Saturday, August 7, 2010

Adaptasi Elpiji dan Budaya

Kalo orang dulu bilang, “Alah bisa karena biasa”. Menurut Wikiquote, artinya ada 3. Segala kesukaran tidak akan terasa lagi apabila sudah biasa. Sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi mudah.Wah indah ya. Tapi yang mengerikan adalah yang ke 3: Perbuatan buruk menjadi tidak terasa lagi keburukannya bila telah biasa dilakukan. Hari ini emang gw mau ngomong yang agak beratan dikit. Soal pergeseran norma masyarakat.

Indonesia sejak awal bisa dibilang sangat progresif. Sejak tahun 1945, masyarakat terus beradaptasi dengan perubahan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Dari merdeka yang sendirian, kemudian kemerdekaan terbagi pada zaman Indonesia Serikat, kabinet-kabinet ancur, sanering, G30S PKI, orde baru dan segala tetek bengek pembatasan berdemokrasi, demo mahasiswa 1998, reformasi, dan masa geram.

Di zaman damai, dimana manusia Indonesia nggak memikirkan kemerdekaan, atau ancaman dari luar negeri, maka masyarakat akan banyak memikirkan tentang dirinya sendiri. Pada masa periode 32 tahun orde baru berkuasa misalnya, Perubahan kultural dari tahun 65an ke 90an bisa membuat orang yang nggak siap stress abis.

Kultur

Tahun 60 an adalah tahun-tahun dimana Indonesia dalam masa kritis. Negara hampir kolaps karena salah asuh. Pidato presiden yang ada kebanyakan hanya membakar semangat saja. Semangat sih boleh membara, tapi keadaan ekonomi sangatlah kacau. Setelah sanering yang ngebikin (literally or lebay?) puluhan ribu bahkan jutaan orang sakit jiwa. Pada tahun 65 pemerintahan berganti. Kemudian masa tenang datang.

Masyarakat antara tahun 60an dan 70an kemudian menghadapi cultural shock. Di masa yang relatif tenang secara keamanan ini, masyarakat bia menikmati hidup. Perbedaan antara budaya 60an (yang lahir tahun 40-50an) “perang” dan “bertahan melindungi diri” berbenturan dengan generasi 70an (lahir tahun 50-60an) yang… hippies. Masyarakat dari generasi sebelumnya menganggap kalau masyarakat setelahnya santai banged, sebaliknya masyarakat yang lahir dari generasi setelahnya menganggap yang tua “kolot banget”.

Setiap dekadenya masyarakat berubah, dengan atau tanpa paksaan. Perubahan bersifat kultural atau dipaksa dengan aturan. Untungnya semua aturan pada tahun 80an bisa dibilang sangat dikompromikan dengan keadaan masyarakat Indonesia saat itu yang ekonominya memasuki masa “tinggal landas”. Aturan boleh ada dan tertulis, tapi bisa dibengkokkan dengan cara dan daya tertentu.

Pergeseran secara kultural yang terjadi di dunia informasi juga pastinya mengubah cara pandang masyarakat tentang kehidupan secara umum. Ibu gw pernah bilang sekitar dekade 90an, “kok nyawa manusia sekarang kayak nggak ada harganya”. Sekitar 2 hingga 3 tahun, gw mendengar ibu bilang seperti itu. Tapi memasuki milenium hingga meninggalnya, ibu tak pernah lagi berkata seperti itu. Ibu gw telah beradaptasi dengan caranya sendiri, mematikan televisi atau pindah channel saat ada berita yang ~ kalau untuk zaman itu bener bener nggak sedap deh. Untungnya sinetron saat itu masih layak tonton.

Masa kini, perubahan yang terjadi justru lebih cepat lagi. Revolusi yang bernama internet membalut Indonesia. Pada tahun 2000 ketika gw daring untuk pertama kalinya, gw merasa sangat wah. Tahun 2003 ketika gw mulai kuliah, gw perlahan lahan beradaptasi dengan internet dan mulai membuka potensi apa yang ada di baliknya. Disusul pula dengan harga bandwidth yang semakin mudun.

Semakin besarnya arus informasi yang masuk masyarakat semakin dipaksa untuk memilih informasi mana yang baik bagi dirinya, informasi mana yang disukainya. dan informasi mana yang akan dibuangnya. Perubahan seperti ini menciptakan masyarakat yang kemudian sangat beragam. Masyarakat menciptakan blokade sendiri, filter sendiri. Sangat berbeda dari satu individu ke individu yang lainnya. Alah bisa karena biasa. Masyarakat yang terus menerus dicekoki infomasi ini kemudian membiasakan diri dengan masuknya arus deras banjir bandang ini dengan membuat filter.

Setiap perubahan pasti membawa korban dan juga memberikan efek samping. Korbannya adalah orang orang yang tidak akan pernah bisa beradaptasi dengan perubahan itu, dan efek sampingnya adalah apatisme dan sinikal, dialami oleh orang yang kebal akan perubahan dan terus memaksakan kebiasaan hidupnya di zaman yang sudah berubah.

Elpiji

Contoh yang paling jelas meng-cover keseluruhan generasi dari sejak jaman 60an ke sekarang adalah perubahan dari minyak tanah ke elpiji. Tidak seperti perubahan sikap ibu gw tentang berita kriminal yang memakan waktu 3 tahun, perubahan dari mitan ke elpiji ini berlangsung sekejap mata. Dalam sekejap mata pula aturan dibuat untuk mengadaptasi perubahan itu. Sekejap mata pula masyarakat dipaksa untuk mengikuti perubahan.

Jika dalam waktu 3 tahun, ibu bisa berubah menjadi apatis terhadap berita kriminal, mungkin itu karena tidak banyak mempengaruhi dirinya. Toh kemudian dia meninggal bukan karena sebab kriminal, tapi kanker. Tidak demikian halnya dengan ratusan ribu masyarakat Indonesia yang dipaksa mengubah kebiasaan hidupnya dari mitan dan elpiji. Korban berjatuhan secara cepat. Secara literal, puluhan orang meninggal akibat ketidak siapannya. Banyak-banyak lainnya kehilangan pekerjaan dan/atau tempat tinggalnya.

]Jika ibu bisa beradaptasi karena tidak terpengaruh, pemegang elpiji baru pembagian pemerintah mungkin saja tidak bisa beradaptasi, tidak mau beradaptasi, bahkan tak punya waktu untuk beradaptasi (baca: meninggal sebelum beradaptasi), pertanyaannya kemudian, apakah masyarakat boleh dipaksa untuk beradaptasi? Dalam waktu yang sangat singkat?

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...