Thursday, February 11, 2016

Mumpung Isu Valentine Lagi Ketutup Sama Isu LGBT

Hae adek-adek yang lucu, manis dan ca'em. Iya, kamu yang masih cekoyah, atau SMA. Apa kabar? Baik? Sehat? Keuangan terjamin? Ooo tentu saja. Yakan, yakan, yakan?


Gimana, udah ada rencana mau ngerayain Valentine dimana? Mumpung sekarang para orangtua lagi sibuk dengan isu LGBT, sekarang saatnya kamu merayakan Valentine, tanpa takut digrebek! Bener! Biasanya kan tiap tahun kalo Valentine-an itu kamu yang berpasangan cowok-cewek jadi target tuh. Tahun ini mah enggak, bahkan mungkin kalian akan di-encourage untuk tetap berhubungan. Boleh nge-seks juga lho! Daripada jadi homo? Yakan, yakan, yakan?

Nggak, gw gak bakalan membuat "kampanye" LGBT atau apapun. Muales banget. Soalnya gw masih bingung dengan standar moral di Indonesia. Mungkin suatu saat akan gw tulis di PanasEuy. Tapi itupun masih belum niat gw-nya.

Kembali ke masalah Valentine, udah ada rencana? Udah beli cokelat? Udah pesen hotel?

Ckiiiit... wait. Hotel? Iya, buat ngeseks. Karena menurut orangtuamu, perayaan Valentine itu identik dengan seks bebas. Yayang yayangan, cuddle-cuddle-an, bikin anak. Pokoknya kegiatan berlendir-lendir yang memuaskan itulah.

Tapi kan seks itu...

Stop right there. Gw nggak mau ngomongin agama. Dan gw nggak mau ngebahas hubungan Valentine dengan agama seperti blog blog lainnya. Soalnya agamamu, bukan urusanku, Yakan? Sip? Ok.

Jadi... boleh dong ngeseks pas nge-rayain Valentine?


Boleh... kata sapa enggak? Gw penganut kampanye love daripada war. Bukan seperti KPI yang menyensor dada tupai, tapi membiarkan darah darah. Tapi... ada tapinya. Sudah tau belum konsekuensinya?

Hamil.

Yakin? Dah gitu aja?

Yap betul, kemungkinan akibat dari seks, kalo antar cowok dan cewek, itu hamil. Itu konsekuensi yang probability-nya cukup gede lho. Nah kalo udah hamil gimana? Ada dua, ya nunggu 9 bulan sampe nge-lahirin, atau aborsi. Karena gw menganggap aborsi akibat ngeseks sembarangan adalah tindakan pengecut, maka gw akan bahas yang kemudian bayi-nya dilahirin aja.

Lalu kalo udah lahir gimana? Ya kasih ASI lah. Kasih makan, kasih minum, makin besar harus ngasih "penghidupan yang layak". Intinya kamu harus jadi orangtua atas apa yang sudah kamu perbuat. Sudah kebayang? Belum? Kalo belum juga, yuk dicoba tengok dari segi ekonomi. Kamu dapet uang makan dan transport buat sekolah berapa sekarang? 20 ribu sehari? 30 ribu? Dari siapa? Kalo misal itu duit usahamu sendiri, ya bagus deh.

Oh iya, kalo kamu sukses menghamili atau dihamili, kamu harus nikah loh.

Kalo kamu belum pernah ngurus keuangan rumah tangga, kamu mungkin belum tau berapa besaran pengeluaran rumah tangga minimum untuk 1 orang. Iya satu orang, karena gw sendiri belum ber-rumah tangga.

