Sunday, November 6, 2011

Akhir Dari MotoGP

Gw menulis ini saat MotoGP terakhir tahun ini sedang jalan. Saat start, gw lihat 4 biker jatuh sekaligus. Gw meringis.

Racing world kehilangan dua orang pembalap di tier tertingginya tahun ini. Daniel Clive Wheldon (a.k.a. Dan Wheldon), tewas dalam pile-up 15 mobil di Las Vegas Motor Speedway 16 Oktober lalu. Kurang lebih seminggu kemudian. Marco Simoncelli tewas dalam pile-up 3 motor di Sepang 23 Oktober. Analis masih terus membahas mengapa mereka meninggal. Banyak teori yang terjadi. Tapi ada dua hal yang gw pikirin, dan kita sebagai regular day-to-day driver (bukan racing driver) bisa ngambil pelajaran lain dari kejadian ini.

Dan Wheldon

Dalam kasus Mr. Wheldon, gw yakin 1000% bahwa yang terjadi adalah racing accident, alias kecelakaan dalam balapan. Sepenuhnya menjadi kewajaran, dan sayangnya menjadi kewajaran juga kalau ada korban ‘sesekali’. Korban di Tier 1 balapan sirkuit oval terakhir adalah Dale Earnhart (Sr.) di NASCAR Daytona 500 tahun 2001. Dale Earnhardt tewas di lap terakhir, juga akibat racing accident. Dan Mr. Wheldon kehilangan nyawanya pada ajang Izod Indy Car 2011.

Kesamaan keduanya adalah keduanya berlomba di sirkuit oval. Dimana kamu bisa nginjek pedal, tak perlu ngerem, sepanjang lomba. Kamu hanya ngerem saat pitstop, dan, full course caution. Artinya, kamu akan berlomba sepanjang 300 hingga 500 mil (max. 800km) dengan kecepatan nyaris 300km/h, tanpa ngerem. Efeknya bagi pembalap jelas, letih, konsentrasi berkurang, dan pegel kaki. Keletihan dan kurang konsentrasi menyebabkan waktu reaksi menjadi berkurang. Itu teorinya. Tapi teori ini tidak berlaku pada kasus Mr. Wheldon dan Mr. Earnhardt. Lap terakhir dari Daytona 500 bisa dibilang lap paling membuat kamu melek, baik sebagai pembalap, atau sebagai penonton. Yang jadi biang keladi mungkin reaction time, alias waktu reaksi.

Mr. Wheldon pada saat pile-up berada di belakang. Bahkan kalau kamu ke Youtube dan mencari video kecelakaan fatal ini, bisa dilihan Mr. Wheldon termasuk dalam pile-up yang kedua. Pertanyaannya, mengapa Mr. Wheldon tidak bisa menghindar? Jawaban yang paling masuk akal adalah Mr. Wheldon tidak mempunyai ruang dan waktu yang cukup untuk menghindar. Jika kamu bergerak dalam kecepatan 300km/h, kamu akan bergerak ratusan meter dalam satu detik. Perlambatan (baca: pengereman) yang tiba tiba, bisa membuat kendaraan kamu melayang, selip, dll. Perlambatan yang terlalu lamban juga membuat kamu menabrak orang lain. Simalakama. Itulah yang disebut racing accident.

Mr. Wheldon melakukan pengereman yang cukup bagi seorang pembalap Indy, tapi tidak memiliki jarak dan waktu yang cukup sehingga bergabung dalam pile-up. Mobil Mr. Wheldon terbang selama lebih dari satu detik dan menabrak dinding luar. Terbangnya kendaraan adalah suatu hal yang sangat dihindari di balapan manapun.

Bagi kita pengemudi harian, yang harus kita hargai, pelajari adalah ruang dan waktu. Aturlah jarak yang cukup dengan pengendara lain di depan anda, jadi jika terjadi sesuatu dengan kendaraan di depan anda, anda bisa melakukan pengereman yang aman. Jangan beralasan ada ABS. ABS bisa saja gagal.

Mr. Wheldon dinyatakan meninggal dengan sebab “cedera benturan kepala yang tidak terpulihkan”.

Marco Simoncelli

Dalam kasus Sr. Simoncelli, yang terjadi sedikit lebih rumit. Sr. Simoncelli terjatuh pada lap ketiga MotoGP Malaysia di Sepang. Terlihat jelas bahwa helm milik Sr. Simoncelli terlepas dari kepalanya, yang kemudian (ugh…) ditabrak oleh pembalap lain.

Pertanyaan pada kasus Sr. Simoncelli lebih mudah, dibuat, tapi lebih sulit dijawab. Mengapa helm Sr. Simoncelli bisa lepas? Ikatan kurang kuat? Helm tidak standar? Pertanyaan ini hanya bisa diajukan ke Sr. Simoncelli. Tidak ada satupun telemetri yang mencatat tegangan ikatan helm. Pertanyaan ini praktikal tidak terjawab, apakah Sr. Simoncelli tewas karena kesalahannya sendiri, atau karena racing accident.

bagi kita pengemudi harian, yang harus kita harga dan pelajari adalah keselamatan dan alat keselamatan. Kita seringkali mengabaikan pentingnya ikatan pada helm. Menggunakan helm tidak aman, tidak standar. Tidak ada spion, lampu yang kurang terang, lampu yang tidak menyala. Lampu belakang yang menyilaukan dan lain lain. Tidak mengerti soal keselamatan dan alat keselamatan artinya kamu hanya menunggu waktu terjadinya bencana.

Sr. Simoncelli dinyatakan meninggal dengan sebab “cedera benturan kepala, akibat terlepasnya alat keselamatan [helm]”.

Indy Racing League, , NASCAR, MotoGP, FIM dan FIA menyelidiki kejadian ini dan terus meningkatkan keamanan dan keselamatan saat lomba. Tapi kamu bukan pembalap. Kejadian yang menimpa pembalap seharusnya tidak terjadi pada pengemudi biasa. Kamu bisa aman, tapi mungkin orang lain tidak aman. Kamu punya pilihan, mengingatkan orang lain agar aman, atau sama sama mengamankan diri. Gw pilih yang kedua.

2 comments:

  1. serem ngelihat incident simoncelli...
    sejak saat itu bawa motor hati-hati, ga sembarang nyalip....:D

    ReplyDelete
  2. Memang pembalap yang satu ini agak kontroversial. Tapi bgtu ngeliat dia kecalkaan dan akhirnya meninggal,hati gua tergerak sendiri, ternyata gk ada dia MOTO GP jadi kurang seru, Ibarat sinetron gk ada tokoh antagonis,hee.Tapi walau bagamnapun dia emang salah satu pembalap yang hebat.
    Kunjungi juga yah Web Flash saia Digital Printing Suppliers. Salam Kenal.

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...