Thursday, April 14, 2011

Sistem Mutu

Sudah baca artikel tentang Tabel Rutin? Itu gede kaitannya dengan yang ini. Jadi menurut gw, kalo belum baca soal itu, mending baca dulu.

Sistem mutu adalah penghasil duit kita yang utama, yang rada mengerikan, yang namanya mutu bukan ditentukan oleh gw, kamu atau siapapun produsennya. Tapi yang beli alias konsumen.

Oh by the way, konsumen itu ada dua

  • End User alias konsumen akhir, menggunakan produk kita untuk… digunakan. Maksudnya bukan untuk diolah lagi;
  • Manufaktur alias produsen, menggunakan produk kita sebagai produk yang belum jadi, alias sama dia mungkin masih diutak utik lagi.

QC dan Toleransi

Katanya sih manusia itu tidak ada yang sempurna, jadi dibuatlah suatu sistem QC yang punya toleransi. Nah toleransi ini yang beda antara satu dengan yang lain. Di Indonesia, toleransi dalam teori sih mungkin sekecil Jepang. Tapi kok dalam kenyataan jauh ya?

Toleransi itu bener bener dinamakan toleransi karena membolehkan kita sedikit melenceng dibawah atau diatas ambang. Misalnya kita membuat tahu dengan ketebalan 2cm dan kita akan ngasih sedikit toleransi ketebalan.

Aslinya toleransi satuannya ada yang dinyatakan dalam relatif seperti persen (%)atau permil (‰) dan dinyatakan dengan absolut. Kalau diaplikasikan sama tahu tadi misalnya, tu tahu punya toleransi relatif 5% atau 5mm. Mana yang lebih besar? Itung aja. 5% dari 2cm itu 1mm.

Jadi Tahu merek A dengan ketebalan 20mm boleh memiliki ketebalan dari 19mm hingga 21mm, sedangkan tahu merek B dengan ketebalan yang sama boleh diproduksi dari 15mm hingga 25mm. Mana yang bakal masuk ke supermarket? Gw rasa tahu A.

Then What?

It’s ok kalo semua barang yang kita bikin telah lewat QC dengan baik, bagaimana yang tidak? Ada dua hal yang dapat dilakukan:

  • Repair
    Barang akan diperbaiki, ini kejadian kalo misalnya melencengnya nggak parah parah amat. Tahu A misalnya punya tinggi 23mm alias lebih 2mm dari batas toleransi. Potong aja dikit. Beres deh.
  • Reject
    Kalo misal tidak bisa diperbaiki, barang akan direject, alias ditolak. Ujungnya bisa direcycle alias daur ulang, maupun dibuang sama sekali

Pada barang kualitas ekspor yang gw temuin, kesalahan sedikit saja biasanya sudah bisa menyebabkan barang itu direject sepenuhnya. Kalau mau lihat, coba saja di Factory Outlet yang bener bener Factory Outlet, misalnya FO sepatu Tomkins di Gedebage, Bandung, atau di Paberik Badjoe milik manufaktur Delami di Soekarno Hatta, Bandung.

 

Lebih lanjut soal Quality Control dan Sistem Mutu, baca ini

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...