Sunday, April 24, 2011

Rangkuman Minggu Ke-2

Senin:

Pagi – Sistem Mutu (Ruang Plumbing)

Ma’mun Hidayat
Rangkuman: Melanjutkan sistem mutu bagian pertama, post digabungkan.

Siang – Gambar Teknik 101

Ma’mun Hidayat
Rangkuman: Pengenalan Gambar Teknik. Ukuran kertas, lettering (font DIN)

Selasa

All Day – Gambar Teknik (Ruang Gambar)

Ma’mun Hidayat
Rangkuman: Mengenal Etiket, cara penulisan etiket. Pembagian garis dan sudut. Mengenal Proyeksi. Membuat Proyeksi Eropa

Rabu

All Day – Gambar Teknik (Ruang Gambar)

Ma’mun Hidayat
Rangkuman: Membuat Proyeksi Amerika, Pengenalan Simbol Pengelasan.

Kamis

Pagi – Laporan Kerja (Suite Room #1)

Suprihadi
Rangkuman: Menuliskan laporan kerja.

Siang – Gambar Teknik (Ruang Gambar)

Tetra
Rangkuman: Pembagian lingkaran menjadi 6 dan 12 bagian.

Notice:
Laman ini akan dihapus apabila seluruh artikel telah tersedia.

Thursday, April 14, 2011

Kerjasama Tim

Pekerjaan ngelas itu yang pasti nggak sendirian. Kita perlu orang lain buat ngebantu, mengawasi dan lain lain. Kita butuh kerjasama. Secara Definisi, yang namanya tim itu beda sama kelompok, meskipun sama sama dua orang atau lebih yang pengen mencapai satu tujuan yang sama. Kenapa gw bold? Karena itu definisi dari kerjasama.

Yap, gambar diatas adalah Goggle V, mereka adalah satu tim, bukan kelompok. Iya, ada bedanya antara kelompok dan tim lho.

Kelompok vs Tim

Perbedaannya… mending langsung baca di tabel ini kali ya, gw males nulis. Hehehe.

Jenis tim sendiri ada yang formal ada yang informal. Tau sendirilah apa bedanya. Lalu dibagi lagi menurut kepemimpinannya. Yang pertama ada tim vertikal yang hanya punya satu manajer dan tim horizontal yang punya beberapa manajer yang ngurus hal hal spesifik.

Dari situ dibagi lagi dalam beberpaa jenis tim, Satgas alias Satuan Tugas atau Task Force biasanya dibentuk secara insidental, cuma buat beberapa waktu tertentu aja, dan Komisi yang dibentuk buat jangka waktu panjang dan ngurus berbagai hal.yang walaupun spesifik tapi punya interest yang sama.

Tim Virtual dan Global

Tim Virtual itu tim yang dalam kapabilitasnya nyaris tidak pernah ketemu di dunia nyata, hanya ketemu di internet atau alat komunikasi lainnya. Yang jelas mereka masih sempat komunikasi.

Sebaliknya tim global, walaupun ada internet ada international direct call tetep tidak pernah ketemu dalam hubungan apapun. Manager merekalah yang menghubungkan satu dengan yang lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan.

 

Bacaan lainnya soal Tim dan Kelompok

Gambar dicomot dari

Sistem Mutu

Sudah baca artikel tentang Tabel Rutin? Itu gede kaitannya dengan yang ini. Jadi menurut gw, kalo belum baca soal itu, mending baca dulu.

Sistem mutu adalah penghasil duit kita yang utama, yang rada mengerikan, yang namanya mutu bukan ditentukan oleh gw, kamu atau siapapun produsennya. Tapi yang beli alias konsumen.

Oh by the way, konsumen itu ada dua

  • End User alias konsumen akhir, menggunakan produk kita untuk… digunakan. Maksudnya bukan untuk diolah lagi;
  • Manufaktur alias produsen, menggunakan produk kita sebagai produk yang belum jadi, alias sama dia mungkin masih diutak utik lagi.

