Monday, February 11, 2013

REBLOG: Surat Untuk Ustadz Hilmi Aminuddin

Posting ini merupakan REBLOG dari TARBIYAHBUKANPKS. Isinya tidak diubah sedikitpun.


Muqoddimah:

Latar belakang kedatangan kami :

Kami orang-orang biasa yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagian kami masih ber-waztan (wazhifah tanzhim/tugas struktural), sebagian tidak lagi, ada juga yang belum pernah ber-waztan internal. Kesatuan kami hanyalah pada kesatuan hati dan kecintaan kami kepada Jama’ah ini. Terlebih lagi, bagi beberapa orang di antara kami, Ustadz adalah guru kami dan tetap demikian di hati kami. Kecintaan mantan mutarobbi tak pernah boleh diukur dengan perubahan status kami sekarang, maupun dengan sikap kami saat ini dalam menghadapi permasalahan Jama’ah.

Bagi kami semua se-Jama’ah ini, Ustadz tak pernah dilupakan sebagai guru awal dan pendiri organisasi ini, sudah amat banyak jasa Ustadz yang kami yakin tak akan dihapus demikian saja oleh manusia maupun oleh Allah SWT, Insya Allah.

Bermula dari berbagai hal yang terjadi sejak lama, sedikit demisedikit, dan kemudian sekarang menjadi tak tertahankan. Apalagi fenomena “tak tertahankan” tersebut sudah bukan lagi terasa secara internal, tetapi juga sudah sangat terasa di luar komunitas kita, yaitu di masyarakat. Di internal kita rasakan a’dho sudah gelisah dan gonjang-ganjing, penurunan tsiqoh kepada Qiyadah, jama’ah dan kecurigaan antar sesama a’dho sudah meluas, sedangkan secara eksternal terjadi penurunan tsiqoh objek dakwah secara luas dan signifikan. Oleh karena itu izinkanlah kami terdahulu memohon maaf atas keterlambatan kami untuk memberikan hak taushiyah kepada Ustadz sehingga baru sekarang kami melakukannya. Yang sebenarnya adalah karena kami masing2 mempunyai kekhawatiran jika pendapat-pendapat kami ketika sendiri-sendiri, lebih dominan diwarnai subyektifitas kami sebagai manusia.

Alhamdulillah, Ahad 23 Maret 2008 kemarin atas izin dan mudah2an Ridho Allah SWT, kami berkumpul (bertempat di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor) untuk membicarakan permasalahan Jama’ah. Semua datang dengan motivasi yang sama: cinta kepada Jama’ah, sayang kepada Ustadz dan sadar akan kewajiban taushiyah kepada Ustadz. Tidak ada dalam pertemuan kami tsb yang mempunyai agenda melecehkan atau mengkudeta Ustadz, meskipun warna emosi dan warna semangat kami berbeda-beda, tujuannya sama: ishlah dalam Jama’ah yang sama-sama kita cintai ini.

Kami berharap Ustadz dapat menerima kami dengan kepala dingin dan hati terbuka dengan sama-sama berharap keRidho-an Allah SWT. Kami juga mohon maaf jika dalam tulisan ini maupun dalam penyampaian lisan kami ada kata-kata yang menyinggung, meresahkan atau membuat Ustadz sedih, maafkanlah kami, karena sesungguhnya kami adalah “anak-anak Ustadz” dalam harokah ini. Tiada lain kami menyampaikan ini semua sebagai anak kepada bapaknya. Kami berdoa semoga kelak di Jannah kita semua akan berkumpul kembali dan saling bergembira dengan pertemuan tersebut bersama-sama dengan para Nabi, Syuhada, Siddiqien, dan Sholihiiin. Amin.

