Monday, December 13, 2010

Tidak Istimewa Lagi

Fuck fuck fuck fuck fuck fuck fuck fuck fuck

Samantha Jones @ Sex and The City

Yes baby, we are fucked.

Hari hari belakangan ini emang kita sedang rame sama yang namanya keistimewaan Jogjakarta. All Jogjakartans hailed Sultan. Because? Jelas karena Jogjakarta memang membawa keistimewaan tersendiri yang berperan bisa dibilang sangat besar dalam membawa Indonesia menuju kemerdekaan.

If you would look at TNI’s history, there are Jogjakarta emblemed deeply in it. Even they gave the (only legitimate) 5 star general to Sudirman. A Jogjakartan* Purwokertoan, but having great job in Jogja (CMIIW). The other 3, is not too legit as this one.

We’re Fucked

Ribut ribut Jogjakarta ini dimulai ketika Presiden kita tercinta, tersayang, terindah, tercakep, terharum (yes, he like to be licked), mengatakan “Jangan ada monarki dalam republik” (dan ketika gw searching google untuk sumber, @smart_telecom ngehe).

This is very dangerous. Kalo kamu berpikir, “kita hidup di abad ke 21”, atau “demokrasi is number one”, atau seperti ruhut dan juki bilang “dicerna dulu lah” (emang sapi apa?), then will ya look at the text:

Kami Hamengku Buwono IX, Sultan Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat menjatakan:

  1. Bahwa Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.
  2. Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja kami pegang seluruhnya.
  3. Bahwa perhubungan antara Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung djawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat mengindahkan Amanat Kami ini.

Ngajogjakarta Hadiningrat, 28 Puasa Ehe 1876 atau 5-9-1945

Sampai saat ini, poin 3 tidak pernah diganti, tidak pernah diganggu gugat. Pada jaman Orde Baru, DPRD Jogjakarta selalu membuat workaround dengan hanya menetapkan satu calon gubernur. Simpel. Tapi tampaknya partai bau kencur yang baru lahir itu. Tidak setuju dengan keadaan sekarang.

Segala daya dan upaya kemudian dikerahkan agar Sultan lengser. Survey gajebo yang bilang “71% rakyat Jogja ingin pilkada” misalnya. Tapi setelah mendapatkan penolakan dimana mana, bahkan pengalihan isu dengan “ditemukannya” teroris gagal. Akhirnya terungkaplah mengapa Partai Demokrat ingin agar Jogjakarta melakukan Pilkada (yes, text sebelumnya itu SEO banget).

Logika Gendeng

Untuk melanggengkan kekuasaan para petinggi Demokrat, maka dibutuhkan strategi sebagai berikut.

Pertama, buat Sultan turun dari gubernur dengan pemilihan (paksa) kepala daerah di Jogjakarta. Otomatis seluruh Indonesia kini memiliki gubernur yang dipilih.

Kedua, Servis diam diam UU Pemilihan Kepala Daerah. Cabut segala bentuk “pilkada langsung” dari UU itu, kembalikan Pilkada gubernur ke DPRD setempat.

Belum selesai kontroversi gagasan RUUK DIY versi pemerintah yang memposisikan Sultan-Pakualam sebagai gubernur utama dan menyelenggarakan pilkada, pemerintah kini tengah menyiapkan draf RUU Pilkada yang berisi penghapusan pilkada langsung. Kepala daerah I (gubernur) dipilih oleh DPRD I atau Presiden.

Inilah.com

Ketiga, karena DPRD 2009-2014 sudah “dipegang” oleh partai demokrat, maka seharusnya dengan mudah Partai Demokrat pun memenangkan pemilihan gubernur lewat DPRD.

Keempat, Dinasti Cikeas langgeng.

So, yes, we’re fucked. Satu Jogja dan semua yang mendukung keistimewaannya di-fuck dengan cara dijadikan legitimasi untuk mendukung pilkada gubernur oleh DPRD secara langsung.

Selanjutnya mending kita makan Giga Pudding aja!

Fuck Partai Demokrat!

 

Koreksi:

Menurut Widi <madewidi@g____.___>: “kecuali pada fakta bahwa Jendral Sudirman bukan wong Yogya tapi wong Purwokerto/Banyumas, makanya universitasnya diberi nama beliau.”

Terima kasih atas koreksinya.

2 comments:

  1. makin mumet dengan urusan negara yg makin lama makin kaya sinetron.

    ReplyDelete
  2. Great Blog..!!!! Keep Blogging.... : )

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...