QC dan Toleransi

Katanya sih manusia itu tidak ada yang sempurna, jadi dibuatlah suatu sistem QC yang punya toleransi. Nah toleransi ini yang beda antara satu dengan yang lain. Di Indonesia, toleransi dalam teori sih mungkin sekecil Jepang. Tapi kok dalam kenyataan jauh ya?

Toleransi itu bener bener dinamakan toleransi karena membolehkan kita sedikit melenceng dibawah atau diatas ambang. Misalnya kita membuat tahu dengan ketebalan 2cm dan kita akan ngasih sedikit toleransi ketebalan.

Aslinya toleransi satuannya ada yang dinyatakan dalam relatif seperti persen (%)atau permil (‰) dan dinyatakan dengan absolut. Kalau diaplikasikan sama tahu tadi misalnya, tu tahu punya toleransi relatif 5% atau 5mm. Mana yang lebih besar? Itung aja. 5% dari 2cm itu 1mm.

Jadi Tahu merek A dengan ketebalan 20mm boleh memiliki ketebalan dari 19mm hingga 21mm, sedangkan tahu merek B dengan ketebalan yang sama boleh diproduksi dari 15mm hingga 25mm. Mana yang bakal masuk ke supermarket? Gw rasa tahu A.

Then What?

It’s ok kalo semua barang yang kita bikin telah lewat QC dengan baik, bagaimana yang tidak? Ada dua hal yang dapat dilakukan:

  • Repair
    Barang akan diperbaiki, ini kejadian kalo misalnya melencengnya nggak parah parah amat. Tahu A misalnya punya tinggi 23mm alias lebih 2mm dari batas toleransi. Potong aja dikit. Beres deh.
  • Reject
    Kalo misal tidak bisa diperbaiki, barang akan direject, alias ditolak. Ujungnya bisa direcycle alias daur ulang, maupun dibuang sama sekali

Pada barang kualitas ekspor yang gw temuin, kesalahan sedikit saja biasanya sudah bisa menyebabkan barang itu direject sepenuhnya. Kalau mau lihat, coba saja di Factory Outlet yang bener bener Factory Outlet, misalnya FO sepatu Tomkins di Gedebage, Bandung, atau di Paberik Badjoe milik manufaktur Delami di Soekarno Hatta, Bandung.

 

Lebih lanjut soal Quality Control dan Sistem Mutu, baca ini

Wednesday, April 13, 2011

Membuat Rutinitas Kerja

Why do we need this? Why not directly get on the job and everything is done? Why must using routine table? Gw jamin, tanpa tabel rutin semuanya jadi kacau. Produktivitas gak turun jauh sih, tapi yang jelas lupaan semakin banyak. QC-akhirnya bisa jadi payah. Bahkan harus repair kalo lupaanya banyak banget.

Contoh jelas, waktu bikin warnet kemarin, gw belum punya tabel rutin, siapin ini itu dari internet. Pas pelaksanaan lupa semua. Install menurut apa yang ada di mata duluan. Ahasil, setting di beberapa komputer beda jauh dengan apa yang diinginkan. Akhirnya, semua balik lagi di kloning. Pret.

Bagaimana cara membuat tabel rutin?

Pertama, harus tau dulu apa yang akan dibikin, gimana cara bikinnya dan alat dan bahan yang diperlukan. Simpel kan? Nggak juga. Langkah ini memerlukan penelitian yang intensif, apalagi kalo benda yang akan dibuat belum pernah dibuat.

Misalnya kalau misalnya pengen buat kubus dari alumunium. Tentu saja aa bahan alumunium yang terlibat, lalu ada gambar kerja, gerinda pemotong dsb dst dll. Kalau perlu, sejak persiapan, minta bantuan orang yang lebih ahli buat menjelaskan apa aja yang dibutuhkan.

