bisa menanggalkan kesalahan yang mungkin terjadi. Tapi ketika kesalahan itu muncul, kamu akan segera memperbaiki dan segera minta maaf kepada yang kamu rasa terkena dampaknya.

Kesempurnaan a’la manusia ini bisa dicapai kok. Dengan atau tanpa bantuan orang lain. Kuncinya adalah anger management. Alias manajemen marah-marah. Kapan harus marah secara “baik”, dan kapan harus meng-ignore sebuah permasalahan. Anger management memang gampang susah-susah kok (artinya banyakan susah daripada gampang). Karena itu, kamu yang bermasalah dengan manajemen emosimu lebih baik melakukannya dengan bantuan orang lain.

Lho, terus apa hubungannya emosi dengan judul diatas?

Gw akhir-akhir ini sering jalan, karena memang sedang dalam proses membangun suatu bisnis. Gw melihat banyak orang dengan tingkat emosi yang berbeda. Ada yang baik dan ada yang buruk. Tapi ada yang bisa sampe membuat gw berpikir, emang “gitu” gitu? Kalo jadi pengusaha harus gitu?

Apa yang gw maksudkan adalah soal quote diatas banget tadi. Quote diatas muncul ketika seseorang yang tidak saling kenal mengingatkan orang lain. Tidak jadi masalah ketika orang lain itu truly “bukan siapa-siapa”. Tapi ketika orang yang diingatkan itu adalah seorang pengusaha, gw jadi bertanya tanya, apakah bener dia seorang pengusaha yang baik? atau, bolehkan seorang pengusaha berkata demikian?

Duit Bisa Datang Dari Manapun

Kembali lagi ke ekonomi perusahaan. Dimana laba adalah bisa dibilang segalanya. Perusahaan yang punya CSR terbaik pun harus tetap menghitung laba supaya bisa terus melakukan CSR dan ujungnya bisa tetep eksis berkelanjutan. Kalau laba sudah sedemikian penting, kok kayaknya nggak pantes gitu, seorang pengusaha, apalagi katanya punya duit yang sangat banyak tiba-tiba berkata seperti itu sambil merendahkan.

Mungkin pengusaha itu lupa, bahwa duit bisa datang dari mana saja. Orang yang dihardik oleh pengusaha itu mungkin tidak akan memberikan langsung “uangnya” kepada pengusaha itu. Bisa saja melalui tangan orang lain.

Contoh yang agak ekstrim mungkin begini: Seorang pengusaha di bidang otomotif sedang mengawasi karyawannya. Tiba tiba seorang pengemis datang, dan yang namanya pengemis, dimana-mana pasti minta uang. Instead say “sorry, I can’t give you some money”, sang pengusaha mengusir plus bilang kalau jangan coba-coba menyentuh usahanya yang bersih tanpa noda dengan tangannya yang kotor. Karena pengemis itu bukan siapa-siapa. Plus, masih juga berkata-kata seperti “nanti gw habisin lu!”.

image

Is it acceptable? No, it’s not.

Gw tidak akan membangun plot cinderella. Tapi kemudian ada seorang pria lain dengan mobil sangat mewah yang mengalami kecelakaan. Kebetulan pengemis itu ikut menolong sang pria. Sang pria kemudian bertanya kepada pengemis, “dimanakah bengkel terdekat saya bisa memperbaiki mobil saya?”. Gw bisa jamin 100% kalau kemudian pengemis itu akan menunjuk bengkel yang tidak menghinanya. Dan ketika pria itu bertanya, “itu ada bengkel, kenapa emang?”. Pengemis itu akan menjawab. Pemiliknya terlalu sombong untuk mengerti apa yang diinginkan customernya.

Well, mungkin kata-katanya agak sinetron-ish. Tapi menurut gw itulah yang akan sangat mungkin terjadi. Pengusaha, owner bisnis juga harus bisa berperilaku seperti Customer Service, atau para Frontliner lainnya. Seperti manajer KFC yang kadang kadang ikut membersihkan meja. Jika tidak, mau seberapapun besar usahanya, mau seberapapun berpengaruh usahanya, ada tiga yang akan terjadi: menilik dari sisi agama: tidak akan berkah, menilik dari sisi sosial kemasyarakatan: tidak akan ada respect, dan menilik dari sisi ekonomi, tidak akan sustainable.

Now, it’s your choice. The internet is not so secret… ya know?

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...