Kami memandang ada 3 pokok permasalahan dalam Jama’ah saat ini :

Masalah aplikasi SYSTEM:

  1. Tidak diposisikannya TARBIYAH sebagai CORE COMPETENCE jama’ah, meskipun diatas kertas-kertas kerja tertulis dengan jelas, dan di dalam taujihat dibunyikan dengan lantang. Contoh misalnya :
    1. Lemahnya tarbiyah setelah seseorang bergabung dengan struktur

ضعف التربية بعد التنظيم

Fenomena menurunnya porsi mutaba’ah ibadah (seperti ma’tsurot hanya shughro), tidak lancarnya tatsqif, dan merosotnya kualitas taqwim dll, sementara aktifitas politik dimutaba’ah dengan ketat dan disertakannya iqob.

  1. Tersendatnya aplikasi manhaj pencetakan para naqib

عدم تطبيق منهج تخريج النقباء

Fenomena naqib terlalu sedikit, pencetakan naqib baru kurang lancar, tersendatnya aktifitas usar hanya untuk politik, naqib-naqib yang kurang bijak, naqib-naqib yang meninggalkan pos karena tugas-tugas yang terlalu banyak dll.

  1. Pelanggaran-pelanggaran / pencederaan terhadap syuro bahkan sampai merekayasa hasil keputusan syuro[i].
  2. Tidak ditegakkannya keadilan dalam berbagai kasus yang sudah mutawatir
  3. Tidak transparannya cashflow keluar-masuknya uang dalam jumlah fantastis[ii]
  4. Dalam masalah maal:
    1. Tidak dipedulikannya rambu-rambu syariat dalam keluar-masuknya uang.
    2. Tidak transparannya pemisahan dan audit penggunaan atas dana-2 sehingga tidak jelas mana aset pribadi dan mana aset jamaah.[iii]

 

2. MURAQIB ‘AAM

  1. Tidak qudwah

i. Dalam hal keluar-masuknya uang (tidak transparan, tidak dipisahkan antara asset pribadi dan asset jama’ah, tidak teraudit oleh lembaga yang semestinya)

ii. Tidak adil dalam menangani berbagai kasus personal maupun struktural

iii. Membiarkan kultus individu terhadap diri ketika tidak memveto perubahan AD/ART yang merubah masa jabatan qiyadah dari “maksimal dua kali masa jabatan” menjadi “seumur hidup”

iv. Ketidak-konsistenan (ketika ditanya) dalam beberapa isyu; misalnya ketika plin-plan dalam kebijakan soal isyu “terbuka” paska mukernas Bali

v. Banyak menyimpan “hidden agenda” sehingga timbul banyak kesimpang-siuran di kalangan a’dho

Untuk semua ini, terlihat bahkan diqudwah-i oleh sebagian ikhwah di bawah Ustadz sampai ke level-level bawah

  1. Kesalahan dalam penerapan manhaj
    1. Membiarkan gejala kultus individu yang over sehingga tidak ada yang bisa mengontrol MA atas nama rukun bai’at “Taat” dan “Tsiqoh”. Ini berdampak luas, sampai ikhwah menjadi tidak kreatif, jumud dll
    2. Da’wah yang asalnya merupakan gerakan yang syamilah dijadikan gerakan juz’iyyah-siyasiyah, sehingga dampak luas dirasakan masyarakat negeri ini yang kehilangan sosok-sosok da’i penerang ummat para teknokrat yang amanah dan para ilmuan bermanfaat dari posnya masing-masing.
    3. Membangun sistem kepemimpinan terpusat sehingga qiyadah/jamaah sering mengabaikan banyak keputusan-keputusan syuro di berbagai level kepemimpinan dalam jamaah; misal :
      1. Usulan tertentu di level usroh ketika diajukan ke struktur di atasnya tiba-tiba pada level struktur tertentu dicoret begitu saja
      2. Keputusan-keputusan DSP begitu saja ditepis/diabaikan
      3. Keputusan-keputusan MS begitu saja ditepis
      4. Pemira-pemira internal yang tidak aspiratif karena dipenuhi intrik dan pilih kasih

