Monday, December 6, 2010

Pajak Untuk Rakyat (?) – Part #1

Sejak kasus Gayus mencuat, kepercayaan gw terhadap yang namanya pemanfaatan pajak, atau retribusi, atau sejenisnya menurun drastis. Saking drastisnya, kadang gw sampe memutuskan segala yang gw beli harus tidak dipajakin dulu.

Dalam kehidupan sehari hari, ada dua pajak yang gak bisa gw hindarin secara langsung. Yang pertama itu Pajak Pertambahan Nilai, alias PPN, dan yang kedua Pajak Pembangunan 1, atau Retribusi Pembangunan 1. Gak jelas antara retribusi dan pajak, karena setau gw daerah gak boleh mungut pajak. Yang boleh retribusi. Ah tapi itu kan cuma term aja.

PPN biasanya muncul kalo gw beli consumer goods, mie instan termasuk. Retail besar maupun warung sekarang berbaik hati. Mereka langsung menambahkan PPN di harga jual mereka. Jadi kalo gw beli mie seharga 1.200, artinya itu udah termasuk PPN. Mata gw gak sepet.

PB1 lain lagi. Ini muncul kalo gw makan di luar, terutama di mall atau tempat makanan yang bergedung. Harga makanan pun jadi agak aneh. misal 4.546, setelah ditambahin PB1 jadi pas 5rb.

Nah, PB1 ini biasanya hanya diterapkan di tempat makan “bergedung”, rada mewah dikit, yang piringnya udah pake emblem. Sekarang, DKI Jakarta sedang merumuskan apa yang dikenal oleh publik dengan “pajak warteg”. Usaha usaha seperti Warung Tegal, Catering, Wedding Organizer, dll yang melibatkan makan memakan, akan dikenai pajak/retribusi sebesar 10%.

Nggak banyak yang protes kalau catering dan wedding organizer dikenai pajak. Tapi warteg? Oh god… kayaknya ini keterlaluan deh. Klausul berikutnya menyebutkan, hanya warteg yang beromzet 60 juta per tahun ke atas yang akan dikenai pajak. Pertanyaan berikutnya, seberapa besar sih omzet 60 juta?

Omzet

Omzet adalah pendapatan kotor, bukan pendapatan bersih. Artinya uang yang kamu dapet dari konsumen, ditotal tiap hari, itulah omzet. Omzet ini akan diputer balik menjadi modal dan beban, atau di-“cair”-kan, menjadi keuntungan. Berapa besar sih omzet 60 juta? Ternyata 60 juta itu sangat kecil kalo untuk urusan warteg.

Kalau kamu membagi 60 juta dengan 365 hari setahun, maka kamu akan mendapatkan angka sekitar 165ribu. Jika saja warteg kamu berada di wilayah yang hanya menguntungkan pada hari kerja, maka didapatkan angka sekitar 230ribu.

Gw pikir angka ini sangat kecil. Rata-rata harga makanan di Jakarta sangat tinggi. Untuk makan di warteg aja, setiap orang rata rata mengeluarkan uang 10ribu untuk mendapatkan porsi yang bisa disebut 4 sehat. Nasi, sayur, lauk protein, dan sepotong pisang. Serendah rendahnya 7ribu kalau lauk proteinnya itu nabati seperti tempe.

Jika ada 16 orang makan tiap hari di wartegmu, maka omzet hari itu sudah 160ribu. Kalau hari kerja, atau dekat tempat yang sangat ramai, 16 orang itu bisa jadi hanya datang pada saat pagi hari aja. Siang hari tentu saja lebih banyak lagi orang yang makan di tempatmu. Belum termasuk yang dibawa pulang, atau beli hanya lauk.

Keuntungan

Seperti yang gw bilang tadi, omzet adalah pendapatan kotor. Berarti setiap warteg yang memiliki pendapatan kotor 160ribu setiap hari harus membayar PB1! Sangat menyedihkan menurut gw.

Bagian kedua dari tulisan ini akan membahas secara tuntas, kira kira, berapa pendapatan yang tersisa dari Warteg setelah dikurang PB1?

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...