Tuesday, December 7, 2010

Pajak Untuk Rakyat (?) – Part #2

Kemarin kita udah bahas seberapa menyiksa, dan nggak tau malunya pemerintah DKI Jakarta kalau menerapkan “Pajak Warteg”. Kali ini kita lanjutkan meneropong, seberapa besar sih omzet 60 juta itu?

Keuntungan

Kita udah hitung sebelumnya, kalau warteg kamu berpendapatan 165ribu aja per hari, maka kamu udah wajib bayar PB1 ini. Berapa besar sih 165ribu?

Menurut ibu gw, orang jualan makanan, biasanya membuat margin keuntungan dari bahan baku yang sangat besar, bahkan hingga diatas 100%. Kalau berkaca sama kata kata ibu gw, maka setengah dari 165ribu itu, akan diputar kembali di pasar tradisional, dimana bahan baku dibeli. Maka pendapatan setelah dikurangi bahan baku menjadi sekitar 85ribu.

Apakah ini jadi pendapatan kamu? Belum tentu. Kebanyakan pula pengusaha warteg bukan asli jakarta. Mereka tinggal di Jakarta dengan cara mengontrak. Berapa harga kontrak kios kecil di Jakarta? Bisa hingga 20 juta per tahun! Ya, okelah, itu angka agak lebay, gw turunin deh jadi 10 juta setahun. Udah termasuk rumah tinggal deh di sudut kios atau di lantai 2 kios. Nah, kita masukin 10 juta per tahun itu jadi harian. Didapatkan angka sekitar 30ribu. Berarti dari pendapatan 85ribu tadi, kita kurangi jadi 55ribu untuk membayar biaya kontrak.

Listrik, kurang lebih 150ribu sebulan, dan Air, kurang lebih 100ribu sebulan. Itupun kalo airnya ngocor, karena setau gw juga, di Jakarta terutama Jakarta Utara, air susah banget ngocornya. Maka Air dan Listrik ini bakalan nambah beban sekitar 8rb per hari. Keuntungan menjadi 43ribu sehari.

Pajak Biadab

Nah, sekarang, jangan lupa, bahwa pajak, dihitung dari omzet, bukan dari keuntungan bersih. Jadi jika warteg kamu memiliki pendapatan 60 juta per tahun, maka kamu harus menyisihkan 6juta per tahun buat bayar pajak, alias sekitar 16.500!

Kalau misal keuntungan bersih kamu 43ribu sebelum pajak, maka keuntungan kamu menjadi 26.500 aja! Alias 795 ribu per bulan! Alias 9.500ribu per tahun! Dari uang yang kamu terima sebesar 60 juta, yang bisa kamu nikmati per bulannya hanya 9,5juta aja? Kok biadab sekali ya kedengarannya?

Wait, 26.500 itu angka optimis loh, bagaimana dengan ongkos transportasi dan jajan anakmu ke sekolah? Bagaimana dengan pengembalian modal seperti panci, dandang, magic jar, kompor, meja, kursi? Jika dikuangi penyusutan, angka itu akan menjadi sangat kecil, bahkan takutnya nggak lebih dari 15ribu sehari alias 450ribu sebulan. Biadab!

Solusi?

Pemerintah biadab tentu nggak akan memberikan solusi. Bahkan saat artikel ini ditulis, tampaknya DPRD DKI Jakarta sudah menyetujui usulan ini. Dirjen Pajak pun sudah “siap” dengan mengatakan “Penerapan Pajak Warteg perlu strategi khusus”. Apa maksudnya ini? Seperti ngirim mata mata ke setiap warteg gitu?

Oh this is so horrible. Tapi selalu ada jalan keluar. Kalau kita kenal yang namanya divestasi, split income dan lain lain. Untuk melaksanakan cara ini, pengusaha warteg harus memiliki hubungan yang baik dengan minimum satu orang lain. Akan lebih mudah kalo sudah punya suami atau istri, tapi pakai teman juga boleh koq.

Tapi lebih baik kita bahas besok lagi aja ya

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...