Saturday, February 5, 2011

Anis Matta, PKS, dan Politik Bebas Aktif

Masih inget zaman SD dulu nggak? Atau zaman SMP gw lupa. Kayaknya SD kelas 6. Kita mulai diajarin tentang apa itu Perserikatan Bangsa Bangsa, lalu bagaimana Indonesia berperan dalam kebijakan perdamaian dunia. Bagaimana pula politik luar negeri Indonesia terbentuk. Dan semua itu berakhir dengan kata kata seperti ini:

Politik Luar Negeri Indonesia adalah Bebas dan Aktif

Bebas artinya, tidak menekankan atau melakukan dukungan atau penolakan berlebih kepada urusan dalam negeri suatu negara atau negara-negara yang sedang berkonflik.

Aktif artinya, aktif ikut serta menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan dunia.

Manifestasi dari Politik Bebas Aktif ini mulai dijalankan pada masa pemerintahan Soekarno, kemudian menjadi salah satu kebijakan Soekarno yang “lulus sensor” pada zaman Soeharto. Tapi semakin kesini, tampaknya politik Bebas Aktif ini semakin ditinggalkan. Indonesia semakin bias menuju ke… siapapun yang mau ngasih utangan, atau hibah.

Kalau pada zaman dulu, kita mengenal yang namanya Pasukan Garuda. Yang sempat mampir ke berbagai belahan dunia yang sedang dilanda konflik. Paling terkenal adalah Kongo dan seperti biasa perbatasan Israel dengan negara negara di sekitarnya. Pasukan Garuda memang selalu bergabung dan menjadi bagian pasukan perdamaian dunia dibawah PBB. Karena namanya juga Pasukan Perdamaian, maka Pasukan Garuda dan kontingen lain yang ikut di dalamnya enggak boleh terlibat dalam pertikaian bersenjata antar kedua belah pihak.

Anis Matta dan PKS

Udah gw katakan, makin kesini, politik Bebas – Aktif dimana Indonesia turut menjaga perdamaian di dunia, lalu tidak turut campur dengan urusan dalam negeri orang lain tampaknya semakin lewat aja. Adalah kasus yang paling baru, dari lagi lagi, Partai Kesayangan Kita Semua yang selalu lebih concern tentang masalah yang ada di timur tengah dan selangkangan, PKS, lewat Sekretaris Jendral-nya Anis Matta, membuat heboh Kaskus dan dunia online dan juga membuat mahasiswa mesir dicurigai.

Pertama adalah soal kemiringan PKS ke arah pro demonstran yang mendukung presiden setempat untuk mundur. Seperti yang ditulis Anis Matta dalam Twit-nya:

image

Secara pribadi pak? Mungkin itu memang pernyataan pribadi anda, tapi dalam kenyataanya, sangat jarang, seorang politisi yang ngomong politik, pernyataan pribadinya dianggap sebagai pernyataan pribadi. Sebegimanapun seorang politisi ngomong itu adalah pernyataan pribadi yang tidak mewakili pendapat partai, secara psikologis persepsi masyarakat tidaklah seperti itu. Kenyataannya, masyarakat sangat mudah dan sangat berhak mengaitkan ini dengan partai dan kebijakan lainnya.

Kedua, adalah soal pro dan kontra apa yang dilakukan “kader PKS” disana. Kita punya dua sumber, yang pertama Anis Matta sendiri…

"Ada 6000-an kader PKS di Mesir tapi baru 25 orang yang pulang, mungkin 45 orang lagi yang sudah berkeluarga akan menyusul. Mereka bertahan untuk membantu-bantu di sana, ya logistik atau sekedarnya," beber sekjen PKS, Anis Matta, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (4/2/2011).

Banjarmasin Post

Yang kedua adalah Mahfudz Sidiq, Humas Dewan Pimpinan Pusat PKS

"Karena teman-teman sesama al-Azhar banyak yang turun ke jalan, demi solidaritas, kemanusiaan, ikut membantu dalam hal logistik. Tidak terjun langsung dalam unjuk rasa," ujar Humas DPP PKS Mahfudz Siddiq kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (4/2/2011).

inilah.com

Gw tidak akan mempersoalkan angka 600 atau 6000 seperti yang dihebohkan berbagai pihak, tapi gw lebih miris melihat bagaimana ini partai sangat ikut campur masalah dalam negeri negara lain. Melanggar pakta Bebas yang dianut oleh Indonesia.

Kemudian gw yakin pernyataan ini akan diralat seperti misalnya “kami tidak membantu demonstran, hanya WNI saja.” atau ujung ujungnya “kami tidak membantu siapa siapa, kami hanya membantu KBRI”. Rasanya sudah telat. Seperti yang dikatakan

"Itu tidak benar, tidak ada warga Indonesia yang membantu menyediakan makanan bagi demonstran. Mendekati demonstran saja tidak boleh. Jadi tidak logis itu pernyataannya," kata Mahasiswa S2 Al Azhar, Samsul Ardika, kepada detikcom, Sabtu (5/2/2011)

detik.com

Kalau satu ditambah dua sama dengan tiga, maka pernyataan demi pernyataan ini tentu tidak keluar begitu saja. Mahasiswa bilang tidak bisa mendekat, Humas bilang bantu logistik. Kepada siapa? Buat apa?

Jika terlambat, klarifikasi-klarifikasi gak akan berguna lagi. Hubungan Indonesia – Mesir bisa saja terganggu akibat keisengan politisi yang merasa ada hubungan sejarah dan ikut campur dalam urusan dalam negeri negara lain.

Tinggal gw yang akan membalikkan omongan mereka sekarang: “BERTOBATLAH”.

1 comment:

  1. gw jg sebel dg segala hal yang berbau agama. klo kata chef juna "busuk" tuh pada. apalagi si FPI tuh.

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...