Gw hidup di sebuah rumah, dengan listrik 900W, satu buah komputer, hp, tivi, kulkas, penanak nasi dan utrik utrik lainnya. Biaya listrik gw, sekitar 100rb per bulan. Itu disubsidi negara loh, nanti bulan juli katanya subsidi bakalan dicabut dan dialihkan ke pemegang KIS, dan gw expect bayar tagihan sekitar 140 hingga 150rb per bulan. Air? 28rb. Telepon dan Internet? 200 ribu. Asuransi kesehatan 28rb. RT? 5rb. Total total 400-450rb buat tagihan sebulan. Ini belum termasuk makanan dan transportasi dan usrek utrik lainnya loh.

Pokoknya habis lah 800-900rb sebulan.

Dan itu di kota kecil.

Bayangkan kamu sekarang yang di koat besar. Kamu sukses dihamili atau menghamili. Dan belum kerja sama sekali. Darimana kamu bayar biaya persalinan, biaya pengobatan, biaya perawatan anakmu?

Indonesia, toleransinya masih sebatas tertulis di buku Pendidikan Kewarganegaraan aja. Kalo kalian lihat sekarang LGBT sedang heboh dan dihujat, kamu pikir orang yang hamil/menghamili di luar nikah enggak? Apalagi ketauan lahirnya pas sekitar akhir bulan November. Karena itu hampir pasti hasil hubungan seks-mu di hari Valentine.

Kalo kamu sukses menghamili / dihamili di luar nikah apalagi di bawah umur, apa yang kira kira akan terjadi? Biasanya nih ya... Orangtuamu akan menyesal dan ngeliat kamu dengan pandangan yang berbeda. Kalo kamu sekolah di sekolah negeri kamu akan dikeluarkan dari sekolah, soalnya kehamilan siswa itu aib bagi sekolah. Bullshit dengan "pendidikan untuk semua". Lalu kamu mau ngelamar kerja? Emang tingkat pendidikanmu apa? Lulus SMP? Ndak bakal dapet kerja yang bisa nutup biaya hari hari buat 2 orang. Apalagi ada bayi.

Mau ngelanjutin sekolah? Maap, kalo ada sekolah swasta yang masih mau menerima "kecacatan" pada dirimu, mungkin kamu harus bayar mahal. Atau kamu terpaksa ngambil Kejar Paket B atau C. Yang sama juga kurang laku di dunia kerja. Lupakan PNS, TNI, Polri. Mereka gak mau terima kamu.

Kemudian kamu hidup dari bantuan orang tua, dan mengambil beberapa subsidi pemerintah. Sekolah Vokasi atau Kartu Miskin misalnya. Padahal sebelum kamu dihamili atau menghamili, kamu rajin nulis statua anti pemerintah, nggak mau bayar pajak, ngomel kalo pemerintah mau memungut pajak dari aturan baru, kilapah lebih baik, dan sebagainya. Tapi kamu sendiri memperberat beban negara dengan bikin anak belum waktunya, lalu kemudian negara harus nyubsidi akibat dari kelakuan-mu. Inget pajak diambil dari masyarakat kayak kamu kamu juga, artinya bayimu disubsidi masyarakat.

Nggak malu?

Konsekuensi dari seks itu nggak sekedar hamil dan nggak sekedar penyakit. Diluar alasan alasan agama, dan psikologi, entah kenapa alasan ekonomi dari nge-seks itu paling jarang diomongin.

Tenang ada kondom.

Ya silahkan berdoa, mudah mudahan kondomnya gak bocor pas lagi gesek gesek enak.

Oke? yak cukup sekian. Selamat merayakan Valentine, dan bersyukurlah tahun ini kalian nggak ada dalam radar.

No comments:

Post a Comment

Apa yang kamu pikirkan tentang post diatas? Omongin aja, jangan malu malu.

Tapi...
- Ga terima iklan colongan, komen yang bener dan sesuai dengan artikel.
- Kualitas diatas kuantitas, gw gak bisa terima komentar 'one liner' yang cuma buat masang URL
- Gak ngerti artikelnya, gak usah komen.
- be nice, gw gak ngomersilin blog ini, jadi jangan manfaatin blog ini buat tawarin diri/barang lo.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...