Friday, November 5, 2010

Benar Buat Hati. Yakin?

Males banget kalo udah in-dillema. Alias terjepit diantara dua paha. Bahkan kadang bukan dua paha lagi, bisa lima paha, 10 paha. Orgasme deh, da orgy. Heheh. Mari nggak kesitu dulu. Tapi pernah gak sih, dalam keadaan dilema? Pastinya pernah donk.

Lalu setelah dilema, muncul apa? Keputusan. Nah keputusan ini yang sering membingungkan. Kadang semikir mikirnya kita sama keputusan itu. Adda aja yang salah. Mending kalo kita mikir A bakal imbasnya B, tapi kalo mikir A imbasnya Z? Jauh bener! Mending juga kalo imbasnya jadi bagus, kalo jadi jelek? Haiyah!

Kalo ngeliat dunia ini ada dua sisi, keputusan apapun yang kamu atau gw ambil dari “kebijakan” itu pasti juga akan menguntungkan dan merugikan, entah bagi gw atau bagi kamu. Tapi, yang pasti kita setelah itu butuh salah satu dari dua hal, kebenaran dan pembenaran.

Lho, apa bedanya? Kayaknya sama. Ya jelas beda lah, walaupun emang sih, yang terjadi pembenaran kadang bagian dari kebenaran.

Pembenaran dan kebenaran emang beda tipis. Kalau kebenaran merujuk kepada sesuatu yang benar, betul dan tidak salah, maka pembenaran acapkali menjadi sesuatu yang dibenerin, dihubung-hubungin, atau dipake ngeles, walaupun nggak bener bener amat. Kebenaran dan pembenaran juga bisa dipakai dalam keadaan bete. Misal, kebenaran-nya (faktanya), cowok kamu jalan sama cewek lain, pembenaran-nya, kamu gak bisa sediain waktu buat jalan sama cowokmu. Jadi hubungan sebab akibat kan?

Tapi bisa juga kebalik, pembenaran dijadikan dasar buat menyongsong kebenaran yang hakiki (haiyah!). Seperti ini:

  • Pembenaran: Karena ngidam, gw pengen makan tahu sebiji dengan cabe rawit semangkok, diblender.
  • Kebenaran: Sakit perut.

Jadi simpel kan? Hehe.

Entah pembenaran, entah kebenaran, Yang jelas kalo in doubt dan mengambil keputusan, kita akan mendapat keduanya, dan adalah wajib untuk meng-embrace salah satunya. Umumnya sih, kalo misalnya keputusan yang kamu ambil bener, maka kamu akan mengambil “kebenaran” untuk dipamerkan dan dibicarakan kepada orang lain. Tapi kalo salah, apalagi mengakibatkan hal yang bener bener nggak ngenakin, maka yang diambil adalah “pembenaran” alias ngeles.


Telling your friend, to leave their husbands is something you just don’t do. If she does break up, it’s your fault. If she doesn’t break up, and she knows that you think she should and therefore can never speak to you again. Either way, you screwed.

Sex And The City – 2x02 The Awful Truth


Sehat nggak sih? Sehat-sehat aja kok. Boasting atau ngeles itu wajar. Tapi, jangan lebay. Kan ada tuh, orang yang setidaknya merasa dirinya benar, lalu nyombong kemana mana. Atau dirinya salah, dicarilah alasan buat ngeles se-edan-edan-nya, sampe nggak masuk di logika.

Tapi manusia juga mahluk sosial loh. Kadang ada temen yang emang enggak bisa menekankan salah satunya, paling sering terjadi adalah enggak bisa mendapatkan pembenaran. Ujung ujungnya ndeprok, bingung dan kayak orang linglung. Terus terusan nanya kok gini kok gitu.

Kalo lo misalnya punya temen seperti itu yang sedang bingung, menurut gw sih, jangan asal terima curhat, lalu cuma terima aja, ditanya “menurut lo gimana” dan kamu cuma bisa jawab: “ya, itu sih, gimana perasaan kamu aja, kalo kamu mau dia a, ya bilang, kalo kamu mau dia b…” bullshit deh.

Saat seperti itu, temen kamu harus ditekankan pada dua hal tadi, pembenaran atau kebenaran. Sayangnya, enggak bisa dua duanya. Dan boy, itu adalah situasi yang bisa disebut gawat darurat. Di satu sisi, mungkin dia butuh pembenaran, atau kebenaran?

Sebenernya kalo kita kenal orang itu udah lama, gampang aja ngasih kebenaran. Kadang menyakitkan, tapi… ya gitu lah. Tapi kalo belum kenal deket, lebih baik kasih pembenaran. Itu lebih “benar” secara emosional. Dan doain aja, sapa tau pembenaran itu bisa berbuah manis.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...