 

  1. Kesalahan dalam kebijakan
  2. Proses pendirian Hizib tidak disertai SWOT-UP memadai. Terbukti sekarang menimbulkan kebijakan yang High Cost (secara finansial) dan High Energy (secara SDM) . Di antara dampak yang timbul: komunitas-komunitas yang tadinya da’wah kita kuat menjadi melemah bahkan lepas; seperti kampus misalnya.
  3. Penempatan SDM di tempat-tempat rawan pdhl mentalnya belum siap menghadapi “talawuts”
  4. Dengan dalih “akselerasi”, proses taqwim menjadi tidak sesuai manhaj alias longgar dan banyak jumlah pertambahan tapi kualitas kader jauh di bawah standar. Sangat dikhawatirkan masuknya jassus, fasik, orang-orang yang tidak ikhlas dll.
  5. Tidak diperhatikannya Tarbiyah sehingga akhlaq banyak a’dho menjadi bermasalah pada gilirannya ini merugikan wajah dakwah kita di masyarakat dan menurunkan tsiqoh obyek dakwah.
  6. Lemahnya sistem input informasi dari lapangan ke MA sebagai dasar pembuat kebijakan; misalnya kasus penetapan lokasi penyelenggaraan mukernas di Bali diyakini qiyadah sbagai “no problem” pdhl banyak a’dhi bingung, berkeberatan,resah sampai tersinggung.

 

3. BUKTI MEROSOTNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT KEPADA KITA SEBAGAI PARTAI DAKWAH

  1. Akibat ulah beberapa orang a’dho dalam sepak terjang atas nama Jama’ah maupun sepak terjang dalam urusan pribadi, telah tersebar rumor-rumor negatif mutawatir yang bisa dibagi dalam beberapa judul :

- Dalam masalah tender-tender di departemen yang diambil dengan tidak adil

- Dalam masalah utang piutang yang tidak mau dibayar, dan jika ditanya selalu dijawab: “Ah ini kan untuk perjuangan, jihad, masa antum gak mau nyumbang ?”

- Dalam manuver ke media massa yang dengan mudah mengeluarkan statement yang belum pernah disepakati.

- Dalam masalah perilaku a’dho yang menyangkut masalah akhlak, khususnya maslah ta’adud dengan cara yang jauh dari ahsan, pergaulan dengan person-person yang dikenal masyarakat sebagai gembong-gembong fajir dll

  1. Adanya manuver secara jama’iyan maupun kelembagaan yang menimbulkan keresahan masyarakat, misalnya:

- Dalam masalah proses lepasnya BUMN-BUMN penting dari pengelolaan negara

- Dalam peluncuran berbagai kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan penderitaan rakyat, misal kasus naiknya BBM

- Dalam sepak terjang berbagai Pilkada yang sarat isyu, sejak dari pemilihan partner musyarokahnya, sampai pemilihan person dari luar yang sama sekali tidak sejalan dengan visi-misi sosok Partai Dakwah, bahkan sampai isyu politik uang untuk menang.

- Yang paling besar dan berbahasa isyunya akhir-akhir ini adalah masalah “perdagangan musyarokah” dengan angka-angka yang fantastis dan disaksikan oleh orang-orang luar yang menjadi brokernya. Mereka semua (orang luar yang pernah terlibat atau pernah menyaksikan berbagai transaksi tanpa bukti tersebut) laa samahAllah dapat saja menjadi saksi hukum untuk menggugat Partai, Jama’ah dan bahkan MA.

Semua contoh-contoh di atas bahkan sudah luas dibicarakan di koran, internet, sms dan komunitas-komunitas. Banyak a’dho yang menceritakan digugat keluarga besarnya dengan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah tersebut, dan tak ada a’dho yang bisa memberi jawaban yang mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang.