Kemudian, setelah semua bahan dan alat siap, tuliskan langkah itu dalam sebuah kertas. Nanti deh formnya gw uploadin kalo sempet. Soalnya ini nulis darurat banget. Hehehe. Okelah kalo nggak mau paperwork demi alasan lingkungan, tapi for god sake tulis aja dimana gitu. PDA kek, tablet kek… sukur sukur kalo punya database.

Ketiga, dokumentasikan semua yang udah pernah dikerjakan. pleus laporan kerjanya. Biar suatu saat kalo misal nanti kembali harus buat sesuatu yang sama, gak harus bikin dari awal.

Keempat, update jika perlu. Jaman berubah lho, nggak mungkin teknik gitu gitu aja kan? Sapa tau mesin yang kemarin rusak, cara nyoloknya beda, stekernya pindah, dll deh.

Sampel

Routine Table: Membuat Mi Instan

Persiapan.

Target Akhir:

  • 1 Mangkok mi instan dengan atau tanpa aksesoris.

Bahan / Alat

  • Sebungkus mi instan
  • Air
  • Mangkok
  • Panci
  • Kompor
  • Aksesoris / bahan lain
Proses

Cara Kerja

  • Nyalakan kompor, panaskan air dalam panci
  • Potong aksesoris dan bahan lain
  • Masukkan aksesoris padat atau lama matang ke dalam air mendidih
  • Masukkan mie, masak sesuai aturan dalam kemasan
  • Masukkan aksesoris lunak
  • Matikan kompor, hidangkan mie
Quality Control
  • Cek apakah mie sesuai standar rasa yang ditargetkan
  • Cek apakah mie terlalu lunak
  • Cek apakah cara dan metode memasak masih perlu diupdate
  • Cek apakah ada bahan yang perlu didefiniskan cara memasaknya
  • Cek apakah rutin ini perlu diupdate.

Simpel kan? Nggak usah rumit rumit kayak yang dikasih sama instruktur juga nggak papa kok. Asal semua aturan yang sudah disederhanakan dipenuhi, semua bakal berjalan lancar kok

 

Lebih lanjut soal rutinitas kerja bisa dibaca di:

  • Belum ada tautan

Form kosong rutinitas kerja

  • PDF File Format (memerlukan Adobe Reader 7 keatas)
  • DOCX File Format (memerlukan Office 2007 keatas)

Tuesday, April 12, 2011

Keamanan dan Keselamatan Kerja

Pernah denger ini?

Peraturan dibuat untuk dilanggar

Jika kamu sudah bekerja, apalagi kerja yang agak berhubungan dengan nyawa. Jangan coba coba melakukan pernyataan diatas. Peraturan di dunia kerja tidak dibuat untuk dilanggar.

Sampel? Karena ini blog soal ngelas, mari kita ngomong soal komponen yang dipakai buat ngelas. Tak lain dan tak bukan adalah api. Sampe sini masih belum jelas juga? Belum tahu bahayanya api? Lebih baik anda tutup blog ini dan cari pekerjaan yang lebih baik daripada ngelas.

Jika kamu perawat, jangan salah nyuntik. Jika kamu dokter, jangan salah ngasih obat. Jika kamu welder, jangan salah ngelas. Akibatnya akan fatal. Hasil las kamu keliatan bener dan lulus QC? Selamat, tapi jangan lupa soal keselamatan diri kamu sendiri.

Yang gw maksud adalah simbol simbol yang ada di peringatan di sekitar lingkungan kerja. Seperti ini:

D-M005 Fußschutz benutzen, Gebotszeichen

Itu gambar diatas artinya kamu harus pakai sepatu keselamatan, alias Safety Shoes. Jangan coba coba pakai sepatu biasa, sepatu karet atau sepatu kain. Di lingkungan pengelasan yang penuh dengan api, sepatu seperti itu gampang kebakar. Mending kalo cuma bolong. Kalau kakimu ikut kebakar?

