Saturday, January 7, 2012

Merakit vs. Membuat

Gara gara Jokowi, walikota Solo, jadi heboh dah anak-anak SMK bisa merakit mobil yang judulnya “esemka” (obvious banget ga?). Dan kemudian disambutlah dengan kontroversi dadakan a’la politisi yang setuju vs. tidak setuju. Yang bilang biarin gak lulus uji yang penting nasionalisme vs. yang pengen otaknya masih one-piece setelah naik tu mobil.

Gw gak ikutan, gw belum berencana beli mobil. Mobil Truk yang gw pengen cuma Ford, mau F-150, mau F-650 diterima dengan tangan terbuka, apalagi kalo hratisan. Tapi yang gw bikin agak miris adalah ternyata anak-anak SMK itu baru bisa merakit mobil. Belum bisa membuat mobil.

Aaah biarin, yang penting bisa.

Ada bedanya dodol!

Merakit itu gampang, kasarnya lo dikasih buku panduan, dikasih obeng, tang, welding torch, mur, plakplek dikit jadi deh. Dulu heboh Laptop SMK juga, lha gw bingung apa hebatnya anak anak yang diajarin sekrup sana sekrup sini? Semua komponen sudah fit. Tinggal disatuin. Bahkan casingnya juga udah ada. Jangan-jangan buatan Cina?

Dan waktu itu gw juga gak bangga sama sekali. Gw akan bangga kalo indonesia sudah bisa bikin prosesor sendiri. Ya… subsidiary Intel atau AMD juga gak papa lah. Sukur sukur nanti bisa bikin arsitektur prosesor sendiri.

Yang susah itu membuat. Membuat itu butuh proses panjang. Mulai dari ide, lalu maju ke meja gambar, ngitung, bikin prototipe, test alpha, test beta, baru deh general public. Dan sepanjang perjalanan, kamu harus mikir. Nggak bisa cuma ngepas-ngepasin.

Yang bikin lebih gak simpel lagi, dunia ini penuh ranjau. Ide aja, bisa dipatenin. Kalo kamu bikin sesuatu, pastikan ide itu belum dipatenin, sukur-sukur ternyata public domain. Kalo udah dipatenin, jadilah kamu harus bikin alternatifnya, atau kembali ke box no. 1, alias nggambar ulang.

Ketika mobil esemka itu sudah siap produksi, mulailah produsen besar Toyota, Honda, Ferarri, Ford, dan semua merek mobil menginspeksi, adakah elemen paten mereka nempel di mobil itu? Kalo ada, mari kita tuntut. Jalan keluarnya? Kayak Cina, beberapa merek gak akan bisa keluar negara itu, walaupun kemiripannya dengan BMW 99,99%. Standar keselamatannya? Jangan tanya. Sasis doang.

Industrialisasi

Merakit itu beda jauh dengan membuat. Membuat adalah kerjaan orang manusia, merakit adalah kerjaan “robot”. Tidak diperlukan kemampuan besar untuk merakit. Makanya kita bisa bikin robot untuk merakit, tapi susah banget bikin robot untuk membuat.

Jadi, bagi adek adek SMK, anda memang dipersiapkan untuk menjadi robot di masa depan. Anda hanya perlu karbohidrat, bukan protein. Anda disiapkan menjadi yang rada bawah di rantai makanan.

Tapi… memang di kehidupan ini harus ada yang top dan ada yang bottom kan? #nyengir

 

-- update:

ternyata belum jelas apakah “esemka” itu dirakit atau dibuat. apakah mesinnya tiru tiru dari mesin yang sudah ada, atau textbook. tunggu nanti ada kompromi aneh atau tuntut-tuntutan atau enggak. yang jelas “TIMOR”, proyek mobil nasional jaman orde baru pake mesin Hyundai.

 

-- update kuadrat:

Oh for god sake… ternyata mesinnya masih pake mesin Hyundai. Sama kayak TIMOR. Dan komponennya mash-up dari pabrikan a-be-ce-de. Lulus uji mungkin, tapi lulus paten susah.

3 comments:

  1. harusnya mereka anak-anak smk diapresiasi gan, walaupun mereka merakit itu juga sulit dengan segala keterbatasan mereka dr biaya dan pengetahuan ..ga segampang yang diomongin..coba liat anak kuliahan mereka merakit apa coba..

    ReplyDelete
  2. Lu udah liat kurikulum SMK Otomotif? Kurikulum SMK Otomotif itu semuanya "diwajibkan" bisa merakit. Jadi NOTHING SPECIAL. Ibarat lu bisa kalkulus pas kuliah.

    Fakta bahwa yang mereka rakit adalah TEMPLATE, yang mirip mobil cina ~ lu cari sendiri deh di kaskus ~ makin bikin gak istimewa lagi.

    Universitas seperti ITB, ITS, atau yang terkenal sedunia seperti MIT atau Caltech, hanya MEMBUAT, mereka TIDAK MEMPRODUKSI. Yang memproduksi adalah paberik.

    Ngemeng-ngemeng apa kabar tu kisah kasih mobil yang dihebohin dua minggu lalu ituh. Kok silent banget skrg.

    ReplyDelete
  3. setuju gan, emang udah saatnya Indonesia dalam konteks MEMBUAT bukan MERAKIT. kali aja tulisan ente ini dibaca n dijadikan motivasi bagi pemerintah untuk manggil n mbiayain ilmuwan-ilmuwan kita yang kadung mencolot ke LN.

    ReplyDelete

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...