Beberapa tokoh masyarakat di level daerah sampai nasional karena kekecewaaannya, sudah menarik dukungan morilnya dari PKS. Di masyarakat sudah banyak yang menganggap PKS sebagai Partai Podo Wae (Partai sama saja), artinya sama saja dengan Partai-Partai lama yang terkenal korup dan main politik uang.

Carut marutnya wajah dakwah kita yang tampak di luar ini, telah amat banyak merugikan dakwah. Banyak muayyid yang berhenti halaqoh karena tidak lagi tsiqoh.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

 

PERMINTAAN KAMI

1. Ishlah dalam bab QUDWAH

  1. Melakukan AUDIT atas keluar-masuknya uang baik yang diterima Ustadz selaku pribadi maupun a’dho-a’dho yang dalam jangkauan wewenang Ustadz.
  2. Tegakkan keadilan seadil-adilnya dalam menangani kasus-kasus pribadi maupun struktural, tanpa pandang bulu, agar rasa keadilan tumbuh di tengah ikhwah. Termasuk agar a’dho yang terlanjur “merasa” ataupun memang terzholimi terobati rasa keadilannya. [iv] Penting untuk merangkai kembali benang-benang ukhuwwah yang sudah kusut dan rusak karena kesalahan2 ini.
  3. Mengembalikan klausul AD/ART jama’ah yang menyangkut bab “lama masa jabatan”. Hendaknya dikembalikan dari “seumur hidup” menjadi “maksimal dua kali masa jabatan”
  4. Hentikan/taubat dari semua bentuk “kebohongan publik”. Hormati mekanisme struktur yang berlaku walaupun tidak sesuai dengan aspirasi pribadi MA.
  5. Menjelaskan lalu berhenti melakukan move-move yang bisa diartikan sebagai “hidden agenda”.

2. Ishlah dalam bab Kesalahan Penerapan Manhaj

  1. Hentikan kultur “kultus individu” dengan membangun “kultur kesetaraan”. Ingat ucapan sahabat Rib’iy bin Amir “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”
  2. Cabut kebijakan/qoror Al-Hizb huwa Al-Jama’ah wal Jama’ah hiyal Al-Hizb sehingga da’wah kembali menjadi gerakan syamilah BUKAN juz’iyyah-siyasiyah. Juga memastikan bahwa setiap SDM berada di pos masing-masing yang memang sesuai keahliannya, termasuk di Hizb (jika masih akan diteruskan) dipastikan yang berada di sana adalah yang sudah ditaqwim Insya Allah kompeten dalam semua hal di bidang itu.
  3. Lakukan perubahan-perubahan struktural yang memastikan jamaah bergerak ke arah menjadi suatu system yang benar-benar Islami. Ganti budaya yang sempat mengandung nilai-nilai otoriter menjadi egaliter; terpusat menjadi terstruktur; monolitik-homogen menjadi dinamis-heterogen; top-down approach menjadi iklim dialog (two-way traffic); passive atmosphere menjadi creative-interactive culture

3. Ishlah dalam Bab Kesalahan Kebijakan

  1. Walaupun terlambat bikin riset ilmiah-obyektif untuk men-SWOT-UP keadaan internal jama’ah untuk memastikan apakah masih perlu dipertahankan adanya partai –yang menjadi sayap jama’ah- atau jama’ah sebaiknya berjalan cukup sebagai ORMAS tanpa perlu adanya partai politik.
  2. Bersihkan a’dho-a’dho bermasalah dari posisi-posisi strategis dan proses mereka secara hukum (internal jama’ah) dengan semangat mentarbiyyah. Kemudian memastikan bahwa setiap SDM jamaah memang telah siap secara utuh di posnya masing-masing terlebih jika pos tersebut rawan talawuts.
  3. Melakukan penempatan posisi sesuai dengan konsep Proyeksi-Promosi-Nominasi sehingga tidak ada lagi yang “terlalu cepat” naik sampai menimbulkan dampak penyimpangan akibat belum siap memikul beban yang diberikan mendadak.
  4. Tegakkan prosedur dan standar taqwim dalam recruitment a’dho secara disiplin sesuai manhaj, dengan tidak lagi mengejar target jumlah, apalagi sekedar target suara pemilu.
  5. Kembalikan budaya hubbul ‘ilmi wa ats-tsaqofah di dalam jama’ah dengan menyelenggarakan, menghidupkan dan menyemarakkan tarbiyah di semua level keanggotan a’dho. Semoga dengan demikian wahdatul aqidah, wahdatul fikroh dan wahdatul akhlaq wal manhaj menjadi tolok ukur baik-buruknya jamaah.
  6. Efektifkan dua jalur yakni “formal-struktural” dan “incognito” dalam mengelola sistem input informasi dan masukan sebagai dasar membuat kebijakan. Ingat khalifah Umar ibnul Khattab yang sangat sering “turba mendadak dan menyaru.”