Simbol

Ada beberapa simbol di lingkungan kerja yang gw pikir harus diperhatikan dengan baik. Di negara negara barat, simbol itu sudah distandarkan dengan baik. DIN misalnya sudah membuat simbol khusus seperti gambar di atas. Negara seperti Jepang, lebih kreatif lagi. Silahkan tebak apa maksudnya gambar ini:

Safety signs in the subway, Tokyo, Japan

Buat yang mikir itu tanda yang ada hubungannya dengan pekerja setempat, kamu salah, itu bukan tanda untuk pekerja, tapi tanda buat masyarakat sekitar. Bacaannya kurang lebih, “Maaf sedang ada pekerjaan konstruksi. Mohon maaf jika pekerjaan ini mengganggu anda.”

Kembali ke simbol. Soal tanda tanda yang biasa ditempel di tempat kerja, dibagi beberapa macam.

Pertama sesuatu dengan latar belakang biru. Itu artinya saran atau kewajiban. Sama seperti rambu lalu lintas. Sampelnya udah gw kasih diatas.

Yang dengan latar belakang kuning, biasanya peringatan keras. Misalnya seperti ini:

Awas bahaya api. Jelas kan?

Kemudian yang dengan border merah dengan latar putih biasanya larangan keras. Seperti ini:

Artinya kurang lebih jangan dipakai dalem bak mandi atau ember atau sesuatu yang berisi air.

Yang berlatar belakang merah penuh keadannnya sudah lebih gawat lagi. Kamu mau memperhatikan ini jika keadaan darurat. Seperti ini

Biasanya dipake di Perancis, artinya Alat pemadam kebakaran.

Yang terakhir berlatar belakang hijau. Biasanya dipakai sebagai jalur keselamatan. Agak susah nyontohinnya karena nggak ada.

Artikel ini panjang, tapi intinya cuma satu. Jangan ikutin anekdot lama yang bilang “Aturan itu dibuat untuk dilanggar”. Ok?

 

Selanjutnya tentang ini dibahas di sini:

Contoh gambar keselamatan bisa dicomot dari sini:

Monday, April 11, 2011

Tata Graha dan 5S

Apa itu tata graha? Awalnya gw pikir mungkin ini keliatan nggak gitu penting. Maunya sih, di hari pertama langsung ngelas. Tapi ternyata enggak. Ada first thing first yang harus diketahui. Iya gw pikir, diketaui aja dulu, nggak usah dilaksanakan (kalo misal dirasa gak penting).

Tata graha itu bukan tata rumah, tapi penataan lingkungan kerja. Biar pekerjaan menjadi lebih mudah, gampang dan cepat diselesaikan. Kenapa jadi penting? Here is the deal:

Di sebuah pabrik mass production, kamu ditargetkan mengelas 2000 buah barang produksi. Jika dengan tata graha yang bagus dan teratur, kamu bakal selesai tepat pada waktunya. Jika tidak, kamu harus lembur, dan beberapa perusahaan bisa kejam dengan tidak memberikan uang lembur. Jelas?

Five S, Lima S

Tata Graha yang paling efektif di dunia ini tidak heran dateng dari negara dengan industri yang maju di dunia, yaitu Jepang. Dengan penelitian selama ratusan tahun, berevolusi dan berrevolusi, para manajer di Jepang sudah memiliki sistem yang dinamakan 5S

整理(せいり、Seiri)
いらないものを捨てる
整頓(せいとん、Seiton)
決められた物を決められた場所に置き、いつでも取り出せる状態にしておく
清掃(せいそう、Seisou)
常に掃除をして、職場を清潔に保つ
清潔(せいけつ、Seiketsu)
3S(上の整理・整頓・清掃)を維持する
躾(しつけ、Shitsuke)
決められたルール・手順を正しく守る習慣をつける

5S on Japanese Wikipedia

Gak bisa bahasa Jepun? Sini gw terjemahin.

Seiri alias Rapikan alias Sorting, artinya ya susun. Susun peralatan kerja menjadi hierarki dan penempatan yang mendukung pekerjaanmu. Buang yang enggak perlu, dan simpan dengan baik yang perlu.

