Wednesday, December 8, 2010

Pajak Untuk Rakyat (?) – Part #3

Sebelumnya kita sudah itung sisa pendapatan warteg. Jadi, bagaimana kita bisa menghindari pembayaran PB1 yang bisa dibilang mencekik, biadab dan dikeluarkan oleh drakula itu?

Diversity

Pertama tama, simak dulu berita yang ini:

Motorola has just announced that it'll formally be split into two companies as of January 4th, 2011. Actually, that's not technically accurate: Motorola Mobility -- the phone and set-top box guys -- will be spun off into their own entity, while the parent company will change its name from Motorola to Motorola Solutions

Engadget

Motorola, adalah perusahaan besar yang membuat telepon genggam, handy talky, tapi juga membuat peralatan komunikasi infrastruktur lain, seperti modem, antena BTS dan repeater. Bagaimana sebuah warteg bisa mencontoh permodelan pemisahan bisnis seperti ini? Jawaban gw adalah, emang kalian enggak butuh minum?

Ketika kita makan di warteg, produk minuman yang mengandung gula atau es, seperti teh manis, es teh, es cincau, es sirup itu biasanya tidak gratis, mereka dibilling berbeda dengan minuman seperti air putih, atau teh tawar super encer.

Produk seperti ini, kurang lebih menyumbang antara 25 hingga 30% pendapatan kotor warteg. Artinya, dari 10ribu yang anda belanjakan di warteg, biasanya 2.500 adalah pembayaran kamu untuk es teh manis.

Nah, untuk “mengurangi” pendapatan warteg biar tidak dipajak, kamu bisa memecah kepemilikan warung kamu dengan pasangan kamu. Misalnya, Kamu memegang makanan, dan pasanganmu memegang minuman. Semua dengan billing dan tagihan yang sama ke konsumen, tapi dengan pembukuan yang berbeda. Cuma butuh modal 1 buku ekspedisi kok.

Nggak Usah Bayar, Weee…

Dengan memisahkan usaha makanan dan minuman aja, omzet warteg minus minuman kamu sudah berkurang menjadi 45 juta. Sedangkan kamu bikin perusahaan minuman baru, yang memiliki keuntungan kotor 15 juta per tahun.

Apa kedua perusahaan itu harus bayar pajak? Enggak, karena pembukuan dan keuntungan dibilling secara terpisah, maka warteg makanan dan warung es yang hanya beromzet 45 dan 15 juta tadi tidak bisa dipajak. Secara nyata kamu tetap mendapat keuntungan kotor sebanyak 60 juta kan? Tanpa pajak kan?

Nah itulah workaround yang bisa dipakai.

Tentu saja ada workaround lain yang geblek, seperti yang “menaikkan harga jual makanan”. Tapi menurut perhitungan gw. Kerusakan di hati konsumen yang terjadi ketika pedagang menaikkan harga makanan lebih besar daripada hanya dengan menambah 1 buku ekspedisi untuk mencatat keuntungan kotor perusahaan kedua kamu.

Seperti yang sering gw rasakan. Ketika gw makan baso dengan harga 7.000, gw akan menerapkan standar keenakan dan kelezatan yang lebih tinggi daripada pas gw makan baso dengan harga 5.000. Kalau sedikit saja masakanmu nggak enak, atau pilihan makanan enaknya cuma sedikit, maka kaburlah pelangganmu.

Pajak Gayus

Sementara pedagang kecil harus memikirkan cara menghindair pajak, baru aja gw lihat iklan di TV. Sebuah himbauan dirjen pajak untuk “membayar pajak dengan jujur”.

Kegiatan split stock seperti diatas itu gw jamin 1000% bukan kegiatan ilegal. Perusahaan besar biasanya menggunakancara seperti itu untuk mengurangi beban pajak progresif yang biasanya dikenakan sama mereka. If they can do that, why we aren’t?

Pemanfaatan pajak di Indonesia emang bisa membuat gw geleng geleng. Di sisi lain daerah terjerat oleh yang namanya APBN yang telah dianggarkan, tapi jalan tetap rusak. Pemerintahan memang bukan warteg yang bisa memindahkan dana seenaknya dari satu pos ke pos lainnya. Tapi kalau Pemerintah berharap warteg bisa seperti mereka, kayaknya mesti ke laut aja deh!

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...