 

Khotimah :

Besar harapan kami agar Allah SWT berkenan membuka hati kita semua dan hati Ustadz agar jama’ah ini kembali bersinar menjadi “darah baru bagi ummat ini”, di tengah keterpurukan bangsa Indonesia di titik terendahnya saat ini.

Besar pula harapan kami pada Allah SWT agar Allah Menyirami hati kami semua dan hati Ustadz dengan kasih sayang al-hubbu fillah satu sama lain sehingga perbedaan-perbedaan pendapat dapat disikapi sebagai kekayaan wacana daripada dianggap sebagai persaingan apalagi permusuhan.

Besar pula harapan kami agar Allah SWT berkenan Menjaga, Melindungi, dan Mengobati hati kami semua dan hati Ustadz dari godaan dan bisikan-bisikan syetan, musuh besar penipu dan pemecah belah manusia; sehingga hati-hati kita dibersihkan sebersih-bersihnya dari berbagai niat-niat yang tidak ikhlas kepada Allah SWT.

Rabu, 26 Maret 2008

Kami yang ditakdirkan Allah berkumpul 23 Maret[v] :

Ustadz Prof DR Didin Hafiduddin

Ustadz Dr Satori Ismail

Ustadz Dr Ahzami Sami’un Jazuli

Ustadz Dr Daud Rasyid Sitorus

Al Akh Mutammimul Ula, SH

Al Akh Mashadi

Al Akh Tizar Zein

Al Akh Ihsan Tandjung

Ukht Siti Aisyah Nurmi



[i] Contoh yang paling besar dan nyata adalah penganuliran hasil syuro pilpres 2004, yang seharusnya jama’ah mendukung Amien Rais diubah ke mendukung Wiranto.

[ii] Seperti dana-dana yang diambil saat pilkada maupun pilpres dengan alasan mahar politik.

[iii] Seperti aset tanah dan bangunan di Lembang, yang dimasukkan dalam aset pribadi padahal dibeli dengan dana jama’ah.

[iv] Diantaranya adalah kasus ust Yusuf Supendi yang telah dituduh mengambil uang jama’ah di depan sidang majelis syuro, tanpa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.

[v] Bagi yang tidak percaya dengan otensitas dokumen ini silahkan tabayyun kepada Ustadz/ah yang disebutkan namanya di dokumen ini. Mereka lah yang hadir di pertemuan Ibnu Khaldun 23 Maret 2008 dan hadir ke Lembang di tanggal 28 nya. Saat surat ini dibacakan, ustadz Hilmi merah mukanya, menahan amarah. Beliau mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah ada lagi nasehat yang ingin disampaikan. Namun sepekan setelah surat ini disampaikan, mereka yang menyampaikan nasihat ini diib’ad/diisolir. Tidak boleh ikut usroh. Dan sebagian besar dari mereka akhirnya dipecat.


Posting ini merupakan REBLOG dari TARBIYAHBUKANPKS. Isinya tidak diubah sedikitpun.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...