Seiton alias Ringkaskan alias Straighten membutuhkan sedikit modal. Untuk mendukung penyusunan, kamu harus mempunyai wadah untuk semua peralatan yang kamu butuhkan. Buat sistem yang baik, dan jangan lupa diberi label yang cukup jelas.

Seisou alias Resikkan alias Sweep adalah hal yang paling “berat” untuk dilakukan. Semua peralatan yang dipakai harus dibersihkan lebih dulu kalau mau disimpan untuk keesokan harinya. Kamu nggak mungkin membersihkannnya pagi pagi sebelum bekerja. Mending besihkan setelah semua selesai.

Seiketsu alias Rawati alias Standarizing. Jika kamu punya rutinitas khusus pekerjaan, lakukanlah secara terus menerus berulang secara berkala, jangan langgar satu untuk mendahulukan yang lain, apalagi jika pelanggaran itu bakalan merusak hasil secara keseluruhan.

Shitsuke alias Rajin alias Sustaining diperlukan untuk merawat keempat standar diatas. Jika kamu hanya bagian dari produksi, kamu harus membantu temanmu untuk merawat standar yang ada, mengingatkannya jika ia membuat kesalahan, dan lain lain.

How this works?

Bagaimana ini bisa berhasil? Percayalah, perusahaan besar di jepang telah menerapkan metode ini, dan hasilnya bisa kamu lihat sendiri jika Jepang telah menjadi negara yang sangat maju perindustriannya.

Beberapa pabrikan Jepang yang ada di Indonesia juga mulai melakukan standarisasi 5S di pabrik mereka. Hasilnya? Tingkat produk cacat produksi (bukan cacat desain ya!) yang rendah, dan tingkat kecelakaan kerja yang juga rendah.

Simpel? Simpel kok. Then let’s do it!

 

Informasi lain soal artikel ini bisa dilihat di:

Konvensi, Aturan Dasar, Pengertian, Whatever…

Kenapa gw mencatat ini di blog? Kenapa nggak bikin buku aja? Atau kenapa nggak biarin aja terpendam di buku catetan campur-campur? Oke, here is the problem:

Gw akan mengulang kata-kata yang instruktur selalu omongin. “anda mengikuti kursus gratisan, dari duit rakyat.”

Ya emang, ini kursus gratisan selama 6 bulan dibiayai oleh duit negara, duit rakyat, duit 10% tambahan yang kamu bayarin pas makan di McDonalds atau KFC. Jadi gw punya tanggung jawab untuk menyelesaikannya.

Cuma itu aja? Gw pikir, selesai aja nggak cukup. Mari kita bawa ini ke tingkat yang lebih tinggi. Gw usahakan ngeblogging apa yang gw dapet di kursus ngelas ini, supaya kalian juga bisa ngerti apa yang gw maksud.

Konvensi dan Aturan Dasar

Gw benci menulis dengan bahasa halus, anda, saya. Bocen deh! Ini konvensinya buat kamu biar gak kaget-kaget dengan apa yang akan gw tulis.

Pertama, gw tidak akan menulis dengan bahasa formal. Gw akan menulis dengan bahasa yang mudah mudahan bisa dipahami buat tahun 2011 keatas. Artinya, gw nggak mau audiens bangkotan yang udah 40 tahun keatas ngomel dengan bahasa nonformal yang gw pakai. Oke?

Kedua, apa yang gw tulis disini, perlu dipikirkan ulang, jangan telen semua secara mentah mentah. Kenapa? Gw bukan orang yang expert, bahkan ketika memulai blog ini, gw belum tahu apa apa soal ngelas.

Ketiga, satuan apapun yang gw tulis disini, angka apapun yang menyangkut satuan panjang, selalu ditulis dalam milimeter. Kecuali, jika gw tulis lainnya.

Oke, gitu aja kali ya, mari kita kemon ke bahasan yang pertama…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...